Friday, July 13, 2012

Friday's Recommendation #1 : On The Island

Sudah lama sebenarnya saya ingin ikutan meme yang diselenggarakan di blog-blog BBI.
Tapi ndak berani karena takutnya gak bisa commit.

Masalahnya, ide meme dari Ren, pemilik Ren's Little Corner ini terlalu menarik untuk dilewatkan. Jadi saya memberanikan diri untuk ikutan.

Meme yang diberi judul Friday's Recommendation ini mempunyai aturan sebagai berikut :

1. Pilih jenis rekomendasi buku. Ada dua jenis rekomendasi, yang pertama dan sifatnya mutlak adalah Rekomendasi Buku untuk Diterjemahkan . Jika tidak ada buku yang direkomendasikan untuk diterjemahkan, maka bisa memilih pilihan kedua, Rekomendasi Buku Pilihan. Disini rekomendasikan buku yang paling kamu suka baca dalam minggu ini.

2. Pilih hanya 1 (satu) buku untuk direkomendasikan. Tidak boleh lebih.

3. Beri sinopsis, genre buku dan alasan kenapa kamu merekomendasikan buku itu.

4. Blogger yang sudah membuat memenya, jangan lupa menaruh link ke blog di daftar linky di bagian paling bawah post ini, sehingga pembaca bisa blog walking.

5. Untuk pembaca blog yang tidak punya blog, bisa menulis rekomendasinya di kolom komen.

Dan untuk minggu ini, saya merekomendasikan buku ini untuk diterjemahkan :


On The Island by Tracey  Garvis - Graves
Genre : Young Adult, Drama

Sinopsis : When thirty-year-old English teacher Anna Emerson is offered a job tutoring T.J. Callahan at his family's summer rental in the Maldives, she accepts without hesitation; a working vacation on a tropical island trumps the library any day.

T.J. Callahan has no desire to leave town, not that anyone asked him. He's almost seventeen and if having cancer wasn't bad enough, now he has to spend his first summer in remission with his family - and a stack of overdue assignments - instead of his friends.

Anna and T.J. are en route to join T.J.'s family in the Maldives when the pilot of their seaplane suffers a fatal heart attack and crash-lands in the Indian Ocean. Adrift in shark-infested waters, their life jackets keep them afloat until they make it to the shore of an uninhabited island. Now Anna and T.J. just want to survive and they must work together to obtain water, food, fire, and shelter. Their basic needs might be met but as the days turn to weeks, and then months, the castaways encounter plenty of other obstacles, including violent tropical storms, the many dangers lurking in the sea, and the possibility that T.J.'s cancer could return. As T.J. celebrates yet another birthday on the island, Anna begins to wonder if the biggest challenge of all might be living with a boy who is gradually becoming a man


Alasan kenapa saya mengharap buku ini diterjemahkan selain karena ratingnya tinggi di Goodreads (nembus angka 4, bo!) juga karena ceritanya menarik. Tentang sepasang manusia yang terdampar di pulau terpencil, bagaimana mereka bertahan hidup. Juga tentang cinta berbeda usia dimana ceweknya lebih tua. Wuaa...menarik! Saya sudah membayangkan konflik emosi di antara kedua tokohnya, juga konflik yang didapat dari tentangan masyarakat. Dan kalo mengacu dari review di Goodreads, tampaknya bayangan saya benar. Selain itu genre YA kan lagi booming.

Yang lebih senang lagi, buku ini bukan seri, cuma 1 judul ini aja. Rata-rata buku YA kan berseri. Jadi seneng kalo nemu buku YA bagus yang gak berseri.

Nah itu rekomendasi saya untuk Jumat pertama ini. Gimana dengan kamu?
Oh ya...Jangan lupa kunjungi blog Ren dan baca-baca rekomendasi peserta meme lainnya

  

Thursday, July 12, 2012

Memory & Destiny

Judul : Memory & Destiny
Penulis : Yunisa KD
Tahun Terbit : 2010
ISBN 13 : 9789792256581
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Review di bawah ini adalah review dari buku yang boring, garing dan berasa hawa narsisnya. Untuk menyesuaikan dengan nuansa buku, maka review ini juga bakal boring, garing dan penuh dengan ke-narsis-an reviewernya. *dikeplak sampai Timbuktu*

Heck! I lied. Ini bahkan bukan review. Karena banyak teman goodreads tercintah yang sudah memberikan review yang lebih komprehensif, maka saya mo nyinyir dan narsis aja. #bhihik
Oh dan curhatan ini meng-exclude yang sudah disebut dalam repiu-repiu sebelumnya.

Kalo anda ngerasa punya kerjaan yang lebih penting, ya silakan dilanjut.
Tapi kalo masih mo baca juga, yaaa...derita loe itu sih.

Kata Ibu saya sih, saya tuh mirip kucing. Bukan dari segi manja dan ndusel-nduselnya kucing, tapi dari segi kepo. Iya, Ibu saya emang mengacu pada kalimat femes ini : "Curiosity kills a cat", soalnya saya emang kepo banget. Saya gak tahu apa bener kepo bisa ngebunuh kucing. Yang saya tahu sih, rasa kepo memang beberapa kali hampir mencelakakan saya.

Semasa kecil, saya adalah anak yang selalu penasaran membuktikan omongan orang. So kalo dibilangin : "Jangan main piso, kalo kena tangan bisa berdarah, sakit."
Saya malah sengaja ngiris tuh piso ke tangan saya, penasaran aja apa bener bisa berdarah dan sakit. Eitss...ini bukan masokisss yaaa. Harap dibedakan! (*defense mechanism sebelum dituduh*).

Dan kekepoan itu udah bikin saya sengaja menyetrumkan diri, menabrakkan badan ke bemo kemudian angkot (karena pake bemo berasa kurang hardcore), ampe sengaja lompat dari atap rumah hanya untuk tahu apakah terjun dari atap tuh beneran bisa bikin patah kaki. Etapi waktu itu ada kasur sih di tanah. Ya saya kan cuma kepo dan bukan bego.
Untunglah makin gede makin berkurang kepo saya.

Kepo bahaya saya yang terakhir terjadi beberapa tahun yang lalu waktu baru lulus kuliah.
Saya dapat pasien percobaan bunuh diri dengan minum Baygon. Setelah si pasien stabil, saya ngobrol sama dia : "Bu, Baygon rasanya kayak apa?"
"Pait banget, dok."
"Oya? Lebih pait mana sama brotowali?"
(Yup, menurut saya brotowali itu substansi terpait di muka bumi ini. Yaa...tapi masih lebih pait waktu pacar ditikung sahabat sendiri sih. Itu mah paiiitt...pait...pait...paiitt, Jenderal! *Ups...mendadak curcol* #YaMaap)
"Jauh lebih pait Baygon, dok," jawab si ibu.

Rasa kepo saya pun terusik. Masak iya paitnya Baygon bisa ngalahin brotowali?
Jadi pas balik ke kamar jaga, saya ngambil kaleng Baygon, semprotin ke ujung jari saya dan langsung ngemut si jari imut #heyitsrhyme #sakarepmulah
Rasanya?
Beneran pait ternyata. Lebih pait dari brotowali. Dan lebih gak enak juga karena selain pait juga berasa kecut dan sepat. Walo yah...masih lebih pait waktu pacar ditikung sahabat sih. #TeteupCurcol Photobucket
Jadi yah teman-teman, buat yang patah hati dan berpikir minum Baygon, saran saya : JANGAN! Percuma soalnya. Paitnya gak ilang juga. Coba minum spiritus ato minyak tanah gitu. You're welcome, bye the way.

Lalu apa hubungannya buku ini dengan cerita di atas? Gak ada sih.
Saya kan cuma pengen pamer aja kalo saya tahu rasanya Baygon dan kalian nggak. Hohohohoho..... #TertawaLaknatDiPinggirKawah #LaluDitendyang

Yah rasa kepo saya bangkit lagi kemaren gara-gara buku ini.
Kata penulisnya sih, baca buku ini kudu punya banyak syarat. Misalnya open minded yang mana gak masalah buat saya. Buka hati aja saya gak segan, apalagi cuma buka pikiran (iya...saya tahu ini garing).
Trus juga kudu suka Broadway. Bukan masalah juga sih, secara saya rajin ikutan Broadway aka Beronda With Style (iyaa...iyaaa..saya tahu ini maksa dan garing.)
Dan yang paling penting harus berotak prima. Uhm...yang ini agak susah. Saya sih dari kecil udah doyan nenggak minyak goreng cap Prima, tapi gak tau ya apa itu berpengaruh pada otak saya ato ndak. Let's see aja deh ya.

Novel ini dimulai dari Donald yang terbangun pada pagi pernikahannya di London. Sayang di tengah jalan mobil yang ditumpangi bersama tunangan dan sahabatnya mengalami kecelakaan. Sementara kedua orang lain meninggal, Donald koma dan jadi...eng...arwah gentayangan gitu?
Di hari yang sama, Donald bertemu Maroon kecil di Westminter Abbey. Destiny menentukan cuma Maroon yang bisa melihat Donald (Demyu Destiny!). Akhirnya Donald pun ngikutin Maroon ke Jakarta dan jadi teman belajar dan bermainnya.

Lalu Donald menghilang dan cerita berpindah 10 tahun ke depan. Maroon udah jadi dokter...trus diikuti adegan2 gak penting...hingga Maroon kuliah ke Singapur. Disana secara gak sengaja dia ketemu lagi sama Donald dan langsung ngerasa ada chemistry di antara mereka.
Baru kenalan bentar, destiny mengatur Maroon kecelakaan, kehilangan ayah dan jadi amnesia (bangke emang si destiny ini). Donaldnya sih tetap support Maroon, tapi Maroonnya gak mau. Digebahlah si Donald pergi.
Dan David pun memasuki hidup Maroon.
Cerita bergulir pada sejumlah adegan gak penting lainnya yang berkutat di PDKTnya David dan rese-nya Maroon di topik "kok-loe-suka-sama-cewe-amnesia-kayak-gw".
Sampe akhirnya Maroon bisa ingat lagi, tendang David (sukurin! Emang enak dijadiin back up! #SumpahBukanCurcol #BenerBenerBukanLho) lalu ngejar Donald ke Singapoh.

Selesaikah penderitaan pembaca?
Oho...TIDAK!
Penulis masih betah nyiksa pembacanya. Itu cerita diputer lagi. Untuk ditutup dengan ending yang ehm...garing.

Apa yang bikin saya mentahbiskan buku ini sebagai buku kacrut?
Banyak hal sih. Saya ampe bingung mo bahas yang mana dulu. Coba kita mulai dengan :

1. Gaya bahasa yang jadul buanget. Bahkan lebih jadul dari jaman Maria A Sardjono. Sejaman dengan angkatan Balai Pustaka kali. Bedanya kalo para sastrawan Balai Pustaka merangkai dengan indah, yang ini berasa...basi
Contohnya :
"Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhan lah yang terlaksana."
"Selalu saja ada berkat di balik kenestapaan kehidupan yang pekat."
"Meluncurkan panah asmara langsung ke jantung sasarannya."
"...terasa seperti ditusuk sembilu."


Dear Miss Yunisa, I suggest you to time travel to 70's and publish your book there when these words were last used. I'm so sure it's gonna be a big hit back then. And you could torment the milennium kids for having to read and review your book as one of the best literatur ever.
No need to thank me for this wonderful idea, bye the way.

2. Dialog yang keju banget. Keju bakar disiram saos keju dan dikasi taburan keju pun bahkan masih kalah keju dibanding ini. (Mungkin) Rencananya mau bikin bahasa yang niatnya romantis, tapi jatohnya jadi picisan.
Misalnya :
"Gadis yang di matanya bisa kulihat api kehidupanku."
 ===> Eciyeee...api kehidupan lhooo. #disemburNaga

"Dari matanya aku juga bisa melihat masa depan."
==> Coba dicek, situ lagi ngeliat mata orang ato liat bola kristal sebenernya?

"Maroon, kau lebih cantik daripada selusin mawar ini."
==> Aduh mas, rayuannya basi sekali! Pantes ditinggalin.

Seakan kekejuan itu belum cukup, penulis hobi banget masukin lirik lagu yang gak nyambung di tengah percakapan yang (harusnya) serius.
Seperti ini:
"Toh, kalau Donald memang jodohku, somehow, One way or another, I'm gonna see ya, I'm gonna meet ya, meet ya, meet ya seperti lagunya Blondie."
ato
"Mungkin sekarang Donald memang belum jodohku. Jadi buat apa susah? Buat apa susah? Susah itu tak ada gunanya..."

Yeah epribodih, it's #tepokjidat moment.
Photobucket

Masih ditambah pula kalimat yang gak nyambung di otak saya seperti :

"Tinggal sebulan sebelum hari ulang tahunku. Tapi mimpi burukku sudah dimulai hari ini."
===> Maksudnya si tokoh punya tradisi klo dia mimpi buruk tiap ultah dan khusus tahun ini mimpi buruk dimulai sebulan sebelumnya? Apa sih makna "Tapi" di kalimat itu?

Juga penggunaan istilah yang gak tepat seperti ini :
"Mirip George clooney saja, tua - tua kelapa, makin tua makin membuat cewek tergila-gila!"
====> Keladi kaliiiii, mbaaakkkk. Kelapa tua sih jatohnya jadi santan doang.
Dan menyangkut santan, jadi inget kejadian waktu masih di puskesmas.
Ada teman kerja umur 18 tahun yang bakal nikah dengan duda cerai 5x berumur 60an tahun.
Namanya juga desa. Kejadian kayak gini ya dibahas lah. Dan seorang perawat berkomentar : "Kenapa X mo kawin deng Pak Y ya? Barang su seng enak itu. Su terlalu sering diperas. Seng bisa lai jadi anak karna terlalu encer. Cuma bisa dipake jadi santan saja."
Yeah...DEYM HER! I could never see santan the same way again since that. Photobucket

Eh kok jadi ngelantur ke santan? Mbak Yunisa sih bawa-bawa kelapa.
Pokoknya masih banyak kalimat-kalimat ajaib lainnya yang kalo mo saya tulis disini sama aja dengan nulis ulang nih novel di gudrit. Saya persilakan anda baca sendiri aja ya. Good luck lho. Photobucket

3. Homofobia

I'm a faghag. Karenanya saya terganggu dengan sentimen dan prasangka negatif tentang gay yang ada di buku ini. Oke...saya tahu kalo penulis anti gay, itu hak dia.
Tapi gak perlu bikin prejudice yang malah nunjukkin dia kurang paham dunia itu.
Misalnya ketika tokoh Sharon keheranan kenapa sepupunya Wiro yang gay itu bisa disukai orang tua sahabatnya. Ih...gak nyadar ya gay itu likeable banget. Matt Bomer anyone? Neil Patrick Harris? Sir Ian McKellen? Dan...Albus Dumbledore! Yeah!!!

Yang bikin gemes juga waktu secara tersirat dibilang kalo gay itu gak jantan.
Heh? Kata sapa? Siapa pun yang berpendapat gay itu gak jantan boleh coba adu tinju sama Mark Leduc (ya tapi waktu si Mark masih muda sih) ato adu dunk sama John Amaechi.
Hah? Apa? Gak tau Mark Leduc dan Amaechi? Ih kacian tekali. #MenatapIba
Intinya kalo ada yang bilang gay itu gak jantan, pasti pengetahuannya tentang gay mentok sampe ke Olga doang #ups #dicakarpensnyaOlga #runrunfast #kepelukanMattBomer
Photobucket

4.Too much information (yang gak penting)

Mungkin buat penulis, disinilah point plus novelnya. Buat saya sih fakta ini malah gengges. Ya walopun saya akuin membaca penjelasan penulis bikin saya mo ketawa dan bilang "pffttt".
Contohnya waktu penulis ngasi tahu kalo rambut palsu itu wig, ato waktu penulis dengan baik hati menjelaskan kepada pembaca (via Maroon tentunya) bahwa cara terbaik PDKT ke cewe dimulai dari keluarganya dulu (pffttt lagi).

Tapi dari semua penjelasan penulis, gak ada yang ngalahin epiknya penjelasan beliau (cieee....beliauuu) waktu ngejelasin tentang bride's maid dan best man. Demi untuk menjelaskan arti kedua kata itu serta siapa yang biasanya dapat peran kehormatan tersebut, penulis menghabiskan tak kurang dari -wait for it- 1 paragraf. #tepokjidat #ampejenong Photobucket

Ketika Yunisa dengan yakinnya berpendapat bahwa novelnya akan abadi sampai 100 tahun ke depan, dan bahwa orang di masa depan akan berpikir : "Astaga-naga, ternyata Yunisa, tahun 2006-dst udah memikirkan dan mengamati hal yang sama!", pasti yang dimaksud adalah bagian ini.

Saya bisa ngebayangin, tahun 2110 nanti, dalam sebuah kelas Literatur Fiksi, akan ada seorang guru yang berkata seperti ini :
"Jadi, yang menarik dari novel karangan Yunisa ini adalah pikirannya yang jauh ke depan. Sebagai contoh, istilah best man dan bride's maid yang baru diadopsi ke dalam bahasa Indonesia sekitar 30 tahun yang lalu, sudah digunakan olehnya pada novel yang terbit 100 tahun lalu.
Belum jelas apa istilah yang digunakan orang Indonesia pada jaman novel Yunisa ini terbit. Tapi banyak ahli yakin, di jaman itu orang menyebut bride's maid dan best man sebagai "orang-(berasa)-eksis-yang-berdiri-di-sebelah-pengantin-terus-terusan."
Ya memang orang jaman dulu nggak efektif. Kita harus berterima kasih pada Yunisa yang memperkenalkan istilah ini pertama kali kepada masyarakat Indonesia.
Walaupun ketika novelnya pertama terbit, informasi ini dikritik habis-habisan oleh pereview kurang kerjaan di Goodreads bernama asdewi." (Maap ya teman-teman, ternyata setelah 100 tahun, cuma nama saya yang masih eksis). #DirajamRameRame
(ps : jangan keplak saya, plis. Saya tahu kok ini garing. *muka memelas*)

5. Penggunaan kata "destiny" yang over dosis di novel ini.
Ketemu dan jadi sahabat itu destiny. Gak mau ngajak cewek lain kencan, karena si tokoh menunggu destiny-nya. Besok-besok kebelet ke WC ato laper doang dianggap destiny juga dah. #NyinyirDetected

Dan dari bertaburannya kata "destiny" yang ada di novel ini, 2 peristiwa ini sih yang ngasi momen "pffttt" :
Scene pertama:
"David, kenapa sih kita sering sekali bertemu walau kita tidak janjian?"
"Mungkin itu destiny?"

Bookkk...kalo emang ketemu gak sengaja di berbagai tempat bisa dianggap sebagai destiny, maka gw sama Stramaccioni pastilah destiny. Waktu dia datang ke Jakarta kemarin, kita sering ketemuan gak sengaja gitu. Dari ketemuan di lift ampe ketemuan di dekat toilet.
Jadi dia kah destiny saya? dear God, please make it come true. Mohon segera beri hidayah padanya agar sadar bahwa destiny-nya ada di Jakarta.

Eh bentar...
Waktu liburan ke Bali kemarin, saya juga sering ketemu sama Anang. Saking seringnya ketemu, teman saya ampe mikir kita kualat karena cabut kantor dengan alasan ikut pelatihan dan dikasi balasan berupa siksaan visual yaitu secara konstan ketemu pasangan (yang merasa diri) Kate & Will itu.
Jadi...apakah Anang (ato Ashanty?) akan menjadi destiny saya?
Dear God, I beg You please, dont! Jangan ampe se-mblegedes itu sih, pleaseee. Thank you, God. Amin. Photobucket

Anyhoo, peristiwa ke-2 adalah ketika David beranggapan Maroon destiny-nya karena si Maroon ngomong "Christmas is family time" yang mana adalah kalimat paporit David ke ibunya.

Cyiiiinnn...kalo nyebut ucapan yang sama bisa dianggap destiny, maka ada berapa milyar orang di dunia ini yang jadi destiny saya waktu saya bilang : "Gw lapeeerrr" ato waktu saya bilang : "Kayak ketek badak nih sinyal" ?
Jadi sebenernya destiny saya ada berapa sih? Kok gak ada satu pun yang nongol? Hah? Hah?? Hah??? *dilemparBTS*
(PS : Hei...kamu yang baca review ini, pasti juga pernah ngucapin kalimat di atas kan? Ih berarti kamu juga destiny saya. Hayo atuh buruan pinang saya dengan bismillah dan  sesendok berlian *kedipkedipcentil* Photobucket #LaluDitujesPakeSabretooth)

Masih soal "ucapan-yang-sama-adalah-destiny", di halaman 178 ada part dimana David dan Donald mengucapkan kalimat yang sama. Berarti mereka destiny dong?
Setelah ngantuk maksimal, saya langsung excited pas nyampe di bagian ini.
Huwooww...apa buku ini akan berubah ke gay lit? Photobucket
David dan Donald menyadari bahwa mereka destiny lalu naik kuda bersama menuju matahari terbenam sementara Maroon nangis suwe di belakang? (I also don't know why I had this lame vision).
Woww...Wowww.....Spekta sekali Yunisa ini. Twist yang kueren buanget. Sumpah saya meremehkan kemampuan dia.
Maka dengan semangat saya lanjut baca.
Dan kecewa karena ternyata tebakan saya salah.
Dia kembali ke plot cerita garing ala layar tancap, layar kaca, layar gelasnya dong :s
*pembaca kecewa* #YaMenurutLooooo

6. Karakter-karakternya yang unlikeable

Karakter David dan Donald itu dibikin terlalu sempurna ampe jatohnya malah jadi ilfil. Novel Harlequin aja, yang ceritanya manis banget ampe bikin semut kena diabetes, masih ngasi kekurangan di para tokoh cowoknya. Tokoh yang paling saya suka disini sih Olivia, adiknya Maroon.

Dan tokoh paling nyebelin itu jelaslah : Maroon!
Saya udah mulai ilfil pada tokoh ini sejak halaman 16 ketika terjadi dialog seperti ini antara Maroon dan ibunya :
I : "Di sini sebenarnya kan kuburan."
M : "I know and I'm not scared."
I : "Why?"
M : "Karena aku mau jadi dokter! Dokter kan tidak boleh takut!"


Euh...ada yang salah dari pernyataan itu. Dokter juga manusia kok yang boleh takut. Lagian tuh gelar juga gak bakal ngaruh apa-apa buat kuntilanak.
Kebayang deh kalo waktu ketemu saya bilang : "Oi Kunti, gw gak takut sama loe. Kan gw dokter."
Palingan juga si Kunti jawab : "Ya terus? Masalah buat gw? Buat temen-temen gw? Pfft...please deh, bwok!"
Lalu dia pergi sambil kibas rambut dan geal geol patpat (Ini kunti ato Inem sebenernya?)

Apalagi kalo ketemu Pocong. Bisa ngakak kejang dia kalo saya bilang saya dokter. Si Pocong bakal bilang : "Jadi loe dokter? Huahahaha...kesian banget ya loe. Gw cuma dibungkus kayak lontong gini udah punya puluhan film hits di bioskop. Lah loe, pake jas putih keren gitu, bawa stetoskop mahal-mahal, peran loe paling mentok cuma ngomong : "Maaf kami sudah berusaha maksimal...". Suster malah lebih canggih dari loe. Dia cuma ngesot doang udah bisa nge-hits gitu pelemnya. Huahaha...kasian loe, cuy!"
(PS : Dan sumpah ini bukan curcol. Bener-bener bukan kok! #YaAdaCurcolDikitSih)

Anehnya karakter si Maroon ini, dia gak takut sama kuburan di Westminster Abbey. Tapi takut sama kuburan Cina dan kuburan lokal.
Alasannya?
Karena yang dikuburin di Westminster itu pake pakaian rapi sementara di Indo dibungkus kayak lontong ato pake daster putih.
Bah!!! Dia lupa kalo Count Dracula dan Bloody Mary juga bajunya rapi. Tapi coba aja situ liat, mempan kagak gelar dokter situ kalo ngadepin si Tante Mary yang bedarah-darah itu. #KenapeGwYangSewot

7. Logic check

Sebenernya sih mbak Iyut udah ngebahas tentang logic check-nya. Tapi di blognya penulis menyarankan reviewer untuk logic check dan kasi kontribusi positif ke penulisnya, maka saya berusaha kasi kontribusi ke penulisnya. Mengenai apakah kontribusinya positif ato nggak, biar penulis saja yang menilai.

Ini mengenai 1 part yang belum (ato mungkin gak tega) ditulis sama mbak Iyut.
Part yang dimaksud ada di halaman 39, scene waktu Donald tersadar dari koma. Dan ini petikannya :

"Dokter, dokter, denyut jantung pasien mulai melemah!" perawat berteriak. Dua orang perawat dengan cekatan menyiapkan alat kejut listrik defibrillator...
===> Oh jadi denyut jantung melemah itu didefib ya, mbak? Gak liat dulu pola irama jantungnya gimana?

"...Dokter menempelkan defibrillator di atas dada pasien. Tidak ada reaksi. "Kita ulangi,"..."
===> Bookkk! Di-CPR dulu baru defib lagi. Itu mesin defibnya butuh waktu buat recharge dan sembari nunggu ya di-CPR dong ah.

"Bunyi detak jantung masih rata."
===> Haapppaaahhhh??? Rata anda bilang? Jadi dari tadi pasiennya udah rata alias garis lurus alias asystole? Ya terus kenapa didefib? CPR buruan!
Hiihh...!!! Minta didefib juga nih penulisnya. Photobucket

"Kita coba sekali lagi! Naikkan tegangan!"
===> *tarik napas dalam* Mbak Yunisaaaa, defib itu tegangannya gak dinaikkan. Tentukan aja mo pake defibrillator yang monophasic ato biphasic. Yang bisa dinaikin itu cardioversi. Logic check dong, mbak! Logic check!
*kemudian bengek* *lupa buang napas* *sengaja dijelasin* :p

"...pasien tersentak dan sesaat kemudian detak jantung si pasien perlahan kembali normal...pasien lelaki berwajah tampan itu bangun dari komanya yang panjang."
...
Saya speechless Photobucket.
Saran aja nih mbak penulis, kalo lain kali nekat mo nulis novel yang ada scene emergency-nya, coba kurangi nonton Grey's Anatomy dan Scrubs lalu perbanyak nonton ER ato House.

Sebenarnya ide dasar novel ini lumayan kok. Tapi kenapa eksekusinya bisa begini kacrut adalah misteri yang belum berhasil saya pecahkan.
Untuk nemuin jawabannya, saya mengikuti saran penulis untuk membaca ulang bukunya, karena "semakin dibaca ulang, kesannya jadi beda".

Bener sih apa yang dibilang itu.
Soalnya baca pertama kali bikin saya kasi 1 bintang, nah baca yang kedua malah turun jadi setengah bintang. Kesannya emang beda kok pas dibaca ulang. Semacam jadi makin keliatan garingnya gitu deh.

Sebenernya saya sih mau aja baca ulang untuk yang ketiga, keempat bahkan ampe 10x juga. Masalahnya, itu jatah bintang tinggal dikit. Khawatirnya kalo saya baca ulang tuh bintang malah jadi habis dan saya kudu bikin sistem rating baru.

Ya sebenernya gak papa juga sih bikin sistem rating baru, toh gak ribet juga. Tinggal nambah 1 shelf doang kok. Cuma saya masih bingung nentuin pake rating yang mana, apakah "
Kancut Rating System (pinjem istilahnya SinemaIndonesia)


ato

Eneg Rating System
Photobucket

(btw gambar diambil dari sini. Gak sempet putu sendiri soalnya)

Daripada kelamaan bingung, saya memutuskan menyudahi percobaan baca-ulang ini dan berhenti di 1/2 bintang saja.
Besides, this book worth its half star anyway.
Beneran kok! Coba deh baca blog penulisnya di post berjudul yang kena sensor. Saya sih bersyukur akan keberadaan editor di buku ini. Kalo nggak, entah bakal sepanjang apa review ini.
Jadi setengah bintang itu untuk para editor novel ini.

Bye the way, ampe akhir saya masih gak tau apakah kepo beneran bisa bunuh kucing #MasihNgototBahasKucing. Yang saya tahu, di akhir baca buku ini saya menemukan satu lagi persamaan saya dengan kucing yaitu : Gak ada kapoknya!

Saya juga gitu. Walopun keprimaan otak saya terancam tiap kali baca buku kacrut, tapi saya gak kapok untuk membaca buku kacrut. Karena menulis repiu kacrut sesungguhnya masturbasi otak.
Jadi sampai jumpa di repiu kacrut berikutnya (yang entah kapan).
Salam buku kacrut!

PS :
Terima kasih untuk siapa pun yang sudi membaca curhatan ini ampe akhir.
Maap kalo panjang banget. Saya emang gak jago nulis yang singkat, padat dan jelas. Saya jagonya emang ngoceh kayak gini.
Jadi makasi buat yang tahan baca ampe akhir.
Tapi saya punya pertanyaan buat anda/kalian :

"Anda gak ada kerjaan ya? Ngapain juga buang waktu baca ginian? Mending juga pacaran!
Eh apa anda jomblo? Aduh kacian. Ngenes ya hidupnya, blo?"
Photobucket

#BerlaluDenganSongong
#SambilGandengPacar
#YangAdalahBantal
.....
....
...
..
.


IYAAA...IYAAA...SAYA JUGA JOMBLO! SAYA JUGA NGENES!
PUASSS??? HAH? HAH?? HAH???

BUBAAARRR!!! WHOOSAAAHHHH....

Photobucket

Thursday, June 21, 2012

Heart

Judul buku : Heart
Penulis : Ninit Yunita
Skenario : Armantono
Desain sampul : StarVision dan Jeffri Fernando
Penerbit : Gagas Media
Tebal buku : 168 halaman
Cetakan pertama, April 2006

Bahkan ampe saya nulis review ini, saya masih gak tahu apa sih yang bikin saya sanggup ngabisin novel ini? Padahal novel sebagus Clara's Medal aja masih ke-pending ampe sekarang.

(Mungkin) jawabannya seperti kata Bertrand Russel ini :
“There are two motives for reading a book; one, that you enjoy it; the other, that you can boast about it [on Goodreads].”

Pastinya, kalo menyangkut buku ini saya masuk kategori kedua. #ngunyahsemurhati

Jalan ceritanya singkat aja ya karena saya yakin udah banyak yang tahu juga.
Rachel (di film diperankan Nirina Zubir) dan Farrel (Irwansyah) bersahabat sejak kecil. Rachel naksir Farrel tapi gak berani bilang. Dia cuma curhat ke sebatang pohon dengan cara menuliskan pesannya di pohon itu.
(dia gak punya temen lain selain Farrel apa? Ngapain juga curhat ke pohon? Bahkan curhat ke kucing gang sebelah pun masih lebih mending daripada curhat ke pohon. Minimal kan si kucing bisa bahas curhatan anda dengan kucing tetangga lainnya dan siapa tahu nemu solusi. Lah kalo pohon? Apa sih yang diharapkan dari curhat ke pohon? Apa Rachel berharap angin akan menyampaikan curhatannya ke pohon tetangga? Kalo iya, berarti Rachel lupa akan sinetron fenomenal jaman dulu yang sekaligus memberikan informasi berharga untuk kita yaitu : ANGIN TAK DAPAT MEMBACA). *Buat yang gak ngerti silakan google* *dan saya baru sadar betapa penyebutan judul sinetron itu membuka rahasia umur saya* #dem!

Baiklah...kita balik ke topik sebelum saya mempermalukan diri lebih jauh. Anywaaaayyyy, Farrel naksir sama Luna (acha) dan belakangan baru ketahuan si Luna ini sakit sirosis hepatis yang udah parah banget ampe cuma bisa disembuhin dengan transplantasi hati.
Di sisi lain, Rachel yang patah hati ngeliat kemesraan Farrel-Luna, lari sambil stress ke arah hutan (ato bukit?) sampe akhirnya jatuh terperosok di jurang. Bikin dia harus masuk RS, sampai diamputasi kakinya.
In the end, Rachel memberikan hatinya pada Luna.

Nah sekarang waktunya saya list kejanggalan-kejanggalan di buku ini menurut saya :

1. Luna itu sakit sirosis kan? Gak dibilang sih sirosis kelas apa, tapi kalo dibilang ampe cuma bisa diselamatkan dengan transplantasi hepar, logikanya sih udah masuk ke kelas Child C dong ya. Nah masalahnya, emang penderita sirosis hepatis child C masih "sebagus" itu tampilan fisiknya? Mestinya sih udah ada asites (cairan di perut itu lho), spider nevi, kurus, matanya cekung kayak tengkorak, lemah. Pokoknya gak terlihat sebagus itu ampe si Farrel (cowoknya) gak bisa nyadar kalo si cewe ini gak sehat. Dan pastinya gak bisa diajak makan-makan cantik di pinggir kawah ato dayung-dayung perahu di danau!

2. Adegan makan di pinggir kawah diiringi pemusik itu emang romantis sih. Tapi gak logis, jenderal. Sekurang kerjaan apa sih jasa ekspedisi itu ampe mau-maunya angkat-angkat meja, kursi, makanan2 beserta pemusiknya ke samping kawah? Ini kawaaaahhhh lho yaaaa. Bukan sekedar kaki gunung. Coba bayangkan ada 4 petugas jasa ekspedisi ngangkut2 meja ke pinggir kawah, lalu cengo somewhere nunggu si client kelar makan dan bawa turun lagi itu meja dan kursi-kursi. Dan semua itu cuma karena ada 1 orang cowo kesambet yang entah kenapa mikir makan di pinggir kawah itu jenius! (jenius sih kalo dipikir. Kalo ceweknya ngeselin kan tinggal dilempar ke kawah). Untung saya gak pernah kepikir buka jasa ekspedisi.

3. Si Rachel meninggalnya kenapa sih? Kan kakinya infeksi ya sampe harus diamputasi. Trus udah gitu setelah dirawat beberapa hari, kondisinya makin parah. Kemungkinannya sih sepsis ya.
Nah pertanyaan saya : emang orang sepsis boleh jadi donor? Ampe donor hati lagi. Woy....kalo sebadan2nya aja udah terinfeksi kuman ampe sepsis, hatinya pasti juga kena lah. Dan sejak kapan hati penuh kuman gitu boleh didonorin?

4. Kalo pun orang sepsis boleh jadi donor, emang dikira ngedonor organ itu segampang orang tuker baju?
Banyaaaakkkk tes yang musti dilakukan untuk memastikan hati donor dan resipien bakal compatible. Gak cukup cuma sekedar tes darah aja (itu pun kalo emang bener dilakukan tes darah).
It's like :
"Cuy...hati gw rusak nih. Kudu ditransplan ama yang baru."
"Nyante ma pren. Loe pake hati gw aja. Pasti cocok dah. Wong kita suka ama cowo yang sama. Itu aja artinya kita sehati kan?"
"Cerdas abis loe, cuy."


Itu. Emang. Ide. Tercerdas. Sih. :/

5. Dan anggaplah Rachel dan Luna memang compatible dalam segala hal ampe bisa donor hati, kenapa juga si Rachel mesti meninggal? Transplantasi hati itu gak mesti dari orang meninggal kok. Kalo si Rachel emang niat ngedonorin, dia bisa aja langsung donorin tanpa perlu nunggu ampe jadi sepsis dan hati-nya penuh kuman dooonngg (tetep keukeuh degan teori si Rachel sepsis)

6. Yang paling mengganggu itu : JUDULnyaaaa.....JUDULnyaaaaaaaa. #keselektoa
Itu judul aja udah "Heart" gitu lho. Kenapa pula yang ribet dibahas tentang transplantasi hati? Ini semua orang yang terlibat dalam novel ini (dan juga filmnya) nyadar gak sih kalo heart itu jantung?

Apa?

Heart itu cuma metafora? (eh bener gak istilahnya metafora?)

Tadinya saya juga mikir gitu kok.

Sampe saya ngebaca surat terakhir dari Rachel ke Farrel yang menjelaskan bahwa dia sangat mencintai Farrel dan dia mendonorkan hati-nya ke Luna sebagai bukti kebesaran cintanya. Surat itu pun ditutup dengan kalimat : dengan cara ini "my heart will always be with you".
Dan sampe disitu, saya buru-buru cari kamus. Cuma buat mastiin apakah arti Heart sudah berubah sekarang ini.
Dan ternyata belum sih.
Yang bikin saya mikir, kapan si Rachel ngasi jantungnya ke Farrel?
#riweuh ya saya#

But anyway, saya seriusan berpendapat mestinya keseluruhan cerita diganti aja jadi sakit jantung dan transplantasi jantung. Seenggaknya point 1 dan 5 bisa jadi masuk akal. Dan point 6 ini bahkan gak perlu ada sama sekali.

Mungkin emang awalnya tentang jantung ya. Tapi karena dianggap pasaran, ya diganti hati.

Eaaaa....ngapain juga saya ribet gini masalah judul?
Ya maklum. Namanya juga orang bawel :p

Ninit Yunita bukan penulis jelek kok. Jauh dari itu malah.
Segala kekacrutan yang ada di novel ini gak bisa disalahkan kepada Ninit seorang. Manajer sejenius Jose Mourinho pun bakal nyerah kalo disuruh ngelatih sekumpulan tukang gorengan buat main bola dan memenangkan UCL.
Sama kayak Ninit. Sejenius apapun dia, gak bisa diharapkan novelnya ini bisa jadi spektakuler kalo materi dasarnya aja udah kendor, sekendor celana donal bebek.
Oh wait....donal bebek gak pernah pake celana.
*well now you know why he never wear any pants, rite?*

Kesalahan Ninit adalah mau-maunya menerima job ini. Apa dia menganggapnya sebagai tantangan? Ato karena honornya menggiurkan?
Gak tau dan gak mau tau juga.




Saya masih memberi buku ini rating setengah bintang juga karena menghargai jalinan kalimat dan diksi nya Ninit. Selamat ya, mbak. Seenggaknya dalam hal rating versi saya, novel anda sukses menyamai Breaking Dawn. Tentu saja itu prestasi, karena baru 2 novel yang dapat rating setengah bintang dari saya.

Mbak Ninit, please lain kali lebih selektif lagi dalam menerima tawaran job.
Buku itu seharusnya mencerdaskan bangsa, bukannya ikut menjerumuskan seperti yang sukses dilakukan oleh (kebanyakan) sinetron dan film kita. Apalagi anda termasuk novelis smart yang bisa menggabungkan The art of war dan resep tiramisu dalam 1 novel.

Dan sungguh, dari novel cerdas seperti itu ke novel kancut seperti ini adalah sebuah downgrade yang menyedihkan :'(

Friday, April 27, 2012

Winner Of BBI 1st Giveaway Hop


Banyak....banyak....terima kasih buat semua yang udah ikutan giveaway saya.
Terima kasih juga untuk ketiga host (Okeyzz, Fanda A dan Maya) yang udah punya ide untuk bikin giveaway yang seru ini.

Menurut Rafflecopter, pemenang untuk 1 novel Partikel adalah : Wenny (selamat yaaa).

Dan untuk komentar, well...pilihan saya jatuh pada peserta bernama : Jun. Not the best comment, but somehow his comment moved me to give 1 copy of Partikel to him. So...selamat ya, Jun. Dan berhubung Partikel-nya gak baru (tapi kondisinya terawat baik kok) kamu berhak memilih 1 lagi novel lokal (dgn harga maksimal IDR 70rb).

Selamat buat yang menang.
Ditunggu info tentang alamat pengirimannya dalam 3 hari ini. Otherwise, saya akan milih pemenang lain.

Sampai jumpa di giveaway berikutnya yaa (doakan saja mudah-mudahan segera)


Friday, April 20, 2012

Takdir Elir

Judul : Takdir Elir 
Penulis : Hans J. Gumulia 
Penata letak : Mulyono 
Pem. Aksara : Reyner Nabeel 
Proofread : Bonmedo Tambunan, Dina Begum, Adit H. Pratama 
Pencpt. hikayat : Ami Raditya 
PR : Truly Rudiono 
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

 Pertama kali membaca kata yang tertera di sampul buku ini (Vandaria Saga), saya langsung ngerasa salah buku. "Hah? Vandaria tuh apaan?" pikir saya.

Membaca perkenalan para tokoh dan bab pertama, saya makin mikir kalo saya salah buku. Lah wong saya blank banget dengan istilah dan tata cara dunia Vandaria. Misalnya : frameless itu apa sih? Ordo Vhranas itu apa? Kalo semua penghuni Vandaria memuja Vanadis, kenapa musti ada pembagian ordo segala?

Huaa....saya makin bingung.
But the show must go on. Sekali buku terbuka, pantang berhenti tengah jalan (pret!). Dan saya pun melanjutkan petualangan saya bersama Rozmerga yang gagah berani.

Dari sekilas pandang, saya sempat berpikir kalau Vandaria ini semacam RPG (dan kayaknya sih emang iya). Soalnya perkenalan tokoh di halaman awal itu sampai mencantumkan ukuran fisik segala dan biasanya ini hobi di RPG (teori seenaknya XD)


Adalah seorang pendeta tinggi di Ordo Vrhanas yang mendapat wangsit untuk mengirimkan salah satu frameless juniornya ke Benua Elir. Saat itu, perang hampir pecah di sana karena pertikaian 2 kerajaan besar di benua Elir. Berbekal surat dari pendeta tinggi dan ditemani serombongan ksatria suci, Rozmerga pun melipir ke Benua Elir #heyitsryhme #rhymendasmu X)

Scene lalu berpindah ke Liarra, seorang frameless hutan dari marga suci entah-apa-namanya yang berdomisili di Benua Elir. Rupanya klan Liarra ini memiliki senjata suci nan sakti bernama busur Valuminnaire. Dan berhubung Benua Elir sedang dalam masa kritis, para tetua mendapat wangsit bahwa sudah saatnya busur itu dilepas untuk memilih tuannya. Dan (as we can guest) Liarra lah yang dipilih oleh sang busur.

And...Poof!!!
Begitu Liarra bersentuhan dengan busur Valuminnaire, detik itu juga dia teleport ke Gurun Pasir Tak Bernama dan bertemu Sigmar, seorang pengembara setengah frameless yang sedang dalam misi untuk mencari sebuah kuil yang hilang.

Berhubung Liarra yakin takdirlah yang membuatnya bertemu Sigmar, maka dia yakin adalah takdirnya juga untuk ikut mencari kuil tersebut. Perjalanan mereka gak mudah, sampai ketemu Gorken segala dan akhirnya para Gorken malah jadi pengikut setia Liarra. Oh...apakah Gorken itu? Entah...semacam monster sih. Mungkin sejenis dengan Golem ato Orc kali ya.

Lalu cerita balik ke Rozmerga yang baru sampai di Elir, tepatnya di wilayah kerajaan Serenade. Dalam perjalanannya mencapai ibu kota, dia sempat nyasar, diserang segerombolan perampok, akhirnya terselamatkan dan dapat tumpangan di rumah warga hingga akhirnya dapat tumpangan kendaraan juga ke ibukota.
Buat saya sih bab ini aneh. Gak jelas tujuannya apa secara gak berpengaruh juga ke cerita. Dan aneh juga karena kok Rozmerga dan rombongannya bisa segampang itu kejebak bandit kampung? Apa si pengarang bermaksud menunjukkan betapa juniornya Rozmerga ini?

Setelahnya cerita kembali ke Liarra dan Sigmar yang sudah berhasil menemukan kuil itu dan juga pisau belati kuno. Setelahnya Sigmar dan Liarra menyadari kalau kedua senjata mereka bersinar. Mereka mencoba menyentuhkan kedua senjata dan mendapat suatu visi. Dalam visi tersebut terlihat 5 Pahlawan Legendaris Elir melawan Gottfried Serenade, musuh terkuat dalam sejarah Elir. Pertanyaannya, apakah hubungan visi tersebut dengan kondisi Elir yang kritis saat ini? Dan apa pula peran mereka dalam konflik ini?

 "Ingatlah wahai putri Vanadis, bahwa di jalan segelap apa pun, selalu saja ada secercah cahaya yang akan melindungimu..."
Bingung dengan sinopsis di atas? Nggak perlu...

Karena walaupun ditulis dengan multiple POV, tapi gaya berceritanya nggak bikin bingung kok.
Memang sih ada beberapa hal yang aneh dan lucu seperti Sigmar yang membacakan petunjuk cara menghadapi Gorken ke Liarra tepat saat mereka akan diserang Gorken. Atau saat Rozmerga dan rombongannya gak tahan menghadapi penginapan yang jorok. Juga saat Rozmerga begitu naifnya sampai gak nyadar dia ditipu padahal pembaca awam seperti saya aja bisa nyadar.

Lucu memang, tapi saya pikir biarlah. Toh ukuran saya memberi rating adalah seberapa menikmatinya saya membaca buku tersebut. Dan harus saya akui, membaca Takdir Elir ini enak banget. Bahasanya (walopun kadang-kadang cheesy terutama di bagian percakapan) mengalir banget. Tanpa disadari udah selesai 1 bab aja dan penasaran untuk lanjut bab berikutnya.

Mengenai hal-hal yang belum jelas di buku ini, seperti kegunaan bab waktu Rozmerga diserang (lupa bab berapa) juga apa sebenarnya penyebab konflik di Elir, saya sih berharap akan ada penjelasannya di buku kedua.

Oya...saya juga suka twist di akhir cerita, tentang mereka (saya sengaja gak bilang siapa "mereka" itu) yang terlempar ke masa lalu. Wow...I didn't see that coming. 

Tapi di sisi lain, saya juga heran sendiri. Kan mereka sudah dapat visi tentang masa lalu, kok gak ngeh kalo mereka melihat diri sendiri di visi itu?
Ah time paradox dan time travel selalu jadi konsep yang membingungkan untuk saya. Mudah-mudahan sih akan ada penjelasan yang logis di buku berikutnya.

Empat bintang saya berikan untuk buku ini. Kenapa gak 5 bintag?

Karena dipotong satu bintang karena hal yang "lucu" dan aneh di atas. Dan tadinya saya mau potong setengah bintang lagi karena saya gak suka covernya. Tapi akhirnya batal, karena saya suka ilustrasi-ilustrasi cantik dalam buku ini.

Oh bye the way, ampe akhir saya masih belum tahu frameless itu apa. Tapi pada akhirnya saya gak peduli karena saya toh tetap menikmati buku ini. Yep...this book was that good :)

Friday, April 13, 2012

BBI 1st Giveaway Hop


Komunitas BBI (Blogger Buku Indonesia) adalah suatu komunitas yang mendedikasikan blog mereka untuk dunia perbukuan. Isi blog bisa macam-macam seperti resensi buku, bahkan sampai cover buku.

Tanggal 13 april 2012 adalah ulang tahun pertama BBI. Dan untuk merayakannya, maka BBI mengadakan "Giveaway Hop".
Giveaway hop adalah beberapa blogger yang mengadakan giveaway dengan tema yang sama secara serentak, masing-masing memposting di blognya sendiri. Dalam giveaway hop biasanya ada host (penyelenggara).
Dan untuk Giveaway Hop kali ini host-nya adalah Fanda's Historical Fiction punya Mbak Fanda, Kumpulan Sinopsis dari Okeyzz kepunyaan Oky dan Dear Readers milik Maya.
Lebih lengkap tentang "BBI 1st Giveaway Hop" bisa dibaca di sini

Saya, melalui blog Through Tinted Glass, juga ingin meramaikan acara ultah pertama BBI. Yeaayy.... *tebar confetti*.
Hadiah dari Giveaway ini adalah  2 novel Partikel oleh Dee Lestari.

Ketentuannya adalah : "1 novel akan dipilih oleh Rafflecopter dan 1 lagi akan dilihat dari komentar yang diberikan."
Namun mohon maaf, salah 1 novelnya (kemungkinan) bukan novel baru. Bila anda mendapat yang gak baru, sebagai kompensasi, saya akan berikan hadiah tambahan berupa 1 novel karya penulis lokal juga. Novel tambahannya boleh pilih sendiri dengan syarat bisa saya dapatkan (tersedia di toko buku ato online shop) dan tidak melebihi IDR 70.000,- (tidak termasuk ongkos kirim)

Sinopsis : 
 Di pinggir Kota Bogor, dekat sebuah kampung bernama Batu Luhur, seorang anak bernama Zarah, dan adiknya, Hara, dibesarkan secara tidak konvensional oleh ayahnya, dosen sekaligus ahli mikologi bernama Firas. Cara Firas mendidik anak-anaknya mengundang pertentangan dari keluarganya sendiri.
 Di balik itu semua, masih tersimpan berlapis misteri, di antaranya hubungan khusus Firas dan sebuah tempat angker yang ditakuti warga kampung. Tragedi demi tragedi yang menimpa keluarganya akhirnya membawa Zarah ke sebuah pelarian sekaligus pencarian panjang. 

Di konservasi orang utan Tanjung Puting, Zarah menemukan keluarga baru dan kedekatannya kembali dengan alam. Namun, bakat fotografinya membawa Zarah lebih jauh dari yang ia duga. 
Di London, tempat Zarah akhirnya bermarkas, ia menemukan segalanya. Cinta, persahabatan, pengkhianatan. Termasuk petunjuk penting yang membawa titik terang bagi pencariannya. 

Sementara itu, di Kota Bandung, Elektra dan Bodhi akhirnya bertemu. Secara bersamaan, keduanya mulai mengingat siapa diri mereka sesungguhnya.


Bagi yang berminat untuk mendapatkan buku gratis ini, silakan mengisi entry Rafflecopter di bawah :)
1) Entry yang harus diisi adalah "Sebutkan Data Dirimu" berisi data diri kamu yang dapat dihubungi bila menang : +2 poin 
2) Leave a blog post comment : +2 poin.  Keunikan/kekreatifan komentar juga menjadi dasar penilaian.
3)  Follow blog ini via Google Friend Connect atau email : +3 poin
4) Tweet tentang Giveaway ini di Twitter kamu +3 poin (bisa dilakukan setiap hari)

Semakin banyak entry yang dimasukkan setiap hari, semakin besar poin yang akan didapatkan, dan semakin besar peluang kamu untuk mendapatkan buku "Partikel" gratis! :)

Bagi yang tertarik, segera masukkan entry! Good Luck!