Friday, March 28, 2014

Karena Satu Mimpi Dimulai Dari Sini (Sajak - Sajak Dan Renungan)

 


Data Buku :
Judul : Sajak - Sajak Dan Renungan
Penulis : Sutan Takdir Alisjahbana
Penerbit : Dian Rakyat
Tahun Terbit : 1994
Halaman : 47
ISBN : 9789795232940
Bahasa : Indonesia dan Inggris
Rating : 5 out of 5 stars
 
Saya mengenal buku ini sejak SD dulu karena tugas Bahasa Indonesia untuk membandingkan antara sajak karya sastrawan angkatan Balai Pustaka vs Pujangga Baru. Saya yang malas ini pun lalu memilih buku tertipis yang ada di perpustakaan. >.<

Buku ini memang tipis. Sangat tipis malah. Hanya 47 halaman berisikan 7 sajak.
Tapi buku setipis ini telah membuat saya jatuh cinta pada larik-larik lugas gubahan Sutan Takdir Alisjahbana. Saking cintanya saya sampai bernegosiasi dengan pustakawan agar dia mengizinkan saya menyimpan buku ini dan menukarnya dengan buku lain. (Saya menukarnya dengan album Donal Bebek bye the way) :D

"Kami telah meninggalkan engkau,
tasik yang tenang, tiada beriak,
diteduhi gunung yang rimbun
dari angin dan topan.
Sebab sekali kami terbangun
dari mimpi yang nikmat"
(Menuju Ke Laut)

Ketujuh sajak di buku ini memang sangat mencerminkan ciri khas sajak para Pujangga Baru. Dari mulai bentuknya yang terdiri dari terzina, quantrain dan soneta; isi sajak yang kebanyakan berupa epigram (puisi tentang ajaran hidup) dan satire; hingga ke bahasa yang menggunakan gaya ekspresi romantik. Keromantisan ini terlihat di cara Sutan Takdir melukiskan keindahan alam yang menimbulkan perasaan damai. Sebagai contohnya adalah potongan dari sajak berjudul "Menuju Ke Laut" yang saya kutip di atas.

"Sekali aku duduk dibawah pohon karet dan terkejut mendengar letusan nyaring diatas kepalaku: biji matang menghambur dari batangnya.
Ya, aku tahu, dimana-mana tumbuh menghendaki bebas dari ikatan!

Terdengarkah itu olehmu, wahai angkatan baru?
Putuskan, hancurkan segala yang mengikat!
Rebut gelanggang lapang disinar terang!
Tolak segala lindungan!
Engkau raja zamanmu!"
(Biji Karet)

Satu lagi ciri khas generasi Pujangga Baru yang tampak di jelas di buku ini adalah : gak ada metafora. X)
Berbeda dengan angkatan 45 yang memang suka banget pake metafora dan makna ganda di karya-karyanya, para Pujangga Baru memilih menulis karya mereka secara langsung. Jadi biji karet yang dimaksud Sutan Takdir di atas benar-benar biji karet, dan angkatan baru yang dia sebut sesungguhnyalah mengacu kepada rekan-rekannya. Gak heran beliau disebut sebagai pelopor Pujangga baru.

Secara pribadi sih saya lebih suka puisi yang "langsung" seperti ini. Sajak metafora itu memang asyik karena kita mesti menebak maksud sebenarnya sang penggubah. Namun kadang melelahkan juga. Ketika saya ingin bersantai dan memanjakan jiwa dengan kalimat puitis, saya lebih memilih membaca puisi "ringan" seperti ini, yang tidak membuat kening saya mengernyit memikirkan maknanya.

Tapi di luar bahasanya yang seperti itu, ada alasan lain kenapa saya suka banget sama buku ini.
Alasan itu ada dalam sebuah bait di sajak berjudul "Kerabat Kita". Sajak ini berkisah tentang seorang anak yang baru kembali dari perantauannya yang jauh dan lama. Setelah merantau ke berbagai tempat, kini disadarinya bahwa petuah sang bunda sebelum dia pergi itulah yang paling benar.

Di runtuhan Harapa dan Pompeii aku ziarah,
Dari menara Eiffel dan Empire State Building
aku tafkur memandang semut manusia.
Di pembajaan Ruhr dan Nagasaki
aku bangga melihat kesanggupan ummat
berpikir, mengatur dan berbuat.
Kuhanyutkan diriku dalam lautan manusia
di Time Square di New York dan di Piccadily di London.
Kuresapkan lagu kesepian pengendara unta
di gurun pasir dan batu Anatolia,
sega Islandia yang megah di padang salju yang putih. (Kerabat Kita)
Ya, itulah bait kesukaan saya.
See....waktu itu saya masih anak kecil yang menganggap Pompeii dan Nagasaki sebatas nama tempat di luar negeri yang tidak menarik. Saya bahkan baru kali itu mengetahui ada daerah bernama Harapa dan Ruhr.


Mungkin saya yang melebihkannya, tapi cara Sutan Takdir melukiskan berbagai daerah di atas membuat saya tertarik. Saya jadi penasaran pengen ziarah ke Harapa dan Pompeii, juga berkontemplasi di Eiffel dan Empire State Building (karena bertafakur terasa terlalu religius buat saya #hush).  Saya juga kepengen menghanyutkan diri di Time Square dan Piccadily atau mengunjungi padang salju Islandia dan gurun pasir Anatolia.
(Yah...walau tentu saja saya bakal melakukan semua itu setelah beres motret. Hehehe...)

Dan sejak hari saya membaca sajak itu, saya menetapkan cita-cita untuk melihat langsung keindahan yang disebut-sebut Bapak Sutan Takdir. Hari itu juga, bucket list pertama saya lahir. Dan sepuluh tempat yang ada di paragraf tersebut ada dalam Top 10 bucket list saya.
Semoga diberikan umur dan kesempatan oleh Allah SWT untuk mewujudkan semuanya. Bisa tolong di-amin-kan? Terima kasih sebelumnya. ^_^

Buku ini memang tipis. Sangat tipis malah. Hanya 47 halaman berisikan 7 sajak.
Tapi buku setipis ini telah memberi saya mimpi baru dan menginspirasi saya untuk berkelana.
Jadi gak salah kan kalau saya hargai 5 bintang? Terima kasih untuk sajak-sajaknya, bapak Sutan Takdir Alisjahbana.

Biografi Singkat :

Sutan Takdir Alisjahbana lahir di Natal, Sumatera Utara, 11 Februari 1908 dan meninggal di Jakarta, 17 Juli 1994 pada umur 86 tahun. Beliau merupakan salah satu tokoh pembaharu Indonesia yang berpandangan liberal. Berkat pemikirannya yang cenderung pro-modernisasi sekaligus pro-Barat, beliau sempat berpolemik dengan cendekiawan Indonesia lainnya.
Beberapa karyanya yang paling terkenal adalah Tak Putus Dirundung Malang (1929), Dian Tak Kunjung Padam (1932), Layar Terkembang (1936) dan Anak Perawan di Sarang Penyamun (1940).
Sampai akhirnya hayatnya, ia belum mewujudkan cita-cita terbesarnya, yakni menjadikan Bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar kawasan di Asia Tenggara.Ia kecewa, Bahasa Indonesia semakin surut perkembangannya. Padahal, bahasa itu pernah menggetarkan dunia linguistik saat dijadikan bahasa persatuan untuk penduduk di 13.000 pulau di Nusantara.
(Untung beliau tak melihat bagaimana generasi 4l4y menuliskan bahasa Indonesia). Lebih lanjut tentang beliau bisa dibaca di wikipedia atau di link ini.


Friday, February 07, 2014

Rate My Love

Data Buku
Judul : Rate My Love
Penulis : Cassandra & eLa
Penerbit : Gagas Media
Tahun Terbit : 2007
Bahasa : Indonesia
ISBN :  9797801799
Halaman : 210

Feel, gadis polos manis, tengah berbahagia karena di hari ulang tahunnya, sang pacar tajir (Chopy) mengajaknya dinner romantis. Sayang, akhirnya ketahuan kalo Chopy ini gak lebih dari playboy cap kapak tiga dan menganggap Feel hanya selingan. Waktu lagi sibuk mengelus hatinya yang luka (tsah!), Feel melihat sebuah iklan reality show baru di TV berjudul Rate My Love. Acara ini menjanjikan kontestannya akan mendapatkan cinta sejati.

Dimitri adalah produser ambisius yang dikenal bertangan dingin. Buat dia, acara yang 'nempil' dipegangnya adalah acara dengan tema 'keren' seperti perang di Timbuktu, keterlambatan bantuan pengungsi di Etiopia, ato apalah itu.
Tapi itu dulu, sebelum kecelakaan yang melumpuhkan kedua kakinya. Sekarang, dia malah ditugaskan menangani Rate My Love,acara cemen dan omong kosong menurutnya.

Tapi tugas adalah tugas. Dan Dimitri bertekad akan membuat Rate My Love menjadi acara dengan rating tertinggi apapun caranya.
Dan "apapun" itu termasuk mencari kembali sosok dr. Banner, dokter yang ada di kenangan Feel sejak lama.
Hanya itu? Jelas nggak.    
Ketika diketahui dr. Banner sudah bertunangan, Dimitri tega menyabotase hubungan tersebut. Dimitri tak sadar, dengan memutuskan pertunangan dr. Banner, dia berpotensi memutuskan kebahagiaannya sendiri.

Lho? Apa hubungannya? Temukan saja sendiri.
Yang pasti, plot di buku ini gak sesimpel yang saya jabarkan di atas. Masih ada lekukan dan tikungan lain sebelum pembaca mencapai kata "Tamat".
"Sepanjang karir, program yang gue pegang belum pernah gagal. Kalian mau jadi warga negara yang baik dan diketawain stasiun lain? Just forget this bullshit ethic and be the winner."
-Dimitri-
Mungkin karena penulis buku ini adalah penulis skenario juga, membaca buku ini rasanya kayak menonton film (jadi ini sebenarnya lagi baca ato nonton sih?). Adegan-adegan di buku ini begitu mudah dibayangkan oleh otak saya. Ini juga salah satu faktor yang bikin saya suka buku ini.

Hal lain yang unik adalah karakterisasi para tokohnya. Masing-masing tokoh ini punya fungsinya yang unik, sehingga walaupun kemunculan mereka hanya sebentar, tapi gak mudah dilupakan oleh pembaca (saya). They're lovable in their own way.

Ketiga karakter utamanya adalah :
 "Saya hampir mati karena cinta. Tapi kalau nyawa pantas dikorbankan demi cinta, kenapa nggak berkorban lebih jauh lagi? Dengan terus hidup biar pun sendiri. Keliatan kuat biarpun patah hati.Tenang, biarpun sebenarnya mau nangis. Berdiri di depan kamera dan kelihatan bodoh. Atau bahkan melakukan pengorbanan yang paling besar. Berharap saya akan menemukan cinta sejati saya." (Feel)
Feel (pastinya).
Dari luar sih Feel tampak seperti gadis manis, baik, jago masak.Tapi dia juga menyimpan sejuta pesona absurd, contohnya : selalu menyimpan sikat debu buat emergency, punya ikan koki kesayangan yang diberi nama "Pus", menyimpan lilin berbentuk kue sebagai hadiah ulang tahun buat diri sendiri dan selalu membawa kertas resep dengan nama "dokter Banner".
Buat saya, yang paling menarik dari Feel adalah kelemotannya. Dia sering gagal paham dengan sinyal dan kode yang diberikan Dimitri. Jadilah Dimitri gemas sendiri  menghadapi Feel.
"Ngaku aja! Kamu sebenarnya dikirim siapa? Stasiun lain buat nyabotase karir saya? Hukuman dari Tuhan karena saya lahir terlalu ganteng? Kenapa saya harus ketemu sama kamu? Semua bencana pasti ada alasan di baliknya! Karena nggak mungkin di dunia nyata ini ada manusia sebodoh kamu!" (Dimitri)
Dimitri
Produser perfeksionis berhati dingin ini berubah ketika Feel memasuki hidupnya. Perlahan dia jadi lebih terbuka, walo gak berkurang galaknya. Saya sudah bilang di atas kalo Dimitri rela melakukan apa pun demi menaikkan rating Rate My Love.
Dan iyah, beneran apapun. Termasuk memaksa seorang krunya makan udang walo tahu si kru alergi berat sama udang. Ato mengirim seorang aktor untuk memikat hati tunanagan dr. Wawan, gak peduli walau pun pernikahan dr. Wawan tinggal seminggu lagi. Dimitri memang setega itu.
Makanya perubahan karakter Dimitri di akhir buku jadi kerasa banget. Dan pembaca pun dibikin bersimpati sama si galak ini.
 "Alangkah menyedihkan jika nyawa manusia hanya dipandang sebagai poin dalam perhitungan bisnis." (dr. Wawan)
dr. Banner aka dr. Wawan
dr. Wawan sepertinya spesies langka di dunia ini. Ganteng, idealis, lulusan terbaik di angkatannya, jago masak, kesehatan prima dan punya jiwa sosial yang tinggi banget.Sempurna ya?
Teorinya, dr. Wawan adalah orang ketiga di antara hubungan Feel-Dimitri. Tapi sebagai pembaca, saya toh gak bisa sebal sama dr. Wawan. Dia terlalu baik dan terlalu sabar untuk disebalin.

Bukan hanya tiga tokoh itu yang mencuri perhatian. Bahkan peran pendukung seperti Jeb dan Siti Cempaka (mantan tunangan dr.Wawan) pun mampu mencuri perhatian dan meninggalkan kesan di benak saya.

Tapi dengan semua pujian ini, jangan kira Rate My love gak punya kekurangan. Ada buanyaaakk sebenarnya.
Pertama ada banyak plot hole di buku ini. Entahlah....mungkin karena terbatas jumlah halaman, ato mungkin ada kesalahan pengeditan. Ada beberapa hal yang masih menyisakan tanya di benak saya.  Trus juga, saya sih ngerasa progress hubungan Feel-Wawan terlalu cepat. Belum lagi gak ada latar karakter yang jelas bagi tiap tokohnya.

Kedua, terlalu banyak adegan absurd dan kebetulan ala sinetron di novel ini. Meski begitu, mungkin karena dari awal saya sudah menerima bahwa ini adalah novel komedi yang gak usah diseriusin banget, saya juga gak terlalu memusingkan keabsurdannya sih. Yang penting saya merasa senang tiap kali membaca ceritanya. Cukup itu saja.

Satu lagi yang berkesan dari novel ini adalah : endingnya.
Sepanjang cerita tuh, dukungan saya selalu berpindah antara ke dr. Wawan atau Dimitri. Dan sampe akhir, saya tetap gak bisa milih. Jadi ketika mengetahui endingnya begitu, saya berpikir : "Ya sudahlah." Saya rasa keren juga penulisnya, karena dia mampu membuat pembacanya tak berpihak.

Lalu setelah adegan yang saya kira ending, ternyata ada kelanjutannya. Adegan selanjutnya membuat saya berpikir : "Eh...maksudnya apa?" Dan sampe sekarang, saya belum mampu menemukan jawaban pasti maksud adegan tersebut X)

In short, Rate My Love is a light reading that's fun to read, with engaging characters and intriguing ending. What's not to like? ^_^

Wednesday, February 05, 2014

Buku = Investasi (???)


Post ini terbit karena tergelitik akan artikel yang berjudul 5 Aset Yang Mungkin Anda Punya Di Rumah. Artikel ini memberi info kalo ada beberapa barang di rumah kita yang bisa jadi aset berharga di kemudian hari seperti perangko kuno, lukisan ato perhiasan (yang ini mah jelas lah yaa).
Ebentar....sebelum lanjut, biarlah saya informasikan dulu kalo menurut LiveOlive, aset adalah barang milik yang punya nilai ekonomis, bisa dijual dan biasanya harga jualnya lebih tinggi daripada harga beli.

Yah...buat saya sih koleksi perangko kuno atau lukisan dengan harapan harganya melambung suatu hari nanti iyu bukan saya banget. Tapi jadi kepikir juga : koleksi buku saya kira-kira bisa jadi aset gak ya suatu saat nanti? Apa buku bisa dianggap investasi masa depan (selain investasi untuk pengetahuan pastinya).

Lalu saya pun iseng browsing, dan yang ketemu malah website yang menawarkan buku second dengan separuh harga. Waduh.....ini sih bukan aset namanya *emot muka kosong ala WA* o.O
Mencoba browsing dengan keyword berbahasa Inggris, yang ketemu malah artikel List of Most Expensive Books. Pas liat list-nya, yaiyalaaaaahhh mahal. Wong di list itu ada Codex Leicester yang masih tulisan tangan asli Leonardo da Vinci dan Magna Carta original exemplar.

Hadeuh.....butiran debu digital kayak saya ini mana nempil sih berurusan dengan buku sakti semacam itu
Trus gimana dong? Masa' sih koleksi saya dikategorikan bukan aset? *gak ikhlas* Hingga suatu hari, saya iseng liat-liat akun facebook para penjual buku dan perhatian saya terantuk pada penjual komik seken nan langka.

Ah ya benar sekali!
Komik terbitan jadul yang sekarang sulit dicari bisa dikategorikan aset juga. Soalnya banyak banget peminat komik lawas ini. Contohnya komik Yokohama yang ketika terbit dulu seharga Rp 3000,-/buku, sekarang harganya Rp 450.000,-/set (7 buku). Padahal, seandainya dibeli dengan harga komik baru saat ini pun, 7 buku itu gak nyampe 300rb mestinya.

Satu lagi komik langka berharga mahal itu Time Limit. Komik yang legendaris saking lucunya ini sekarang dibanderol Rp 290.000/set. Murah? Ehm...gak juga sih. Soalnya harga segitu biasanya bukunya udah gak terlalu mulus lagi.

Tapi harga kedua komik lawas itu masih kalah epik dengan komik Pank Ponk yang sangat melegenda itu.

sumber
Bayangkan......satu set komik Pank Ponk dengan kondisi seperti di atas (cover bukunya gak lengkap), dijual seharga Rp 1.200.000,-.
Iyaaa.....kamu gak salah baca kok. Harganya beneran 1,2 juta.
Saya ulang lagi ya biar dramatis (halah!) : SATU KOMA DUA JUTA! ヘ(゜◇、゜)ノ *nebok celengan semar* *isinya duit jigo-an semua*. Padahal siapa pun pemilik pertama komik ini, dia belinya seharga Rp 3000/buku. Naik sekali ya harganya.

Komik lain yang juga dianggap berharga itu : Si Cerdik Michael (dihargai Rp100.000/buku), The Duck of Mr. Fredward (sekitar 400rb/set), dan City Hunter (600rb/set, kondisi gak mulus).
Dan saya teringat satu set ensiklopedi lawas yang dulu pernah saya bahas di sini. Ensiklopedi itu kalo dijual sekarang harganya bisa 3x lipat harga belinya dulu. o.O

Jadi buat kalian yang dulu koleksi komik, coba dibongkar lagi koleksinya. Dilihat, adakah komik-komik langka ini di antaranya? Kalo ada, buruan diselamatkan. Jangan sampe kena banjir ato dimakan rayap (musuh kutu buku nih).

Gimana dengan saya?
Well....saya punya sih beberapa komik langka di atas. Sayangnya, saya justru gak punya Pank Ponk ( ._.)/|suram|. Ada yang mo kasi gak ya? Apa untuk Secret Santa tahun 2014 ini saya bikin wishlist-nya komik Pank Ponk aja? #woooyyy
Tapi saya tetap masih gemes nih. Masa' iya sih gak ada novel yang bisa masuk kategori "aset"? (dan definisi novel di sini adalah novel yang pernah diterbitkan secara massal, bukannya buku yang cuma ada satu di dunia semisal naskah tulisan tangan asli Leonardo Da Vinci itu). Ada yang tahu novel apa aja yang masuk kategori "aset"?


(PS : Oya...kalo ada yang terinspirasi menjadikan komik sebagai aset, saran saya nih : jangan terlalu tahan harga ya. Buruan dijual sebelum Elex ato penerbit lain cetak ulang komiknya. Kejadian di komik Sailor Moon dan Miss Modern yang dulu harganya meroket, sekarang terjerembab dengan sukses gegara dicetak ulang. Yang punya Pank Ponk, boleh lho dijual ke saya seharga 3ribu.buku #laaahh)

Thursday, January 30, 2014

Pulang

Judul : Pulang
Penulis : Leila S Chudori
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit : 2012
Bahasa : Indonesia
ISBN : 139789799105158
Paperback. 464 Halaman
Rating : 3,5 out of 5 stars

 Kecuali masa sekolah wajib 12 tahun dulu, saya jarang tinggal lama di rumah. Bahkan sampai sekarang pun, kalo dihitung dalam setahun saya lebih banyak di luar daripada anteng di rumah. Apa yang membuat pergi begitu menarik?
Buat saya, kenikmatan terbesar pergi justru ada di saat pulang. Selalu ada perasaan 'diterima' setiap melihat kembali rumah tua yang kebanjiran itu. Dan ada rasa aman dan nyaman setiap bertemu kembali dengan kamar-bak-kapal-pecah yang selalu mampu memberikan inspirasi untuk menulis blogpost ^_^ .
Pulang adalah kegiatan yang mudah dan menenangkan bagi saya.

Bagi Dimas Suryo dan ketiga rekannya, Pulang merupakan hak eksklusif yang tak bisa didapatnya lagi. Walau pun menganut paham netral, namu bekerja di kantor surat kabar yang berhaluan kiri membuat Dimas jadi buronan pemerintah Orde Baru sejak tahun 1965. Kebetulan saja dia bisa selamat karena saat petugas pemerintah mengadakan 'pembersihan' di kantornya, Dimas sedang mengikuti konferensi wartawan beraliran kiri di Santiago bersama rekannya.

Lho? Kok bisa Dimas yang netral malah ikut konferensi aliran kiri?
Ya bisa saja. Soalnya saat itu Dimas ke Santiago demi menggantikan Hananto, sahabatnya. Hananto urung ikut konferensi karena ingin membereskan pernikahannya dengan Surti Anandari yang saat itu sedang bermasalah.
"Dia ditolak oleh pemerintah Indonesia, tetapi dia tidak ditolak oleh negerinya. Dia tidak ditolak oleh tanah airnya."(Hal 198)
Setelah passportnya dicabut pemerintah Indonesia dan sempat terlunta di Peking, Dimas dan ketiga rekannya pun mendapatkan suaka di Paris. Perlahan, mereka membangun sarang di kota romantis itu. Dimas bahkan bertemu dengan Viviene, seorang gadis Perancis. Mereka menjalin kasih dan menikah hingga lahirlah Lintang Utara, putri semata wayang mereka.
Dimas dan ketiga rekan juga membuka restoran Indonesia di Paris yang mendulang sukses. Restoran itu mereka beri nama Restoran Tanah Air.
Namun Dimas tetap resah. Dalam hati dia tetap merindukan tanah airnya. Dia selalu resah ingin pulang walau tahu pintu untuknya sudah tertutup.

Tiga puluh tiga tahun kemudian, justru Lintang yang berkesempatan pulang ke Indonesia. Kepulangannya demi membuat film dokumenter tentang kesaksian mereka yang terlibas di tahun 1965. Tanpa sengaja, Lintang terseret gejolak reformasi yang saat itu sedang menggelora di negeri ini. Bersama Alam, putra Hananto, Lintang pun mencoba memetik Indonesia dari kata I.N.D.O.N.E.S.I.A, berusaha mengenal tempat pulang yang begitu dirindukan ayahnya dan mencoba memahami bagi seorang Lintang Utara kemanakah tempat pulang yang sesungguhnya.
Another winter day has come and gone away
In either Paris or Rome
And I wanna go home...Let me go home

(Michael Bubble - Home)
Saya kecele.
Saya pikir novel ini akan bergelegak dengan semangat perjuangan; akan mampu membuat emosi saya membuncah dan rasa nasionalisme saya meletup; akan mampu membuat saya berteriak "MERDEKA!" seperti yang biasa terjadi saat saya membaca sesuatu yang nasionalis (atau saat saya mendengar lagu Maju Tak Gentar). Ternyata...Pulang adalah novel roman yang mengambil setting peristiwa 1965 dan 1998.

Daripada dibilang historical fiction, saya lebih sreg bilang ini novel roman saking kuyupnya cinta di novel ini. Mulai dari kisah cinta bergelora antara Dimas dan Surti, persaingan cinta teman-teman Dimas demi memperebutkan kembang kampus, cinta pandangan pertama Vivienne pada Dimas bahkan sampai cinta menggelora Lintang dan Alam.
Oh tentu saja saya tahu isi novel ini bukan hanya itu. Tapi justru itulah kesan yang tertinggal di benak saya. Selain juga kisah cinta Dimas pada Indonesia dan seni kuliner.

Saya juga mengira novel ini akan sangat membahas kehidupan Dimas dan ketiga rekannya sebagai eksil politik. Bagaimana sulitnya menjadi orang tak bertanah air, bagaimana pahitnya berkali-kali ditolak permohonan visa untuk sekadar menengok keluarga tercinta di kampung. Bagaimana pedihnya setiap kali 17 Agustus datang dan hanya bisa merayakannya dari jauh. 
Ternyata novel ini lebih membahas pergolakan dan keresahan hati seorang Lintang.

Kesaksian para saksi 1965 yang semestinya digarap Lintang pun tidak mengambil porsi yang cukup banyak di sini. Ato mungkin banyak, tapi tertutupi kesanya oleh kegalauan Lintang akan arti hadir seorang Alam di hatinya. Seenggaknya itu yang terasa buat saya.

Mungkin saya termakan propaganda cover ya. Gambar tangan mengepal berlatarkan warna kuning kunyit pada cover yang mengingatkan saya pada bungkus sebuah minuman berenergi dengan tagline "Pasti JOSS!" membuat saya mengira buku ini juga akan terasa "Joss!". Lagi-lagi...saya kena bualan cover :)).

Tapi di luar rasa kecele itu, Pulang sungguh sebuah novel yang apik. Gaya bahasa Leila begitu rapi dan renyah. Saya salut karena beliau mampu menyuguhkan sebuah novel dengan gaya bahasa sastra yang begitu mudah dikunyah. Tak perlu ada kening yang berkerut dalam mengartikan untaian kata yang ditulis Leila. Semuanya enak dibaca, semuanya terangkai dengan indah. Bagi saya, seharusnya sastra memang seperti ini. Indah, puitis namun tetap bisa dicerna oleh semua kalangan, pun bagi mereka yang bukan penggemar sastra.

Saya juga suka pada gaya penceritaan multiple POV 1 yang dipake Leila di Pulang. Yang keren, Leila bisa menulis perpindahan POVnya dengan lancar. Mulai dari Hananto sebagai narator, dilanjutkan oleh Dimas, Vivienne, Lintang hingga Alam, semuanya berpindah dengan lancar. Pembaca tak dibuat bingung siapakah yang sedang bercerita saat itu. Salut, Mbak Leila.

Akhir kata, Pulang mengajak kita melihat kehidupan para eksil politik dan keturunannya dari sisi lain. Bahwa tak selamanya kiri itu salah dan kanan selalu benar. Bahwa sungguh tak adil bila kita tetap mendiskriminasi para anak dan cucu mantan tapol. Yang 'melawan' pemerintah kan bapaknya, kenapa toh turunannya masih didiskriminasi? Dan Pulang juga mengajak kita untuk selalu buka mata dan telinga pada kebenaran yang ada di dua sisi.

Tiga setengah bintang untuk Pulang.


==============================================

Buku ini adalah pemberian Santa saya yang baik hati. Terima kasih ya untuk bukunya yang seru banget :).
Sekarang saatnya menebak identitas santa saya. Seperti riddle yang tertera di sini, ada 3 hal yang bisa saya simpulkan dari riddle :
1. Santa saya anggota Bajay Jabodetabek
2. Santa pernah saya kasi dan pinjemin buku
3. Santa knows me well

Hmm....saya kenal baik semua anggota Bajay Jabo. Udah 2 dari 3 riddle terjawab (heuh?). Untuk point ke-2, saya sebenarnya punya 4 suspect. Tapi dari hasil memecahkan riddle teman-teman lain, saya bisa mencoret 3 suspect tersebut.
Lagipula di antara teman-teman bajay jabo lain, cuma si 'terduga-santa' yang belum saya temukan siapa X-nya.

Ditambah si 'terduga-santa' pernah bilang di salah satu chat bajay Jabo bahwa riddle darinya sangat mudah. Cuma tinggal cocokkin tulisan tangan saja, jangan terpengaruh isinya. Daan....akhir bulan Desember lalu, kebetulan si 'terduga-santa' mengirimkan saya paket dan tulisannya mirip dengan yang di riddle.

Jadi dengan rasa percaya diri yang membuncah (tsah!) maka saya pun menebak bahwa santa saya adalah :


Bener gak, mbak Yuska? :)
Kalo salah, saya minta maaf sama santa saya ya. Tolong tunjukkan dirimu dong.

Wednesday, January 29, 2014

To Buy Or Not To Buy An E-reader

source

Sudah pasti, saya lebih mencintai buku cetakan daripada buku elektronik. Tapi toh, saya gak bisa mengelak dari kepraktisan yang ditawarkan sebuah buku elektronik.

Sebagai pembaca yang moody dan cepat bosan, saya selalu membawa minimal 2 buku di tas. Ya abis gimanaaa.....saya kan bosenan. Kalo cuma bawa 1 buku doang, saya merasa insecure gitu lho (gaya loee, wi). Khawatir saya jenuh pada 1 buku yang saya bawa lalu jadi mati gaya. Apalagi kalo pergi ke luar kota. Wuih....pergi 3 hari ke Bandung aja saya bisa bawa 5 buku di tas. Iya sih....lebay. Kayak di Bandung gak ada toko buku aja ya (_ _"). Gimana kalo saya bepergian ke luar negeri lebih dari seminggu?
Eugh....saya butuh 1 koper khusus buat buku >.< Sementara baju malah cuma dibawa secukupnya aja.

Tentu saja hal ini merepotkan dan tas jadi berat, Jenderal!
Belum lagi buku yang dibawa-bawa ini beresiko lecek. Sementara saya kan paling risih liat buku kesayangan saya lecek. So...yang ada nih ya, tiap malam saya keluarin buku yang ada di tas, saya 'rapiin' lipatan buku yang lecek. Kalo perlu malah saya setrika. Udah saya bilang kan kalo saya ini ribet?

Makanya, ketika pertama kenalan dengan teknologi buku elektronik, rasanya horeeee banget.
Akhirnya saya bisa bawa banyak buku tanpa khawatir lecek dan berat lagi.
Apalagi, buku elektronik itu bisa dibaca dengan device apapun, termasuk dengan handphone dan tablet. Gak perlu pusing deh beli E-reader ^_^

Awalnya sih begitu pikir saya...
Tapi lama kelamaan berasa rese juga baca pake handphone (layarnya kekecilan dan hp jadi cepat lowbat) dan tablet. Terutama tablet.
Pertama sih enak aja ya baca ebook lewat tab. Tapi CTS saya jadi gampang kambuh gegara si tablet ini lumayan berat juga. Selain itu, perhatian saya mudah terdistraksi berhubung bisa sekalian online di tablet. Sekali lagi...udah dibilang kan kalo saya ribet? (iyeee...wi. Sekali lagi, bisa dapat piring cantik nih).

Cuma....ya masih ragu-ragu juga beli e-reader. Takut mubadzir aja.
Jadinya kemarin iseng ikutan kuis berjudul "Saya Ingin Beli E-reader" di LiveOlive. Dari hasil skor sih, saya dapat nilai 60. Yang artinya sih saya boleh aja beli e-reader, tapi hati-hati memilih merk supaya sesuai kebutuhan dan bisa dipake dalam jangka waktu lama.
Nah lho...yang bagus apa ya?

Menurut saya sih, yang saya butuhkan itu e-reader yang:
1. ringan
2. bisa dipake membaca dalam gelap (karena saya suka membaca saat lampu sudah dimatikan)
3. gak perlu bisa browsing. Asal bisa dipake online untuk beli ebook sudah cukup kok.

Ada yang bisa sarankan saya e-reader yang cocok? Makasi sebelumnya :).
(ps : nanya ini doang preambulenya panjang ya :D)

Wednesday, January 22, 2014

Ketika Si Book Hoarder Berkontemplasi...

Saya tipe orang yang gak suka bikin resolusi apa-apa karena gak mau terbeban >.< , saya juga penganut setia paham 'hidup-itu-mengalir-saja'. Termasuk dalam hal mengatur dana :|
Pokoknya selama saya ngerasa kebutuhan bulanan tercukupi dan sudah menyisihkan dana untuk tabungan dan kondisi darurat, ya berarti sudah beres. Sisa pemasukan bisa saya pake semaunya.

Makanya waktu awal 2014 kemarin banyak teman blogger buku yang beresolusi untuk menetapkan budget belanja buku bulanan atau yang bersumpah untuk tutup mata akan diskonan toko buku (yang lebih gampang ditemukan daripada jodoh #halah), saya mah anteng aja.

Sampai secara kebetulan, ada teman yang retweet artikel berjudul Cek Kondisi Keuangan Anda Dalam 5 Menit dari LiveOlive ini. Berhubung kepo, saya pun mencoba cek dan....terpana baca hasilnya.

See...point pertama artikel itu adalah menyarankan untuk mengetahui suku bunga deposito bank. Yang ngenes adalah...saya gak punya deposito berjangka ( ._.)/|suram|.

Lalu point kedua untuk mengetahui cakupan asuransi. Okeh...yang ini lumayan bikin tenang karena saya punya (walopun setelah ngecek polis, cakupannya standar aja). Aeehh..... *merenung di bawah shower*
Point ketiga dianjurkan untuk menulis tujuan jangka pendek (dalam 1 tahun) sampai jangka panjang (dalam 3 tahun).
I was like : "Happpaahh?" o_O7
Manusia mengalir kayak saya ini mana punya tujuan jangka pendek maupun panjang? Masa' iya dalam tiga kolom tujuan itu saya cuma tulis "Hidup-Bahagia-Meninggal-Masuk-Surga"? *elo kira ini tulisan di belakang truk, wi?*

Dan point ini makin terasa menusuk karena disertakan pula quote dari Steve Sebold (penulis buku How Rich People Think) yang berbunyi "Orang kaya memiliki tujuan perusahaan dengan tenggat waktu do or die".
Sa...saya....jarang (versi halus dari gak pernah) ngasi deadline ke diri sendiri. Masa' ini artinya saya gak bisa jadi orang kaya? (T^T) #nyalainkompor #bikinpudingbaygon

Setelah puding baygonnya udah matang, saya pun lanjut baca point ke-4 yang menyarankan untuk mengelola pengeluaran satu jenis pada satu waktu. Jadi misalnya suka belanja buku, makan di resto, beli mobil baru (ya kali aja ada yang hobinya beli mobil baru tiap bulan),  nah diwajibkan untuk memilih satu jenis pengeluaran aja per bulan dan tetapkan budgetnya.
Ini mirip dengan resolusi yang dibikin teman-teman saya sih. Cuma kalo di sini harus lebih strict lagi mengikuti budget itu (supaya tujuan jangka pendeknya tercapai).

Kayaknya....dari 4 point di atas, yang terakhir ini yang paling bisa cepat saya adaptasikan ya (dan setelah berkontemplasi lama #aeh, saya bisa merumuskan target jangka pendek.Hohohoho.... *ketawa bangga*).
Jadi sepertinya saya udah mesti menetapkan budget belanja buku nih.
Pertanyaannya : sebaiknya berapa ya? 
Soalnya asal milih satu angka sih gampang, tapi begitu ketemu iblis bernama diskonan, langsung buyar itu budget. Jadi saya pengen menetapkan target yang realistis aja.
Teman-teman, kalian pada netapin budget berapa sih untuk belanja buku? *nanya serius*

Kalo saya, untuk bulan Januari dan Februari saya bakal berpegang di niat : "gak bakal nambah timbunan baru sampe minimal 10 timbunan buku lama sudah terbaca".Tapi saya sadar sih, niat ini akan gampang goyah saat ketemu Pesta Buku ato kalo ke Bras Basah. Makanya sebelum salah satu terjadi, saya kudu banget netapin budget. Bagi-bagi infonya dong kalian netapin budgetnya berapa?

Baidewei...point kelima dari artikel itu mengingatkan agar gak lupa menghitung berkat yang sudah didapat sebelum ini. Alhamdulillah, banyak yang bisa saya syukuri. Fakta bahwa saya masih hidup dan tetap sehat dan mampu ngeblog aja sudah saya syukurin banget kok.
Dan ada satu lagi yang saya syukuri : menemukan artikel di atas dan dapat pencerahan soal pentingnya berencana demi terwujudnya impian jadi juragan gorengan sehat nan sukses serta hidup-bahagia-meninggal-masuk-surga (Minta amin-nya doong).
So...saya memutuskan untuk batal mengonsumsi puding baygon ini. Ternyata masih ada harapan untuk saya. Tapi sayang, gak ada harapan untuk tikus di rumah. *umpanin puding tertjintah ke tikus*