Monday, August 11, 2014
Pengumuman Pemenang Giveaway
Halo...
Selamat menikmati bulan Agustus yang sedang berjalan.
Maaf ya pengumuman giveaway-nya tertunda lama dikarenakan satu hal teknis (iya....hal teknis yang dimaksud adalah pulsa Bolt saya habis) (T^T)
Nah tanpa berpanjang lagi, mari kita ungkap jawabannya.
Seperti yang banyak ditebak, jawaban ketiga soal tersebut adalah :
1. Miyamoto Musashi (saya menuliskan sandinya dalam l33t code)
2. Matahari (yep...memang kata-kata yang digarisbawahi mengacu ke tabel periodik kimia)
3. Sungai / river (diambil dari lirik lagu River-nya Jkt 48. Di pertanyaannya kan sudah dibilang "apakah aku?" yang artinya mengacu kepada benda, bukan penyanyinya).
Untuk pemenang, sudah saya katakan bahwa bila yang menjawab benar lebih dari 1 orang, maka akan dipilih yang menjawab benar paling awal. Tentu saja yang qualified adalah mereka yang mengerjakan semua syarat, termasuk mempromosikan giveaway baik di twitter atau facebook dan menyertakan link promosinya di kolom komentar.
Karena itu, walau pun ada beberapa yang menjawab benar terlebih dahulu, tapi tidak memenuhi semua persyaratan, maka saya menetapkan ketiga orang ini sebagai pemenangnya.
Dan mereka adalah (sesuai urutan menang hadiah) :
1. Aya Murning (@murniaya)
2. Lenni (@evizaid)
3. Santi Wiryawan (@siscacook)
Selamat kepada pemenang. Saya akan menghubungi kalian via twitter/email dan kalian punya waktu 3x24 jam untuk merespons pesan saya.
Untuk yang belum beruntung, semoga bisa beruntung di giveaway yang lain ya.
Terima kasih atas partisipasinya.
Monday, July 21, 2014
Incognito & Touche Giveaway
*nyalain toa*
Selamat pagi/siang/malam di mana pun kamu berada. Semoga sehat sentosa dan berbahagia. Amin. Di kesempatan yang berbahagia ini, setelah lama hibernasi, maka izinkanlah saya mengadakan *drumroll* *nyalain spotlight*
*matiin toa*
*karena kita harus hemat energi*
Adapun giveaway kali ini mempunyai persyaratan sebagai berikut :
1. Peserta berdomisili di Indonesia atau mempunyai alamat kirim di Indonesia
2. Penentuan pemenang dilakukan oleh saya dengan sejujur dan seadil-adilnya, dengan tetap berpegang pada Pancasila dan UUD 45
3. Tidak diperkenankan ada surat menyurat sehubungan dengan pemilihan pemenang (abis lagi jaman surat terbuka sih) #hakdess
4. Giveaway berlangsung selama 2 minggu (sampai dengan tanggal 4 Agustus 2014) . Pengiriman hadiah akan dilakukan secepatnya saat kondisi JNE kondusif (soalnya kemarin waktu mo ngirim paket diwanti-wanti kalo paket lagi overload di gudang JNE dan mungkin sampenya akan lama).
Hadiah :
1. Novel Incognito karya Windhy Puspitadewi bertandatangan + 1 tote bag BBI + buku pilihan sendiri seharga max IDR 75k
2. Novel Touche : Alchemist karya Windhy Puspitadewi bertandatangan + 1 sampul buku kain kerja sama BBI & Emerald Green Label + buku pilihan sendiri seharga max IDR 75k
3. Novel Touche karya Windhy Puspitadewi bertandatangan + 1 sampul buku kain kerja sama BBI & Emerald Green Label + buku pilihan sendiri seharga max IDR 50k
Cara Mainnya :
1. Akan ada 3 pertanyaan di mana tiap pertanyaan mewakili hadiahnya. Tiap pertanyaan dinilai terpisah. Jadi misalnya jawabanmu salah untuk nomor 1, tapi benar di nomor 2 dan 3 maka kamu punya kemungkinan mendapat hadiah nomor 2 atau 3.
Jangan lupa : Setiap pertanyaan berhubungan dengan novel yang dihadiahkan
2. Untuk setiap pertanyaan hanya boleh menjawab 1x ya. Tapi boleh dijawab terpisah. Misalnya hari ini kamu mo jawab nomor 1 aja, besok baru jawab nomor 2 ya gak papa.
3. Penentuan pemenang berdasarkan yang jawabannya benar. Bila yang menjawab benar lebih dari 1, maka saya akan memilih yang paling duluan .
4. Promosikan giveaway ini bisa melalui twitter atau FB, cukup 1x saja. Sertakan link promosi di kolom komentar.
5. Jawaban ditulis di kotak komentar (komentar akan dimoderasi sampai GA selesai). Sertakan juga nama akun twitter atau emailmu ya biar bisa saya kirim info kalo kamu pemenangnya.
6. Bila kamu sudah memenangkan satu hadiah, maka kamu gak bisa menang lagi di hadiah yang lain walaupun jawabanmu benar.
Dan inilah pertanyaannya :
1. Sejarawan tak tahu pasti tahun kelahiranku, tapi sebagian besar memprediksi tahun 1854. Namun namaku baru mulai dikenal tahun 1940, ketika seorang novelis memfiksikan kisah hidupku. Namaku adalah : |\\/|!`/4|\\/|0+0 |\\/||_|545|-|!
Siapakah aku?
2. Kami ini sebuah keluarga walau pun berbeda fisik dan sifat. Kami juga biasa digambarkan dengan warna yang berbeda.
Di suatu masa sekolahmu, pasti kamu pernah bertemu keluarga kami.
- Aku si sulung, anak metal yang siap bertransisi ke arah positif. Idolaku? Tentu saja Richard Dent, pemain Chicago Bears bernomor punggung 95. Karena itu selalu kukenakan jerseynya.
Bila kau sudah menemukanku, ingatlah bahwa urutanku tertukar.
- Aku anak kedua, sekarang sudah kelas 5. Saat ini aku sedang gembira karena tes kimia mendapat nilai 73. Padahal gak belajar lho. Yeay!
- Walau pun anak ketiga, tapi aku selalu berada di urutan pertama. Bahkan di antara rekan sekelasku, aku tetap di nomor 1.
- Nah aku si anak keempat. Umurku 8 tahun, ngefans berat sama Peyton Manning dari Indianapolis Colts. Tahukah kamu berapa nomor jersey Peyton Manning? Carilah dan kamu akan menemukanku. Oya, aku sering dimarahi bunda karena sifatku yang bebas laksana udara.
- Aku si bungsu berumur 7 tahun. Karakterku keras, seperti kakak kedua. Sudah ya. Aku malas bicara banyak. Habis sebal, nilai tes menggambarku cuma 53. Kata ibu guru, aku gak boleh hanya menggambar tabel :(
Temukan maksud tiap kalimat lalu susun huruf yang terbentuk. Itulah jawabannya.
3. "Majulah ke depan!
Janganlah berhenti!
Tujuan tempat matahari terbit
Ayo langkah di jalan harapan"
Mimpi itu selalu terlihatnya jauh
Dan jaraknya terasa tidak tercapai
Batu di bawah kaki
Ayo, ambilah satu
Jadilah nekad dan coba lemparkan!"
Siapakah aku? (Jawab dalam bahasa Indonesia ya)
Selamat menjawab, kengkawan. Semoga beruntung yaa.
PS : Giveaway ini terselenggara berkat kerja sama blog Through Tinted Glass & Windhy Puspitadewi.
Bila ada pertanyaan, sila kontak saya di @asdewi (twitter) atau A.s. Dewi (FB)
Friday, May 23, 2014
Satu Pojok di Grand Bazaar Istanbul
| suasana Grand Bazaar |
Bayangkan kamu udah muter-muter gak jelas selama 4 jam di salah satu pusat perbelanjaan terbesar dan tertua di dunia. Di sekelilingmu ramai dengan penjual yang menjajakan dagangan dan orang-orang yang antusias menawar sementara kamu gak ada rencana belanja apapun di sana.
Boring dan capek kan?
Itu juga yang saya rasakan waktu keliling di Grand Bazaar Istanbul. Antusiasme saya udah menurun drastis dibanding pertama masuk karena gak ada barang yang menarik hati. Tapi saya gak bisa pulang juga karena perginya bersama grup.
Akhirnya saya memutuskan untuk pisah dari grup, jalan-jalan ke luar Grand Bazaar sambil berharap mudah-mudahan ada penjual es capcin di sana #halah.
Daaann...tebak saya nemu papan apa?
Yap betuuullll....Ada tulisan "Old Book Bazaar".
Wow...saya gak nyangka di antara penjual-penjual karpet, minyak zaitun, Turkish delight dan barang khas Turki lainnya, ada terselip satu pojok yang dikhususkan untuk buku bekas.
Rasa letih pun terlupakan. Dengan gagah berani saya langsung melangkahkan kaki memasuki pojok Grand Bazaar yang bernama Sahaflar Carsisi.
Dan begitu masuk di dalam, saya pun tersenyum sumringah.
Wow....di kiri-kanan berjajar penjual buku. Bahkan ada boks yang bertulisan "1 TL". Hiyaaa....buku 1 Lira doang? Muraahhh banget.
Tapi saya tahan keinginan untuk ngaduk buku bekas dan memutuskan untuk mengelilingi kompleks ini sampai ke ujung.
Bye the way, Sahaflar Carsisi ini kompleks kecil sih. Gak ada apa-apanya dibanding pojok lain di Grand Bazaar. Jadi kelilingin satu daerah ini sama sekali bukan masalah.
Setelah menyusuri ampe ujung dan berniat mampir di salah satu kedai, saya menyadari ada satu hal yang ganjil. Apakah itu?
Yep betul.
Buku-bukunya dalam bahasa Turki (_ _")
Ya sebenernya kalo mau diubek-ubek sih saya dapat novel-novel dalam bahasa Inggris. Kebanyakan novelnya Orhan Pamuk. Sayang buku yang saya temukan itu udah saya punya juga. Jadi batal deh dibeli.
Bisa dibilang sih acara ngubek-ngubek di Sahaflar Carsisi kurang sukses dalam hal menambah timbanan. Tapi pojok kecil ini menyenangkan untuk beristirahat dan menjauh sejenak dari hiruk pikuknya Grand Bazaar.
Ada penjual es krim Turki yang femes itu di sini dan ada taman kecil (kecil buanget) beserta bangkunya. Lumayan buat duduk cantik sambil ngemil es krim Turki yang kenyal itu.
So kalau kamu lagi di Grand Bazaar, gak ada salahnya melipir ke Sahaflar Carsisi buat nge-charge stamina.
Saturday, May 17, 2014
Touche Alchemist
Data Buku :
Judul : Touche Alchemist
Penulis : Windhy Puspitadewi
Penerbit : Gramedias Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2014
Paperback, 224 Pages
ISBN 13 : 9786020303352
Rating : 3,5 out of 5 stars
Sinopsis :
Makanya walopun mengakui Windhy punya gaya menulis yang ngalir dan enak banget dibaca , tapi saya tidak menganggapnya istimewa.Yah semacam....satu-lagi-penulis-bestseller-yang-bukan-selera-saya lah (maap ya, Win).
Sampe saya bertemu Touche dan Touche Alchemist.
Lalu pandangan saya pun berubah...
Dengan Touche-nya Windhy mengisahkan bahwa di dunia ini ada sekelompok orang yang punya "bakat" bermacam-macam. Ada yang bisa membaca pikiran orang dengan menyentuhnya (mind reader), merasakan perasaan orang yang disentuhnya (empath), menyerap habis isi 1 buku padahal cuma menyentuh sampulnya (data absorber) atau pun menemukan keberadaan orang lain hanya dengan menyentuh peta (track finder).
Liat kesamaan semua bakat yang saya sebut di atas? Yep...semua bakat itu bisa digunakan hanya ketika sang pemilik bakat menyentuh si "target". Makanya mereka dinamai kaum touche.
Point menarik dari dunia Touche ala Windhy adalah: banyak cerita yang bisa dikembangkan.
Ada begitu banyak kemampuan Touche, yang otomatis akan memberi konflik dan kisah yang berbeda juga. Windhy bisa menciptakan kemampuan Touche apapun yang dia mau sehingga kita bisa disuguhkan dengan kisah yang beragam.
Seperti di Touche Alchemist ini.
Hiro, tokoh utamanya, punya bakat mengetahui struktur kimia suatu benda bila disentuh. Hal ini membuat Hiro jadi punya kemampuan analisis yang bikin bengong. Karena touche-nya, Hiro jadi tahu kalo air yang ada di tubuh korban yang tenggelam itu air laut dan bukan air tawar (walopun kenapa gak ada yang coba jilatin air itu, saya juga gak tahu) (yatapi masa' juga ya ada yang mau jilatin air dari jenazah? #abaikan).
Hiro juga jadi bisa bedain air yang ada di TKP itu air dari mana dan bisa bedain struktur bom. Keren deh pokoknya. Makanya Hiro jadi konsultan kepolisian New York walopun umurnya masih 18 tahun.
Dan pembaca pun diajak untuk turut mengikuti kemampuan deduksi Hiro hingga menghasilkan analisis yang tajam, aktual dan terpercaya #halah.
Buat saya sih, bagian analisis-lah yang 'megang' di Alchemist, yang bikin saya jadi gak pengen ngelepasin novel ini. Ada yang bilang kalo gaya deduksi analisis Hiro menjiplak gaya analisis Sherlock Holmes.
Mungkin Windhy memang terinspirasi dari Sherlock ya. Tapi cerita detektif mana sih yang gak terinspirasi dari tokoh rekaan Conan Doyle itu? Bahkan Agatha Christie aja mengakui kalo Poirot itu terpengaruh dari Sherlock. Sebagian besar cerita detektif yang saya tahu memang ada yang tokohnya mirip. Semacam 'saling mempengaruhi'lah (iya...analisa sotoy).
Tapi itu bukan menjiplak. Dan menuduh Windhy menjiplak dari cerita Sherlock adalah tuduhan keterlaluan yang gak berdasar.
Di luar analisisnya, yang bikin buku ini 'ngebetahin' buat dibaca sampe akhir adalah gaya menulis Windhy yang ala-ala manga terjemahan itu. Entah gimana, tulisan Windhy selalu bikin kesan seperti baca manga. Kok bisa gitu ya? #nanyaserius
Yang enak juga, keliatan kalo Windhy serius menggarap Alchemist. Minimal keseriusannya bisa diliat dari usaha Windhy mencari lokasi-lokasi di New York yang bisa masuk ke dalam plot yang dia bangun. Dan dia nambahin peta supaya tipe pembaca visual tapi miskin imajinasi (iya itu saya) gak kesulitan baca buku ini.
Dan mumpung nyebut plot, saya cuma mau bilang kalo plot Alchemist cukup oke. Pace-nya cepat dan keseruannya terjaga sampe klimaks walopun pelaku udah bisa ditebak di 1/3 akhir buku.
Tapi gapapa. Buat saya sih, pengungkapan antagonis bukan hal paling penting di sebuah novel detektif. Saya malah lebih penasaran gimana sampai si detektif bisa menyimpulkan pelakunya. Dan dalam hal ini, Alchemist gak mengecewakan.
Tapi dengan semua kesalutan itu, sebenernya saya punya complain sih buat novel ini. Dan itu adalah usaha Windhy yang terlalu keras untuk membuat Hiro tampak cuek, dingin dan datar. Coba liat aja :
"..." jawab Hiro malas.
"..." desah Hiro malas.
"..." jawab Hiro dengan nada malas.
"..." jawab Hiro enteng.
"..." kata Hiro datar.
"...." kata Hiro kalem.
See? Harus banget lho penulis ngasi tahu nada suara Hiro di hampir setiap dialognya. Yaa...kalo masih di awal-awal buku sih gapapa. Tapi ampe akhir masih aja ada pemberitahuan kalo Hiro ngomong dengan enteng, datar, kalem. Akkkhh....saya bosen baca diulang-ulang mulu. Pas di pertengahan masiiihh aja dikasi tahu nada bicara Hiro, rasanya langsung pengen bilang : "Iye tahuuu. Dari awal juga nada bicara Hiro itu-itu aja kok."
Oh..sama...ini 1 lagi, sebenernya saya masih bingung dengan maksud sinopsis di back cover. Katanya Hiro berkenalan dengan seseorang yang membuat hidupnya tak lagi sama. Kalo orang yang dimaksud itu seseorang yang ada di Touche 1, saya gak ngeliat perubahan hidup Hiro di mana. Kok ya rasanya kehidupannya tetap sama.
Apa ini petunjuk bahwa akan ada Touche 3 yang membuat hidup Hiro berubah karena orang itu? #hayolho
Trus juga, buat saya sih Alchemist 'nanggung'. Mungkin karena targetnya remaja ato mungkin karena terbentur jumlah halaman sehingga kasus-kasus di Alchemist rasanya kurang di-explore. Kurang digali lebih dalam. Jadinya kentang.
Saya udah bilang kan kalo Touche itu punya potensi untuk dikembangkan? Saya bilang gitu setelah baca Touche 1. Di situ dikasi tahu kalo ada sekelompok orang jahat yang mengincar kaum Touche. Imajinasi liar saya sudah membayangkan adanya pertentangan antara kelompok touche jahat dan baik, semacam X Men gitu deh. Dan tadinya saya kira buku ke-2 ini nyebut-nyebut organisasi itu. Ternyata sama sekali nggak nyambung.
Sepertinya saya memang menaro ekspektasi ketinggian pada sebuah teenlit. X)
Eng ya sudahlah gapapa. Toh Touche Alchemist punya potensinya sendiri untuk dikembangkan (siapa tahu suatu hari Hiro ketemu kriminil jenius yang juga Touche? Jadi seperti pertarungan antara Sherlock dan Moriarty tapi versi Touche).
Saya berharap banget nantinya Windhy bisa mengembangkan dunia Touche dengan tokoh-tokoh yang lebih dewasa, kasus yang lebih rumit dan misteri yang lebih kelam. Yaa....semacam rumitnya novel Dan Brown lah. Saya yakin Windhy bisa kok. :)
Saya rating buku ini 3,5 bintang aja ya. Kenapa gak 4 bintang? Ya abis ada perasaan kentang itu. Dan covernya gak berhasil bujuk saya untuk nambahin setengah bintang walopun covernya lumayan bagus sih.
Tapi untuk saat ini, saya menghargai usaha Windhy untuk menulis teenlit yang beda dari biasanya. Yang gak melulu fokus di kisah cinta menye dan lebay #eh.
Salut, Win.
PS : Setelah segala ocehan saya di atas, Windhy bisa ngerti dong ya kalo saya mengaminkan segenap tuntutan fansnya agar Windhy segera memproduksi Touche 3.
Dunia Touche itu sangat kaya dan bisa dieksplorasi lebih dalam. Dan membiarkan dunia Touche terhenti sampai di sini saja adalah sebuah kejahatan literasi #hakdes
Judul : Touche Alchemist
Penulis : Windhy Puspitadewi
Penerbit : Gramedias Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2014
Paperback, 224 Pages
ISBN 13 : 9786020303352
Sinopsis :
Hiro Morrison, anak genius keturunan Jepang-Amerika, tak sengaja berkenalan dengan Detektif Samuel Hudson dari Kepolisian New York dan putrinya, Karen, saat terjadi suatu kasus pembunuhan. Hiro yang memiliki kemampuan membaca identitas kimia dari benda apa pun yang disentuhnya akhirnya dikontrak untuk menjadi konsultan bagi Kepolisian New York.Saya sudah baca beberapa buku Windhy sebelum ini. Dan semuanya setipe menurut saya : "kisah remaja dengan topik generik." Tau kan topik generik? Itu lho...yang ceritanya seputar cinta dan temenan aja. Masalah yang sebenarnya sepele tapi karena tokohnya remaja jadi aja dibesar-besarin deh itu masalah (yaa...waktu remaja saya juga kek gitu sih).
Suatu ketika pengeboman berantai terjadi dan kemampuan Hiro dibutuhkan lebih dari sebelumnya. Pada saat yang sama, muncul seseorang yang tampaknya mengetahui kemampuannya. Kasus pengeboman dan perkenalannya dengan orang itu mengubah semuanya, hingga kehidupan Hiro menjadi tidak sama lagi.
Makanya walopun mengakui Windhy punya gaya menulis yang ngalir dan enak banget dibaca , tapi saya tidak menganggapnya istimewa.Yah semacam....satu-lagi-penulis-bestseller-yang-bukan-selera-saya lah (maap ya, Win).
Sampe saya bertemu Touche dan Touche Alchemist.
Lalu pandangan saya pun berubah...
Dengan Touche-nya Windhy mengisahkan bahwa di dunia ini ada sekelompok orang yang punya "bakat" bermacam-macam. Ada yang bisa membaca pikiran orang dengan menyentuhnya (mind reader), merasakan perasaan orang yang disentuhnya (empath), menyerap habis isi 1 buku padahal cuma menyentuh sampulnya (data absorber) atau pun menemukan keberadaan orang lain hanya dengan menyentuh peta (track finder).
Liat kesamaan semua bakat yang saya sebut di atas? Yep...semua bakat itu bisa digunakan hanya ketika sang pemilik bakat menyentuh si "target". Makanya mereka dinamai kaum touche.
Point menarik dari dunia Touche ala Windhy adalah: banyak cerita yang bisa dikembangkan.
Ada begitu banyak kemampuan Touche, yang otomatis akan memberi konflik dan kisah yang berbeda juga. Windhy bisa menciptakan kemampuan Touche apapun yang dia mau sehingga kita bisa disuguhkan dengan kisah yang beragam.
Seperti di Touche Alchemist ini.
Hiro, tokoh utamanya, punya bakat mengetahui struktur kimia suatu benda bila disentuh. Hal ini membuat Hiro jadi punya kemampuan analisis yang bikin bengong. Karena touche-nya, Hiro jadi tahu kalo air yang ada di tubuh korban yang tenggelam itu air laut dan bukan air tawar (walopun kenapa gak ada yang coba jilatin air itu, saya juga gak tahu) (yatapi masa' juga ya ada yang mau jilatin air dari jenazah? #abaikan).
Hiro juga jadi bisa bedain air yang ada di TKP itu air dari mana dan bisa bedain struktur bom. Keren deh pokoknya. Makanya Hiro jadi konsultan kepolisian New York walopun umurnya masih 18 tahun.
Dan pembaca pun diajak untuk turut mengikuti kemampuan deduksi Hiro hingga menghasilkan analisis yang tajam, aktual dan terpercaya #halah.
Buat saya sih, bagian analisis-lah yang 'megang' di Alchemist, yang bikin saya jadi gak pengen ngelepasin novel ini. Ada yang bilang kalo gaya deduksi analisis Hiro menjiplak gaya analisis Sherlock Holmes.
Mungkin Windhy memang terinspirasi dari Sherlock ya. Tapi cerita detektif mana sih yang gak terinspirasi dari tokoh rekaan Conan Doyle itu? Bahkan Agatha Christie aja mengakui kalo Poirot itu terpengaruh dari Sherlock. Sebagian besar cerita detektif yang saya tahu memang ada yang tokohnya mirip. Semacam 'saling mempengaruhi'lah (iya...analisa sotoy).
Tapi itu bukan menjiplak. Dan menuduh Windhy menjiplak dari cerita Sherlock adalah tuduhan keterlaluan yang gak berdasar.
Di luar analisisnya, yang bikin buku ini 'ngebetahin' buat dibaca sampe akhir adalah gaya menulis Windhy yang ala-ala manga terjemahan itu. Entah gimana, tulisan Windhy selalu bikin kesan seperti baca manga. Kok bisa gitu ya? #nanyaserius
Yang enak juga, keliatan kalo Windhy serius menggarap Alchemist. Minimal keseriusannya bisa diliat dari usaha Windhy mencari lokasi-lokasi di New York yang bisa masuk ke dalam plot yang dia bangun. Dan dia nambahin peta supaya tipe pembaca visual tapi miskin imajinasi (iya itu saya) gak kesulitan baca buku ini.
Dan mumpung nyebut plot, saya cuma mau bilang kalo plot Alchemist cukup oke. Pace-nya cepat dan keseruannya terjaga sampe klimaks walopun pelaku udah bisa ditebak di 1/3 akhir buku.
Tapi gapapa. Buat saya sih, pengungkapan antagonis bukan hal paling penting di sebuah novel detektif. Saya malah lebih penasaran gimana sampai si detektif bisa menyimpulkan pelakunya. Dan dalam hal ini, Alchemist gak mengecewakan.
Tapi dengan semua kesalutan itu, sebenernya saya punya complain sih buat novel ini. Dan itu adalah usaha Windhy yang terlalu keras untuk membuat Hiro tampak cuek, dingin dan datar. Coba liat aja :
"..." jawab Hiro malas.
"..." desah Hiro malas.
"..." jawab Hiro dengan nada malas.
"..." jawab Hiro enteng.
"..." kata Hiro datar.
"...." kata Hiro kalem.
See? Harus banget lho penulis ngasi tahu nada suara Hiro di hampir setiap dialognya. Yaa...kalo masih di awal-awal buku sih gapapa. Tapi ampe akhir masih aja ada pemberitahuan kalo Hiro ngomong dengan enteng, datar, kalem. Akkkhh....saya bosen baca diulang-ulang mulu. Pas di pertengahan masiiihh aja dikasi tahu nada bicara Hiro, rasanya langsung pengen bilang : "Iye tahuuu. Dari awal juga nada bicara Hiro itu-itu aja kok."
Oh..sama...ini 1 lagi, sebenernya saya masih bingung dengan maksud sinopsis di back cover. Katanya Hiro berkenalan dengan seseorang yang membuat hidupnya tak lagi sama. Kalo orang yang dimaksud itu seseorang yang ada di Touche 1, saya gak ngeliat perubahan hidup Hiro di mana. Kok ya rasanya kehidupannya tetap sama.
Apa ini petunjuk bahwa akan ada Touche 3 yang membuat hidup Hiro berubah karena orang itu? #hayolho
Trus juga, buat saya sih Alchemist 'nanggung'. Mungkin karena targetnya remaja ato mungkin karena terbentur jumlah halaman sehingga kasus-kasus di Alchemist rasanya kurang di-explore. Kurang digali lebih dalam. Jadinya kentang.
Saya udah bilang kan kalo Touche itu punya potensi untuk dikembangkan? Saya bilang gitu setelah baca Touche 1. Di situ dikasi tahu kalo ada sekelompok orang jahat yang mengincar kaum Touche. Imajinasi liar saya sudah membayangkan adanya pertentangan antara kelompok touche jahat dan baik, semacam X Men gitu deh. Dan tadinya saya kira buku ke-2 ini nyebut-nyebut organisasi itu. Ternyata sama sekali nggak nyambung.
Sepertinya saya memang menaro ekspektasi ketinggian pada sebuah teenlit. X)
Eng ya sudahlah gapapa. Toh Touche Alchemist punya potensinya sendiri untuk dikembangkan (siapa tahu suatu hari Hiro ketemu kriminil jenius yang juga Touche? Jadi seperti pertarungan antara Sherlock dan Moriarty tapi versi Touche).
Saya berharap banget nantinya Windhy bisa mengembangkan dunia Touche dengan tokoh-tokoh yang lebih dewasa, kasus yang lebih rumit dan misteri yang lebih kelam. Yaa....semacam rumitnya novel Dan Brown lah. Saya yakin Windhy bisa kok. :)
Saya rating buku ini 3,5 bintang aja ya. Kenapa gak 4 bintang? Ya abis ada perasaan kentang itu. Dan covernya gak berhasil bujuk saya untuk nambahin setengah bintang walopun covernya lumayan bagus sih.
Tapi untuk saat ini, saya menghargai usaha Windhy untuk menulis teenlit yang beda dari biasanya. Yang gak melulu fokus di kisah cinta menye dan lebay #eh.
Salut, Win.
PS : Setelah segala ocehan saya di atas, Windhy bisa ngerti dong ya kalo saya mengaminkan segenap tuntutan fansnya agar Windhy segera memproduksi Touche 3.
Dunia Touche itu sangat kaya dan bisa dieksplorasi lebih dalam. Dan membiarkan dunia Touche terhenti sampai di sini saja adalah sebuah kejahatan literasi #hakdes
Monday, April 14, 2014
(Guest Post) Pengalamanku Di Dunia Buku oleh Jo Virginia
Selamat ulang tahun ke-3, BBI..... *tebar confetti*
Untuk memeriahkan ulang tahun ke-3 BBI, Divisi Event BBI mengadakan acara guest post di mana tiap peserta kedatangan "tamu" di blognya dan bertamu di blog peserta lain. Saya beruntung bisa bertamu di blognya Mbak Ferina yang baik hati, ramah, tidak sombong, gemar menabung, serta suci dalam pikiran dan perbuatan. Makasi ya, mbak #ketjupbasah
Dan saya beruntung dua kali karena "ketamuan" (ini bahasa Indo resmi gak sih?) Jo Virginia dari Jooviginia's Book Review yang sama baik hati, ramah, tidak sombong serta suci dalam pikiran dan perbuatan (eini kenapa malah saya sepikin guest dan host sih?). Yuk daripada baca ocehan saya kelamaan, mending langsung baca postingan Jo seputar pengalamannya di dunia buku.
Pengalaman di Dalam Dunia Buku(oleh : Jo Virginia)
Tidak semua orang menyukai membaca, apalagi anak kecil yang lebih hobi mencoret-coret daripada meneliti isi buku. Mungkin, dulu saya termasuk salah satunya.
Dulu, bisa dibilang saya adalah anak yang paling malas membaca. Meskipun buku tersebut bergambar lucu, namun tetap saja saya enggan membaca. Sampai suatu ketika, pekerjaan rumah membuat saya harus membaca novel.
Saya ingat, saat itu saya berumur dua belas tahun dan duduk di kelas enam SD. Saat itulah, saya pertama kali "terpaksa" membaca buku, yang ternyata saya gemari sampai sekarang.
Saya jadi berpikir, apabila tidak dipaksa seperti itu, apabila pelajaran Bahasa Indonesia di kelas enam SD saat itu tidak mengharuskan saya merangkum isi novel, apakah saya tetap akan gemar membaca seperti sekarang ini?
Saya juga ingat, buku pertama yang mama belikan untuk saya rangkum adalah Cupid karya Leonita Ester Patricia. Mungkin beberapa orang tahu siapa dia. Semenjak itu, saya mulai gemar membaca. Dan dari gemar membaca, saya juga jadi gemar menulis.
Jadi buku banyak bermanfaat bagi kita. Bukan hanya sekadar buku pelajaran atau ilmu pengetahuan, tapi buku-buku santai lainnya juga bermanfaat.
Saya masih ingat, sangking sukanya saya baca, suatu hari saat di kelas saya sampai membaca buku di kolong meja (dulu di SMP saya, mejanya ada kolongnya yang besar jadi bisa baca buku disitu :D). Sampai dipelototin guru pun nggak nyadar *agak keterlaluan ya* sampai akhirnya bukunya disita. xD
Kemudian, saya juga ingat, buku yang pertama kali saya sukaaaaaaa pakai banget adalah buku Be In My Heart karya Leonita Ester Patricia juga. Sejak saat itu, saya jadi suka baca buku genre roman.
Nah, kemudian setelah itu, saya mulai menulis, menulis dan menulis. Tapi sayang, karena saya seorang yang moody, jadi susah bagi saya untuk melanjutkan tulisan saya yang tidak pernah selesai itu. He-he-he. Tapi, sekarang saya sudah bisa menyelesaikan tulisan saya lho! *tunggu tanggal mainnya ya :p*
Nah, dampak buku cerita untuk saya juga adalah saya bisa memiliki banyak teman. Terbukti dari Blogger Buku Indonesia, saya mengenal banyak teman yang menyukai buku dengan jenis genre yang sama, atau bahkan berbeda sehingga dapat mengenalkan saya pada buku dengan genre yang mungkin lebih menarik daripada yang saya suka.
Oh ya, saya juga ingat saat pertama kali saya mengidolakan penulis, bukan penyanyi! Huahaha.... Saya sangat mengidolakan penulis tanah air kita, Orizuka dan Esti Kinasih.
Dan bahagianya lagiiiiiii, saya mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan penulis favorit saya, kak Orizuka! Meskipun kesempatan saya untuk menemui Kak Esti belum datang, tapi gapapa deh. Dan ternyata, kak Orizuka super ramah lhoooo~
Buku pertama yang saya baca sebelum ada filmnya juga bukunya kak Orizuka yang berjudul Summer Breeze. Saat itu saya seneng banget karena bisa baca buku sebelum nonton! Karena biasanya, setelah nonton pasti deh males baca buku nya, walaupun mungkin feel nya lebih dapat saat kita baca buku.
Nah, kira-kira itu saja pengalamanku di dalam dunia buku. Bagaimana dengan pengalamanmu? :D
Seru ya ceritanya Jo. Siapa sangka sebuah tugas bahasa Indonesia telah membuat seorang putri bangsa jadi kutu buku. Ibu guru bahasa Indonesia-nya Jo, semoga anda selalu sehat yaaa.
Dan untuk lebih mengenal Jo, yuk kita ngobrol dikit lewat mini interview di bawah ini :
| Iya Jo. Yang namanya Alex emang ganteng yaaaaa. |
Joo (J) : Sampai saat ini, tahu dong apaa :p DELIRIUM!!!! Bisa banget si Alex buat aku kesengsem sampe setiap kali kenalan sama yang namanya Alex langsung kesengsem juga *buka aib* (pantes Jo gak mau sama yang di Yes. Namanya bukan Alex sih (._.) #ups).
Iya, intinya, buku Delirium ini bisa membuat aku berpetualang banget. Dan kebetulan, itu buku dystopia pertama yang aku baca. Dan berhasil membuat dystopia menjadi salah satu genre favoritku saat ini :D
(S) : Hooo....jadi sukanya buku yang bikin berpetualang ya, Jo. Kalo gitu pasti paling suka buku nikah ya secara (katanya sih) pernikahan itu gerbang petualangan baru dalam hidup. #wooyyy #salahtempat #yamaap
Anyhoo...Kalo tadi udah nanya cerita yg bisa bikin hanyut, sekarang nanya cerita yg paling bikin Joo sebel kayak apa?
(J) : Yang paling bikin aku sebel, yang ceritanya bertele-tele. Tadi habis dibahas, eh dibahas lagi. Terus, paling sebel sama novel yang endingnya ngegantung / nggak jelas (bukan novel berseri, tapi novel satuan yang emang endingnya sengaja dibuat ngegantung). Emang sih, mungkin penulis berpikir supaya pembaca bisa menebak alurnya sendiri / sesuai dengan keinginan pembaca. Cuma kan sebel aja kalau ternyata nggak sesuai dengan yang diharapkan, ya kan?? (Setujuuuu banget Jo. Tapi emang gak semua hal bisa sesuai harapan. Ngarep bisa dinner-sinar-lilin sama Adam Levine, eeehh...faktanya malah dinner-lampu-petromak bareng tukang nasi goreng #TerimaSaja #HidupAnugerah #Booyah)
(S) : Sekarang beralih ke penulis favorit yuk. Penulis roman kan banyak, kenapa Joo ngefavoritin banget Orizuka dan Esti Kinasih? Apa yang membuat dua orang itu spesial?
(J) : Iya, karena kak Orizuka dan kak Esti ini masing-masing punya ciri khas dalam menulis yang aku sendiri terkagum-kagum. Entah itu sad ending atau happy ending, pokoknya mereka membuat cerita yang unik yang menurut aku nggak pasaran. OKE deeh pokoknya :p
(S) : Ceritain dong serunya ketemu Orizuka kemarin. Sekalian minta fotonya kalo ada.
(J) : Serunya ketemu kak Orizuka : SERU PAKE BANGET DEH! Jadi, aku sudah bertemu dengan dia itu.... hmmm, mungkin sekitar 3 kali? Nah, awalnya aku kenalan pas nonton bareng SHINee yang diadakan Yes24 (eciyeeee.....pasti sama mas Y...ah sudahlah), saat itu admin bukunya nanya, mau kenalan sama yang namanya Orizuka nggak? *soalnya aku sering beli bukunya kak Orizuka*, lalu dengan senang hati tentu saja aku jawab MAUUUUUUUU! Nah, tapi saat itu, aku masih canggung setengah mati, jadinya, cuma senyum-senyum cengar-cengir ga jelas. Tapi senengnya, pas aku mention twitter nya, kak Orizuka hafal itu aku. Bahagia banget kan?! Ramah banget gitu sama pembaca nya :D
Kemudian, kedua kali ketemu di IRF (Indonesian Readers Festival) yang diselenggarakan Goodreads Indonesia. Wah, senengnya bukan main. Karena saat itu buku kak Orizuka masuk dalam nominasi best cover, aku yakin banget kak Orizuka pasti dateng, jadilah aku bawa bekal dari rumah (buku kak Ori yang belum di-TTD, ada sekitar 7 buku) yang kebetulan pas di aula aku malah ditawarin duduk bareng pas minta TTD :)). Kemudian, dari sana aku juga kenalan sama kak Lia Indra Andriana, salah satu penulis favoritku juga hehehehe. Dan senengnya lagi, aku juga bawa bukunya kak Lia! huahahahaha~ so happy dapet tanda tangan dobel. (Wah..kebetulan banget bawa bukunya Lia ya, Jo).
Nah, paling serunya sih pas duduk bareng itu. Rasanya deg dag dig dug duar! Coba deh bayangin, duduk bareng sama idolaaaaamu! Jadi ngebayangin, kalau duduk bareng SHINee / EXO apa rasanya yaa? *mulai ngelantur* (aku sih kalo duduk bareng mereka gak sempat ngerasa dag dig dug duar, Jo. Udah langsung tak seret ke penghulu. *disundut bom sama shawol*)
Ya intinya, seneng banget deh. Foto dan berita lengkap bisa dibuka di sini ya (yuk langsung dibaca.)
(S) : Seru banget ceritanya, Jo. Mudah-mudahan bisa ketemu Esti Kinasih kapan-kapan yaa. Biar ada cerita-cerita seru lagi. Terus...terus Jo, yuk kita bahas ruang baca impianmu (Iya ini emang perpindahan topik yang jauh. Gapapa dong ya). Ruang/pojok baca impianmu kayak apa? Boleh disertakan gambarnya kalo ada
(J) : Ruang / pojok bacaan impianku itu.... hmmm yang penting, ruangan itu harus simple. Warna temboknya juga kalem, jadi aku nggak kepo kan, coba bayangin kalau temboknya berbentuk abstrak, bisa-bisa aku lihatin terus itu tembok xD. Kemudian, ruangan itu harus berisi aku sendiri. Paling sebel kalau lagi baca, eeeh diajak ngomong. BETEEEE! ==> SETUJU!
Tapi biar nggak kesepian, ditemenin musik favorit Korea boleh lah~ huehehehe. Terus, kalau bisa lemari bukunya, isinya diurutin berdasarkan pengarang / abjad. Jadi gampang nyari deh. Kalau gambarnya maaf yaaa, nggak ada :(
Yak...demikianlah posting dan interview dari Jo. Bener kan yang saya bilang kalo dese itu ramah dan baik hati.
Sukses untuk bukunya ya, Jo. Wish you all the best ^_~
Sementara itu, sambil nunggu bukunya Jo terbit, yuk temui Jo di sini :
| Blog | Twitter | Goodreads | Wattpad |
Makasi udah maen ke Through Tinted Glass ya, Jo. Jangan kapok main-main ke sini lagi.
Sekian dan terima berlian.
Saturday, April 12, 2014
Teka Teki Terakhir
Judul : Teka Teki Terakhir
Penulis : Annisa Ihsani
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 9786020302980
Halaman : 256 halaman; 20 cm
Desain sampul : Eorg
Editor : Ayu Yudha
Rating: 4,5 out of 5 stars
Sini saya ceritakan
tentang gadis kecil bernama asdewi. Dia sangat mencintai matematika
(walo gak bisa disebut jago) tapi mengenaskan dalam urusan IPA.
Kalo diledekin tentang nilai IPA-nya yang tiarap, dia selalu berkelit dengan : "Biarin aja. Aku kan mau jadi koki jadi gak perlu jago IPA. Yang penting bisa matematika biar bisa menakar bahan."
Kalo diledekin tentang nilai IPA-nya yang tiarap, dia selalu berkelit dengan : "Biarin aja. Aku kan mau jadi koki jadi gak perlu jago IPA. Yang penting bisa matematika biar bisa menakar bahan."
Then life happens...
Semakin dewasa, dia menemukan keasyikan dalam biologi (catat : biologi, bukan IPA), menganggap masak itu cuma hobi di kala iseng bukan lagi profesi impian, dan kecintaan akan Matematika? Ah...cuma jadi kenangan usang di ruang ingatan.
Semakin dewasa, dia menemukan keasyikan dalam biologi (catat : biologi, bukan IPA), menganggap masak itu cuma hobi di kala iseng bukan lagi profesi impian, dan kecintaan akan Matematika? Ah...cuma jadi kenangan usang di ruang ingatan.
Sampai dia membaca novel tentang Laura kecil yang tertarik pada Matematika. Dan kenangan yang lama membeku itu pun berpendar kembali.
Kenapa misterius? Karena banyak gosip yang beredar mengenai pasangan tersebut. Dari gosip mereka adalah ilmuwan gila sampai isu keluarga ningrat yang bersembunyi. Laura sendiri mengira mereka adalah penyihir. Pada akhirnya, tak ada yang tahu persis kebenarannya. Dan ketertarikan Laura pada rumah Maxwell pun surut.
Hingga suatu hari di bulan Maret 1992.
Hari itu, Laura sedang kesal karena nilai tes matematikanya mendapat 0. Saking jengkel, dia membuang lembaran nilai tes itu di tong sampah depan rumah Maxwell.
Eh ndilalahnya...ketika Laura melewati depan rumah itu keesokannya, Tuan Maxwell memanggilnya. Beliau menyerahkan kertas tes Laura yang kemarin dengan sebuah buku berjudul "Nol : Asal-usul dan Perjalanannya" beserta pesan "Mendapat nol tidak terlalu buruk, terutama setelah begitu lama pencariannya".
Sesampainya di rumah, Laura melihat bahwa Tuan Maxwell mengoreksi jawaban tesnya. Rasa penasaran yang lama terpendam terhadap pasangan Maxwell pun menyeruak kembali. Terutama setelah dia membaca buku sejarah angka nol yang diberikan Tuan Maxwell.
Dengan niat berterima kasih dan mengembalikan buku, Laura memberanikan diri mengetuk pintu rumah keluarga Maxwell. Dan itulah awal persahabatannya dengan Nyonya Maxwell yang ramah dan suaminya yang penggerutu.
Namun bukan hanya teman yang didapat Laura. Karena di balik pintu rumah keluarga Maxwell, ada sekumpulan teka teki logika, paradoks tentang tukang cukur dan pengetahuan tentang teorema matematika yang belum terpecahkan selama tiga abad. Laura juga jadi tahu bahwa Tuan Maxwell adalah matematikawan yang selama 40 tahun terakhir sedang mencari pembuktian teorema tersebut.
Teorema apa sih yang sebegitu hebatnya sampai membuat Tuan Maxwell terobsesi? Akankah dia berhasil menemukan pemecahannya? Untuk menemukan jawabannya, kamu mesti baca sendiri buku ini.
"Pikirkan seorang tukang cukur di kota bernama Seville. Di kota itu, semua penduduk kalau tidak mencukur rambut mereka sendiri, tentu dicukur oleh si tukang cukur. Tetapi si tukang cukur hanya mencukur rambut orang-orang yang tidak mencukur rambutnya sendiri. Pertanyaannya adalah, apakah si tukang cukur mencukur rambut sendiri?"
-Nyonya Maxwell-
Segar. Itu kesan
pertama yang lewat di benak saya saat membaca novel ini. Beda dengan
novel sejenis yang problem tokohnya berkutat seputar cinta monyet dan
nge-geng ala sinetron yang lebay, Teka Teki Terakhir (TTT) membahas
keseharian gadis biasa. Bagaimana Laura pusing dengan nilai ulangannya
kemudian belajar untuk memperbaiki nilai atau bagaimana Laura
sulit menyesuaikan diri dengan sekolahnya. Di tangan yang salah, materi seperti itu bisa jadi sangat
ngebosenin. Tapi penulis lincah merangkai kata sehingga baca keseharian
Laura ya ngalir aja rasanya.
Unsur matematika yang diselipkan dalam TTT juga menambah keasyikan membaca.
Sekali lagi, salut buat penulisnya yang pinter masukkin knick-knack seputar Matematika secara halus sehingga novel ini jauh dari menggurui apalagi menimbulkan kesan 'pamer-pengetahuan-penulis'. Yang ada malah seru dan kesan 'matematika-itu-keren-banget-yaa'.
Sekali lagi, salut buat penulisnya yang pinter masukkin knick-knack seputar Matematika secara halus sehingga novel ini jauh dari menggurui apalagi menimbulkan kesan 'pamer-pengetahuan-penulis'. Yang ada malah seru dan kesan 'matematika-itu-keren-banget-yaa'.
Littlewood, desa kecil yang entah di mana itu cocok untuk cerita semacam ini. Karena kecil maka wajar kalo masyarakatnya jadi akrab dan kepo. Lama tinggal di Jakarta bikin saya kangen suasana desa kecil seperti itu.
"Lagi pula kalau kau ingin mencari tahu tentang sesuatu, perpustakaan tempat yang tepat untuk memulai." -Laura-Tapi buat saya, yang paling 'megang' adalah setting waktu di tahun 1992. Jaman internet sudah ada tapi belum umum digunakan, dan google masih dalam angan-angan Larry Page & Sergey Brin. Maka perpustakaan satu-satunya sumber Laura dalam mencari informasi.
Coba kalo waktu itu sudah ada Google ya, Laura kan tinggal memasukkan nama Tuan Maxwell dan voila...keluar info lengkap beliau. Gak ada lagi deh rasa penasaran yang mendorongnya untuk berkenalan dengan keluarga Maxwell. Ah teknologi; memperluas cakrawala tapi kadang membatasi interaksi dunia nyata.
Karakter yang ada di TTT sejujurnya gak ada yang menonjol banget. Semuanya punya kekhasan sendiri dan sama kuatnya. Sebagai karakter utama dan narator tunggal, Laura cukup oke. Dia gak humoris, sarkastis atau sinis. Dia cuma gadis biasa aja. Karakter kesukaan saya malah Tuan Maxwell yang eksentrik dan Katie, sahabat Laura, yang suka menjadi 'voice of wisdom' untuk Laura.
Protes saya pada novel ini hanya satu: yaitu penyebutan Tuan dan Nyonya kepada pasangan Maxwell. Kalo disebut sebagai kata ganti orang ketiga sih masih wajar. Tapi kalo dalam percakapan langsung jadi aneh. Seperti kalimat : "Ya Tuan, dari mana anda tahu namaku?" "Terima kasih Nyonya". Kok Laura lebih terasa seperti bawahan daripada tetangga ya...
Saya bisa ngerti kalo novel ini berbahasa Inggris. Tuan dan Nyonya memang jadi Mr dan Mrs. Tapi bahkan novel terjemahan pun mengubahnya jadi "Bapak dan Ibu". Ini memang kesalahan kecil sih. Tapi lumayan menganggu di awal baca. Walau pun lama-lama saya jadi terbiasa dan bisa cuekkin.
Novel ini ditutup dengan ending yang realistis dan cocok. Gak semanis martabak toblerone,tapi juga gak sepahit brotowali. Memang seperti itulah hidup.
"Semua orang aneh dengan caranya sendiri. Terkadang keanehanmu tidak cocok dengan keanehan orang lain, jadi mereka menyebutmu aneh. Tetapi terkadang keanehanmu cocok dengan keanehan seseorang, dan kalian bisa berteman." -Julius-In short, Teka Teki Terakhir mengajarkan kita untuk menghargai setiap aksi dan setiap momen yang kita lakukan. Kita jarang sadar bahwa satu aksi kecil dan tampak gak penting yang kita lakukan hari ini, bisa berpengaruh besar di esok hari. Seperti aksi kecil Laura yang membuang kertas ujiannya di tong sampah keluarga Maxwell.
Teka Teki Terakhir juga mengajarkan untuk terus mengejar mimpi. Berikan usahamu yang terbaik dan nikmati prosesnya. Seperti Tuan Maxwell yang berusaha maksimal untuk membuktikan penelitiannya dan gak pusing dengan kemungkinan usahanya berakhir sia-sia. Karena bagi beliau yang terpenting adalah proses, bukan hanya hasil.
Empat bintang untuk Teka Teki Terakhir termasuk untuk covernya yang cakep banget.
Good job, Gramedia Pustaka Utama. Banyakin dong menerbitkan teenlit bagus kayak gini.
Dan kamu keren deh mbak Annisa Ihsani. I'm your new fan. :)
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)

_2_resized.jpg)







