Wednesday, February 05, 2014

Buku = Investasi (???)


Post ini terbit karena tergelitik akan artikel yang berjudul 5 Aset Yang Mungkin Anda Punya Di Rumah. Artikel ini memberi info kalo ada beberapa barang di rumah kita yang bisa jadi aset berharga di kemudian hari seperti perangko kuno, lukisan ato perhiasan (yang ini mah jelas lah yaa).
Ebentar....sebelum lanjut, biarlah saya informasikan dulu kalo menurut LiveOlive, aset adalah barang milik yang punya nilai ekonomis, bisa dijual dan biasanya harga jualnya lebih tinggi daripada harga beli.

Yah...buat saya sih koleksi perangko kuno atau lukisan dengan harapan harganya melambung suatu hari nanti iyu bukan saya banget. Tapi jadi kepikir juga : koleksi buku saya kira-kira bisa jadi aset gak ya suatu saat nanti? Apa buku bisa dianggap investasi masa depan (selain investasi untuk pengetahuan pastinya).

Lalu saya pun iseng browsing, dan yang ketemu malah website yang menawarkan buku second dengan separuh harga. Waduh.....ini sih bukan aset namanya *emot muka kosong ala WA* o.O
Mencoba browsing dengan keyword berbahasa Inggris, yang ketemu malah artikel List of Most Expensive Books. Pas liat list-nya, yaiyalaaaaahhh mahal. Wong di list itu ada Codex Leicester yang masih tulisan tangan asli Leonardo da Vinci dan Magna Carta original exemplar.

Hadeuh.....butiran debu digital kayak saya ini mana nempil sih berurusan dengan buku sakti semacam itu
Trus gimana dong? Masa' sih koleksi saya dikategorikan bukan aset? *gak ikhlas* Hingga suatu hari, saya iseng liat-liat akun facebook para penjual buku dan perhatian saya terantuk pada penjual komik seken nan langka.

Ah ya benar sekali!
Komik terbitan jadul yang sekarang sulit dicari bisa dikategorikan aset juga. Soalnya banyak banget peminat komik lawas ini. Contohnya komik Yokohama yang ketika terbit dulu seharga Rp 3000,-/buku, sekarang harganya Rp 450.000,-/set (7 buku). Padahal, seandainya dibeli dengan harga komik baru saat ini pun, 7 buku itu gak nyampe 300rb mestinya.

Satu lagi komik langka berharga mahal itu Time Limit. Komik yang legendaris saking lucunya ini sekarang dibanderol Rp 290.000/set. Murah? Ehm...gak juga sih. Soalnya harga segitu biasanya bukunya udah gak terlalu mulus lagi.

Tapi harga kedua komik lawas itu masih kalah epik dengan komik Pank Ponk yang sangat melegenda itu.

sumber
Bayangkan......satu set komik Pank Ponk dengan kondisi seperti di atas (cover bukunya gak lengkap), dijual seharga Rp 1.200.000,-.
Iyaaa.....kamu gak salah baca kok. Harganya beneran 1,2 juta.
Saya ulang lagi ya biar dramatis (halah!) : SATU KOMA DUA JUTA! ヘ(゜◇、゜)ノ *nebok celengan semar* *isinya duit jigo-an semua*. Padahal siapa pun pemilik pertama komik ini, dia belinya seharga Rp 3000/buku. Naik sekali ya harganya.

Komik lain yang juga dianggap berharga itu : Si Cerdik Michael (dihargai Rp100.000/buku), The Duck of Mr. Fredward (sekitar 400rb/set), dan City Hunter (600rb/set, kondisi gak mulus).
Dan saya teringat satu set ensiklopedi lawas yang dulu pernah saya bahas di sini. Ensiklopedi itu kalo dijual sekarang harganya bisa 3x lipat harga belinya dulu. o.O

Jadi buat kalian yang dulu koleksi komik, coba dibongkar lagi koleksinya. Dilihat, adakah komik-komik langka ini di antaranya? Kalo ada, buruan diselamatkan. Jangan sampe kena banjir ato dimakan rayap (musuh kutu buku nih).

Gimana dengan saya?
Well....saya punya sih beberapa komik langka di atas. Sayangnya, saya justru gak punya Pank Ponk ( ._.)/|suram|. Ada yang mo kasi gak ya? Apa untuk Secret Santa tahun 2014 ini saya bikin wishlist-nya komik Pank Ponk aja? #woooyyy
Tapi saya tetap masih gemes nih. Masa' iya sih gak ada novel yang bisa masuk kategori "aset"? (dan definisi novel di sini adalah novel yang pernah diterbitkan secara massal, bukannya buku yang cuma ada satu di dunia semisal naskah tulisan tangan asli Leonardo Da Vinci itu). Ada yang tahu novel apa aja yang masuk kategori "aset"?


(PS : Oya...kalo ada yang terinspirasi menjadikan komik sebagai aset, saran saya nih : jangan terlalu tahan harga ya. Buruan dijual sebelum Elex ato penerbit lain cetak ulang komiknya. Kejadian di komik Sailor Moon dan Miss Modern yang dulu harganya meroket, sekarang terjerembab dengan sukses gegara dicetak ulang. Yang punya Pank Ponk, boleh lho dijual ke saya seharga 3ribu.buku #laaahh)

Thursday, January 30, 2014

Pulang

Judul : Pulang
Penulis : Leila S Chudori
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit : 2012
Bahasa : Indonesia
ISBN : 139789799105158
Paperback. 464 Halaman
Rating : 3,5 out of 5 stars

 Kecuali masa sekolah wajib 12 tahun dulu, saya jarang tinggal lama di rumah. Bahkan sampai sekarang pun, kalo dihitung dalam setahun saya lebih banyak di luar daripada anteng di rumah. Apa yang membuat pergi begitu menarik?
Buat saya, kenikmatan terbesar pergi justru ada di saat pulang. Selalu ada perasaan 'diterima' setiap melihat kembali rumah tua yang kebanjiran itu. Dan ada rasa aman dan nyaman setiap bertemu kembali dengan kamar-bak-kapal-pecah yang selalu mampu memberikan inspirasi untuk menulis blogpost ^_^ .
Pulang adalah kegiatan yang mudah dan menenangkan bagi saya.

Bagi Dimas Suryo dan ketiga rekannya, Pulang merupakan hak eksklusif yang tak bisa didapatnya lagi. Walau pun menganut paham netral, namu bekerja di kantor surat kabar yang berhaluan kiri membuat Dimas jadi buronan pemerintah Orde Baru sejak tahun 1965. Kebetulan saja dia bisa selamat karena saat petugas pemerintah mengadakan 'pembersihan' di kantornya, Dimas sedang mengikuti konferensi wartawan beraliran kiri di Santiago bersama rekannya.

Lho? Kok bisa Dimas yang netral malah ikut konferensi aliran kiri?
Ya bisa saja. Soalnya saat itu Dimas ke Santiago demi menggantikan Hananto, sahabatnya. Hananto urung ikut konferensi karena ingin membereskan pernikahannya dengan Surti Anandari yang saat itu sedang bermasalah.
"Dia ditolak oleh pemerintah Indonesia, tetapi dia tidak ditolak oleh negerinya. Dia tidak ditolak oleh tanah airnya."(Hal 198)
Setelah passportnya dicabut pemerintah Indonesia dan sempat terlunta di Peking, Dimas dan ketiga rekannya pun mendapatkan suaka di Paris. Perlahan, mereka membangun sarang di kota romantis itu. Dimas bahkan bertemu dengan Viviene, seorang gadis Perancis. Mereka menjalin kasih dan menikah hingga lahirlah Lintang Utara, putri semata wayang mereka.
Dimas dan ketiga rekan juga membuka restoran Indonesia di Paris yang mendulang sukses. Restoran itu mereka beri nama Restoran Tanah Air.
Namun Dimas tetap resah. Dalam hati dia tetap merindukan tanah airnya. Dia selalu resah ingin pulang walau tahu pintu untuknya sudah tertutup.

Tiga puluh tiga tahun kemudian, justru Lintang yang berkesempatan pulang ke Indonesia. Kepulangannya demi membuat film dokumenter tentang kesaksian mereka yang terlibas di tahun 1965. Tanpa sengaja, Lintang terseret gejolak reformasi yang saat itu sedang menggelora di negeri ini. Bersama Alam, putra Hananto, Lintang pun mencoba memetik Indonesia dari kata I.N.D.O.N.E.S.I.A, berusaha mengenal tempat pulang yang begitu dirindukan ayahnya dan mencoba memahami bagi seorang Lintang Utara kemanakah tempat pulang yang sesungguhnya.
Another winter day has come and gone away
In either Paris or Rome
And I wanna go home...Let me go home

(Michael Bubble - Home)
Saya kecele.
Saya pikir novel ini akan bergelegak dengan semangat perjuangan; akan mampu membuat emosi saya membuncah dan rasa nasionalisme saya meletup; akan mampu membuat saya berteriak "MERDEKA!" seperti yang biasa terjadi saat saya membaca sesuatu yang nasionalis (atau saat saya mendengar lagu Maju Tak Gentar). Ternyata...Pulang adalah novel roman yang mengambil setting peristiwa 1965 dan 1998.

Daripada dibilang historical fiction, saya lebih sreg bilang ini novel roman saking kuyupnya cinta di novel ini. Mulai dari kisah cinta bergelora antara Dimas dan Surti, persaingan cinta teman-teman Dimas demi memperebutkan kembang kampus, cinta pandangan pertama Vivienne pada Dimas bahkan sampai cinta menggelora Lintang dan Alam.
Oh tentu saja saya tahu isi novel ini bukan hanya itu. Tapi justru itulah kesan yang tertinggal di benak saya. Selain juga kisah cinta Dimas pada Indonesia dan seni kuliner.

Saya juga mengira novel ini akan sangat membahas kehidupan Dimas dan ketiga rekannya sebagai eksil politik. Bagaimana sulitnya menjadi orang tak bertanah air, bagaimana pahitnya berkali-kali ditolak permohonan visa untuk sekadar menengok keluarga tercinta di kampung. Bagaimana pedihnya setiap kali 17 Agustus datang dan hanya bisa merayakannya dari jauh. 
Ternyata novel ini lebih membahas pergolakan dan keresahan hati seorang Lintang.

Kesaksian para saksi 1965 yang semestinya digarap Lintang pun tidak mengambil porsi yang cukup banyak di sini. Ato mungkin banyak, tapi tertutupi kesanya oleh kegalauan Lintang akan arti hadir seorang Alam di hatinya. Seenggaknya itu yang terasa buat saya.

Mungkin saya termakan propaganda cover ya. Gambar tangan mengepal berlatarkan warna kuning kunyit pada cover yang mengingatkan saya pada bungkus sebuah minuman berenergi dengan tagline "Pasti JOSS!" membuat saya mengira buku ini juga akan terasa "Joss!". Lagi-lagi...saya kena bualan cover :)).

Tapi di luar rasa kecele itu, Pulang sungguh sebuah novel yang apik. Gaya bahasa Leila begitu rapi dan renyah. Saya salut karena beliau mampu menyuguhkan sebuah novel dengan gaya bahasa sastra yang begitu mudah dikunyah. Tak perlu ada kening yang berkerut dalam mengartikan untaian kata yang ditulis Leila. Semuanya enak dibaca, semuanya terangkai dengan indah. Bagi saya, seharusnya sastra memang seperti ini. Indah, puitis namun tetap bisa dicerna oleh semua kalangan, pun bagi mereka yang bukan penggemar sastra.

Saya juga suka pada gaya penceritaan multiple POV 1 yang dipake Leila di Pulang. Yang keren, Leila bisa menulis perpindahan POVnya dengan lancar. Mulai dari Hananto sebagai narator, dilanjutkan oleh Dimas, Vivienne, Lintang hingga Alam, semuanya berpindah dengan lancar. Pembaca tak dibuat bingung siapakah yang sedang bercerita saat itu. Salut, Mbak Leila.

Akhir kata, Pulang mengajak kita melihat kehidupan para eksil politik dan keturunannya dari sisi lain. Bahwa tak selamanya kiri itu salah dan kanan selalu benar. Bahwa sungguh tak adil bila kita tetap mendiskriminasi para anak dan cucu mantan tapol. Yang 'melawan' pemerintah kan bapaknya, kenapa toh turunannya masih didiskriminasi? Dan Pulang juga mengajak kita untuk selalu buka mata dan telinga pada kebenaran yang ada di dua sisi.

Tiga setengah bintang untuk Pulang.


==============================================

Buku ini adalah pemberian Santa saya yang baik hati. Terima kasih ya untuk bukunya yang seru banget :).
Sekarang saatnya menebak identitas santa saya. Seperti riddle yang tertera di sini, ada 3 hal yang bisa saya simpulkan dari riddle :
1. Santa saya anggota Bajay Jabodetabek
2. Santa pernah saya kasi dan pinjemin buku
3. Santa knows me well

Hmm....saya kenal baik semua anggota Bajay Jabo. Udah 2 dari 3 riddle terjawab (heuh?). Untuk point ke-2, saya sebenarnya punya 4 suspect. Tapi dari hasil memecahkan riddle teman-teman lain, saya bisa mencoret 3 suspect tersebut.
Lagipula di antara teman-teman bajay jabo lain, cuma si 'terduga-santa' yang belum saya temukan siapa X-nya.

Ditambah si 'terduga-santa' pernah bilang di salah satu chat bajay Jabo bahwa riddle darinya sangat mudah. Cuma tinggal cocokkin tulisan tangan saja, jangan terpengaruh isinya. Daan....akhir bulan Desember lalu, kebetulan si 'terduga-santa' mengirimkan saya paket dan tulisannya mirip dengan yang di riddle.

Jadi dengan rasa percaya diri yang membuncah (tsah!) maka saya pun menebak bahwa santa saya adalah :


Bener gak, mbak Yuska? :)
Kalo salah, saya minta maaf sama santa saya ya. Tolong tunjukkan dirimu dong.

Wednesday, January 29, 2014

To Buy Or Not To Buy An E-reader

source

Sudah pasti, saya lebih mencintai buku cetakan daripada buku elektronik. Tapi toh, saya gak bisa mengelak dari kepraktisan yang ditawarkan sebuah buku elektronik.

Sebagai pembaca yang moody dan cepat bosan, saya selalu membawa minimal 2 buku di tas. Ya abis gimanaaa.....saya kan bosenan. Kalo cuma bawa 1 buku doang, saya merasa insecure gitu lho (gaya loee, wi). Khawatir saya jenuh pada 1 buku yang saya bawa lalu jadi mati gaya. Apalagi kalo pergi ke luar kota. Wuih....pergi 3 hari ke Bandung aja saya bisa bawa 5 buku di tas. Iya sih....lebay. Kayak di Bandung gak ada toko buku aja ya (_ _"). Gimana kalo saya bepergian ke luar negeri lebih dari seminggu?
Eugh....saya butuh 1 koper khusus buat buku >.< Sementara baju malah cuma dibawa secukupnya aja.

Tentu saja hal ini merepotkan dan tas jadi berat, Jenderal!
Belum lagi buku yang dibawa-bawa ini beresiko lecek. Sementara saya kan paling risih liat buku kesayangan saya lecek. So...yang ada nih ya, tiap malam saya keluarin buku yang ada di tas, saya 'rapiin' lipatan buku yang lecek. Kalo perlu malah saya setrika. Udah saya bilang kan kalo saya ini ribet?

Makanya, ketika pertama kenalan dengan teknologi buku elektronik, rasanya horeeee banget.
Akhirnya saya bisa bawa banyak buku tanpa khawatir lecek dan berat lagi.
Apalagi, buku elektronik itu bisa dibaca dengan device apapun, termasuk dengan handphone dan tablet. Gak perlu pusing deh beli E-reader ^_^

Awalnya sih begitu pikir saya...
Tapi lama kelamaan berasa rese juga baca pake handphone (layarnya kekecilan dan hp jadi cepat lowbat) dan tablet. Terutama tablet.
Pertama sih enak aja ya baca ebook lewat tab. Tapi CTS saya jadi gampang kambuh gegara si tablet ini lumayan berat juga. Selain itu, perhatian saya mudah terdistraksi berhubung bisa sekalian online di tablet. Sekali lagi...udah dibilang kan kalo saya ribet? (iyeee...wi. Sekali lagi, bisa dapat piring cantik nih).

Cuma....ya masih ragu-ragu juga beli e-reader. Takut mubadzir aja.
Jadinya kemarin iseng ikutan kuis berjudul "Saya Ingin Beli E-reader" di LiveOlive. Dari hasil skor sih, saya dapat nilai 60. Yang artinya sih saya boleh aja beli e-reader, tapi hati-hati memilih merk supaya sesuai kebutuhan dan bisa dipake dalam jangka waktu lama.
Nah lho...yang bagus apa ya?

Menurut saya sih, yang saya butuhkan itu e-reader yang:
1. ringan
2. bisa dipake membaca dalam gelap (karena saya suka membaca saat lampu sudah dimatikan)
3. gak perlu bisa browsing. Asal bisa dipake online untuk beli ebook sudah cukup kok.

Ada yang bisa sarankan saya e-reader yang cocok? Makasi sebelumnya :).
(ps : nanya ini doang preambulenya panjang ya :D)

Wednesday, January 22, 2014

Ketika Si Book Hoarder Berkontemplasi...

Saya tipe orang yang gak suka bikin resolusi apa-apa karena gak mau terbeban >.< , saya juga penganut setia paham 'hidup-itu-mengalir-saja'. Termasuk dalam hal mengatur dana :|
Pokoknya selama saya ngerasa kebutuhan bulanan tercukupi dan sudah menyisihkan dana untuk tabungan dan kondisi darurat, ya berarti sudah beres. Sisa pemasukan bisa saya pake semaunya.

Makanya waktu awal 2014 kemarin banyak teman blogger buku yang beresolusi untuk menetapkan budget belanja buku bulanan atau yang bersumpah untuk tutup mata akan diskonan toko buku (yang lebih gampang ditemukan daripada jodoh #halah), saya mah anteng aja.

Sampai secara kebetulan, ada teman yang retweet artikel berjudul Cek Kondisi Keuangan Anda Dalam 5 Menit dari LiveOlive ini. Berhubung kepo, saya pun mencoba cek dan....terpana baca hasilnya.

See...point pertama artikel itu adalah menyarankan untuk mengetahui suku bunga deposito bank. Yang ngenes adalah...saya gak punya deposito berjangka ( ._.)/|suram|.

Lalu point kedua untuk mengetahui cakupan asuransi. Okeh...yang ini lumayan bikin tenang karena saya punya (walopun setelah ngecek polis, cakupannya standar aja). Aeehh..... *merenung di bawah shower*
Point ketiga dianjurkan untuk menulis tujuan jangka pendek (dalam 1 tahun) sampai jangka panjang (dalam 3 tahun).
I was like : "Happpaahh?" o_O7
Manusia mengalir kayak saya ini mana punya tujuan jangka pendek maupun panjang? Masa' iya dalam tiga kolom tujuan itu saya cuma tulis "Hidup-Bahagia-Meninggal-Masuk-Surga"? *elo kira ini tulisan di belakang truk, wi?*

Dan point ini makin terasa menusuk karena disertakan pula quote dari Steve Sebold (penulis buku How Rich People Think) yang berbunyi "Orang kaya memiliki tujuan perusahaan dengan tenggat waktu do or die".
Sa...saya....jarang (versi halus dari gak pernah) ngasi deadline ke diri sendiri. Masa' ini artinya saya gak bisa jadi orang kaya? (T^T) #nyalainkompor #bikinpudingbaygon

Setelah puding baygonnya udah matang, saya pun lanjut baca point ke-4 yang menyarankan untuk mengelola pengeluaran satu jenis pada satu waktu. Jadi misalnya suka belanja buku, makan di resto, beli mobil baru (ya kali aja ada yang hobinya beli mobil baru tiap bulan),  nah diwajibkan untuk memilih satu jenis pengeluaran aja per bulan dan tetapkan budgetnya.
Ini mirip dengan resolusi yang dibikin teman-teman saya sih. Cuma kalo di sini harus lebih strict lagi mengikuti budget itu (supaya tujuan jangka pendeknya tercapai).

Kayaknya....dari 4 point di atas, yang terakhir ini yang paling bisa cepat saya adaptasikan ya (dan setelah berkontemplasi lama #aeh, saya bisa merumuskan target jangka pendek.Hohohoho.... *ketawa bangga*).
Jadi sepertinya saya udah mesti menetapkan budget belanja buku nih.
Pertanyaannya : sebaiknya berapa ya? 
Soalnya asal milih satu angka sih gampang, tapi begitu ketemu iblis bernama diskonan, langsung buyar itu budget. Jadi saya pengen menetapkan target yang realistis aja.
Teman-teman, kalian pada netapin budget berapa sih untuk belanja buku? *nanya serius*

Kalo saya, untuk bulan Januari dan Februari saya bakal berpegang di niat : "gak bakal nambah timbunan baru sampe minimal 10 timbunan buku lama sudah terbaca".Tapi saya sadar sih, niat ini akan gampang goyah saat ketemu Pesta Buku ato kalo ke Bras Basah. Makanya sebelum salah satu terjadi, saya kudu banget netapin budget. Bagi-bagi infonya dong kalian netapin budgetnya berapa?

Baidewei...point kelima dari artikel itu mengingatkan agar gak lupa menghitung berkat yang sudah didapat sebelum ini. Alhamdulillah, banyak yang bisa saya syukuri. Fakta bahwa saya masih hidup dan tetap sehat dan mampu ngeblog aja sudah saya syukurin banget kok.
Dan ada satu lagi yang saya syukuri : menemukan artikel di atas dan dapat pencerahan soal pentingnya berencana demi terwujudnya impian jadi juragan gorengan sehat nan sukses serta hidup-bahagia-meninggal-masuk-surga (Minta amin-nya doong).
So...saya memutuskan untuk batal mengonsumsi puding baygon ini. Ternyata masih ada harapan untuk saya. Tapi sayang, gak ada harapan untuk tikus di rumah. *umpanin puding tertjintah ke tikus*

Friday, December 20, 2013

Pamer Riddle Dari Santa



Event Secret Santa ala BBI kembali lagi. Seperti event-event BBI lainnya yang selalu seru, event kali ini pun gak kalah seru dong.

Bagaimana sistem mainnya?
Simple. Setiap orang akan menjadi Secret Santa orang lain dan juga akan menjadi X ato Target yang dikirimin hadiah oleh Secret Santa lainnya. Sesuai namanya yang pake kata "secret", maka sang target/X gak boleh tahu siapa yang jadi santa-nya sampai waktu yang ditentukan.
Hanya ada 2 orang yang tahu siapa yang jadi Secret Santa siapa, dan mereka adalah panitia event ini.

Lalu apa para peserta hanya pasrah menunggu para Santa membuka jati dirinya? Weits...nggak dong.
Para X akan menerima riddle yang berisi petunjuk untuk memecahkan identitas Santa.
Saya antusias banget sama event ini. Saya selalu antusias dengan event ini karena menurut saya, event  Secret Santa ini bisa membuat para member lebih saling mengenal.

Nah hari ini adalah waktunya "pamer" riddle yang didapat dari Santa. Saya juga pengen pamer doong.
Inilah hadiah yang saya dapat dari Santa :
  
 
Dan riddlenya:
Dear A.S. Dewi
Roses are red
Violets are blue
I know you well
maybe you do too

Thank you for lending and giving me your precious books
#HailBajajJaboer
Uhm....riddle ini simpel, tapi buat saya sih sulit banget karena sangat umum. Kenapa oh kenapa sudah 2 tahun ini saya dapat riddle yang susah gini ya? X)
Saya gak bisa nebak dari resi-nya karena kado ini dikirim dari alamat Mbak Maria @ Hobby Buku. Dan karena mbak Maria bukan penumpang bajay jabodetabek, jadi dia bisa dicoret dari tersangka Santa.

Kalo disuruh mengingat kepada siapa saja saya pernah minjemin buku, maka jawabannya : buanyak! #gaya X) . 

So...siapakah Santa saya? Nanti deh saya pikirkan. Mungkin saya pake metode tahun lalu aja : nebakin santa-santa orang lain (terutama anggota bajaj jabo) dan yang tersisa itulah Santa saya. Tapi lalu saya melirik jumlah peserta Secret Santa yang 97 orang itu. Dan saya pun mabok X_X.

Ah sudahlah. Sekarang saya mau kembali baca Pulang. Bacaan yang pas untuk menemani mudik saya di liburan akhir tahun ini. Terima kasih untuk bukunya yaaa, Santa. Love it so much :*)

Monday, December 16, 2013

Cast A Harry Potter Spell


Saya nemu survey  di blog Flip That Page ini udah lama sebenarnya. Dan dari sejak itu udah pengen banget ikutan tapi gak sempat mulu (iyaaa...kesannya emang sok sibuk banget kalimat barusan). So...saya mengerjakan survey ini di sela-sela waktu. Jawabannya mungkin ngaco, mungkin kurang akurat. Tapi seenggaknya begitulah pikiran saya saat itu.

Buat saya, survey ini unik dan kreatif sekali. Yuk...ikutan juga. Tapi sebelumnya, inilah jawaban saya :

Reparo
fixes damaged objects

A book that needs some serious fixing. Breaking Dawn oleh Stephanie Meyer
Errgghh...just errgghh...Percayalah, saya bukan twihaters seperti yang sering dikira orang. Tapi saya juga bukan twilover seperti yang dipercaya banyak orang lainnya :)). Saya hanyalah seseorang yang mengakui bahwa Twilight series punya premis yang bagus dengan eksekusi yang parah!
Ide Meyer bikin cerita tentang vampir vegetarian yang jatuh cinta dengan manusia biasa itu keren sebenarnya. Ditambah dengan kepiawaian Meyer mengolah diksi, membuat Twilight punya semua bahan yang dibutuhkan untuk jadi buku keren. Tapi kenapa...oh...kenapa vampir itu mesti dibikin bling-bling? Kenapa jugaa..kegalauan Bella harus dibahas dalam 4 buku padahal 1-2 buku aja cukup? Dan terutama : KENAPA BREAKING DAWN KACRUT BEGITU? Kenapa....kenapa....kenapa????

Lumos
creates a narrow beam of light

A book that deserves more attention. Rate My Love oleh Cassandra & eLa
Buku ini sangat "sepi" di kalangan bookish Indonesia, bahkan di antara para avid reader-nya Gagas sekali pun. Di Goodreads juga sedikit banget yang me-rating. Kenapa ya? Padahal buat saya, novel ini absurd banget lho. Saking absurdnya ampe jadi kocak dan gak bosenin untuk dibaca ulang. Oh...kalo boleh masukkin satu judul lagi, itu adalah : Love For Show-nya Andy Eriawan

Nox
counters the effects of Lumos

An overhyped book. Mahogany Hills oleh Tia Widiana.
Fansnya banyak, rating goodreadsnya juga tinggi. Walau pun ide cerita standar, tapi penulisannya rapi banget. Sayang aja plotnya kurang kena di saya.

 Accio
summons an object from a significant distance

A book you’re anticipating. Eleanor & Park jilid 2!!!  Eh...gak ada ya? X)
Harry Potter 8 gimana? Hapah...gak ada juga? Eng...Seraphina 2 deh. Ini sebenarnya jawaban mentok sih.

Alohomora
opens unlocked doors, unless bewitched

A book you want to be more open about. Buku motivasi termasuk buku-buku sup ayam itu.
Sebenarnya saya pengen banget bisa suka sama buku motivasi. Semoga juga buku-buku itu bisa memotivasi saya untuk menjadi lebih baik. Sayangnya, sejauh ini harapan itu belum terwujud.

Expecto Patronum
conjures an incarnation of positive feelings

A book that made you happy or crying but in a good kind of cry. Aduh bingung. Banyak sebenarnya. Tapi ehm...PS I Love You dari Cecilia Ahern. Alasannya personal, tapi sewaktu membacanya, saya ngerasa bisa nyambung ke buku tersebut. Rasanya "lega" abis baca.

Morsmordre
conjures the Dark Mark

A book you wish to mark as one of your favorites. Banyak sih sebenarnya. Tapi untuk saat ini, saya pilih Amy and Roger's Epic Detour oleh Morgan Matson.
Saya selalu pengen ngelakuin roadtrip bersama teman dekat saya seperti Amy dan Roger di buku ini. Ah...cita-cita yang belum kesampaian. #MenatapHampaKeKejauhan #LaluTerciumSemilirBauAmis
#MakanyaJanganBerkontemplasiDiPasarIkanWi #Aeh #HestekAbuser

Petrificus Totalus
petrifies victim

A book you wish to keep forever. Chronicles of Narnia : The Lion, The Witch and The Magical Wardrobe by CS Lewis
Dari dulu, sekarang, dan mungkin selamanya, saya selalu kepengen seperti Pevensie bersaudara yang bisa menemukan dunia ajaib di belakang sebuah lemari. Makanya saya selalu sayang sama buku ini. Karena para Pevensie itu seperti perwujudan mimpi saya :")

Protego
shield charm

An intimidating book you keep putting off. The Book Thief oleh Markus Zusak.
Iya..saya tahu kalo saya melewatkan satu buku yang bagus buanget dengan menunda membaca buku ini. Tapi...buku ini dipuja oleh semua bookish yang saya tahu. Sejauh ini, saya belum ketemu bookish yang bilang buku ini jelek. Dan saya jadi takut kalo nantinya buku ini gak bisa memenuhi ekspektasi saya (._.)

Riddikulus
used against a boggart

A book with a deceiving synopsis. Semua buku-buku terbitan GagasMedia sebenarnya. Tapi karena harus menunjuk satu, maka saya pilih : Infinitely Yours dari Orizuka.
Buku itu punya blurb yang berkesan oh-sungguh-galau, ternyata isinya mah boro-boro bikin galau. Yang ada malah bikin bete.

Lacarnum Inflamarae
shoots fireballs

A book you wish to burn out of your mind completely. Sepotong Kata Maaf oleh Yunisa KD
Saya. Gak. Sanggup. Selesaiin. Baca. Terlalu banyak keabsurdan yang gak penting di buku itu (eh emang ada absurd yang penting? Entahlah).

Wingardium Leviosa
levitates objects

A book you wish to reread. Pride and Prejudice oleh Jane Austen.
Pengeeenn banget bisa re-read buku ini dan jatuh cinta lagi sama Mr. Darcy. Sayangnya mood saya belum ngumpul untuk baca ulang buku ini.
Oh satu lagi, pengen bisa reread Les Miserables-nya Victor Hugo. Entahlah kapan keinginan ini bakal terwujud.

Avada Kedavra
causes instant death

Worst book EVER. Heart oleh Ninit Yunita
Terlalu banyak kekacrutan di buku itu ampe saya gagal nemu sisi positifnya biar cuma 1. Memory & Destiny aja masih lebih mending kalo dibandingkan sama Heart.


Stupefy
puts victim in unconscious state

A book with a chapter you couldn’t seem to get over. Harry Potter & Deathly Hallow oleh JK Rowling.
Bab 33 tentu saja. Do I need to say more?

Confundo
causes befuddlement or forgetfulness

A book that generally confused you. Palo Alto oleh James Franco.
Gak jelas banget ini buku arahnya kenapa dan dari mana. Yah...bacanya juga karena penasaran dengan kehebohannya sih, akhirnya malah nyesal sendiri. Oh well...harga sebuah kepo (._.). But anyway James Franco, dikau ganteng dan berbakat di dunia film. But for the sake of all that's holy, please...stick in that world. You're not fit in this world. Or at least, not yet.

Crucio
inflicts unbearable pain

A book that was a pain to read. Nothing Left To Lose oleh Kirsty Moseley.
It was just a big sigh. Dan yang paling nyakitin adalah karena sebenarnya saya pengen banget bisa suka sama buku ini. I hate to say that I don't like this book.

Episkey
heals relatively minor injuries

A feel good book that you enjoyed. Eleanor & Park oleh Rainbow Rowell.
Jatuh cinta sama karakter Park dan Eleanor serta gaya penulisan Rowell yang lembut.

Expelliarmus
temporarily disarms an opponent

A book with a swoon-worthy character. Aduuh...gak boleh jawab Park lagi ya? Pride & Prejudice juga gak boleh? Ehm...kalo gitu The Hunger Games oleh Suzanne Collins.
Peeta! Dengan beta male seperti Peeta, saya gak butuh alpha male setengil Christian Grey *jauh amat bandinginya, wi*

Impedimenta
impedes target’s progress

A book that kept you up all night reading. Aduh...apa ya? o_O7 Sepertinya sudah lama saya gak ketemu buku yang bikin saya begadang. Terakhir yang saya ingat malah fanfiction yang berjudul Our Yellow House #nahlho. Ehm...yang teringat sekarang sih Wonder-nya RJ Palacio.

Silencio
immediate silencing

A book that left you speechless after you read it. The Boy In A Stripped Pyjamas oleh John Boyne.
KENAPA??? Kenapa harus begitu endingnyaaaa? Saya sukses bengong dan terpana setelah menutup buku ini.

Legilimens
allows you to delve into someone’s mind

A book with developed characters. To Kill A Mockingbird oleh Harper Lee.
Atticus Finch itu salah satu karakter terbaik yang pernah diciptakan di dunia fiksi. What a great character you built there, Ms. Lee.

Levicorpus
a spell that turns you upside down

A book that changed your mind about a character from its prequel. Ehm...yang ini kok susah ya? Pengen jawab THG, tapi sudah di atas. Okeh...pilihan saya jatuh ke...My Stupid Boss 4 oleh chaos@work. Dari yang awalnya sebel dan enek sama Boss, di buku ini ditunjukkan sisi lain beliau yang bikin saya ngerti kenapa penulis betah kerja sama beliau.

Obliviate
used to hide memories

A book with a story you can’t remember. Carrier Of The Mark oleh Leigh Fallon.
Ceritanya gak berkesan banget dah. Yang terkesan dari buku ini cuma keriaan antara penulis dan reviewernya aja.

Peskipiksi Pesternomi
useless spell

A boring book that had absolutely no effect on you. Sebenarnya banyak, tapi yang terlintas saat ini tuh Mencoba Sukses oleh Adhitya Mulya.
Level boringnya setaraf maicih level 35. Dahsyat...boringya. X)

Reducto
breaks through solid objects

A book that convinced you to reconsider a certain genre. Out of My Mind oleh Shanon M Draper.
Sebenarnya saya lebih dulu membaca Wonder, tapi Out of My Mind ini yang bikin saya jadi demen banget sama genre sick lit.

Rictusempra
tickling spell

A book that made you laugh. Saya bukan tipe orang yang suka baca buku lucu sih, tapi Buku Ajar Koas Racun oleh Andreas Kurniawan sukses bikin saya senyum-senyum senang.

Sectusempra
offensive spell that violently wounds the target

A book that may have scarred you for life. The Claiming of Sleeping Beauty oleh A.N. Roquelaure.
Saya baca buku ini karena ditantang seseorang (melirik ke seseorang tersebut) dan sukses dibikin eneg. Fifty Shades Of Grey sih cemeeen dibanding ini. Bahkan buku Nicholas si kambing "dua" pun level jijaynya masih kalah sama buku ini. Hih...masih merinding kalo ingat.

Tarantallegra
makes you dance uncontrollably

A series finale that made you feel giddy. Aduh...again...jawaban sebenarnya udah ada di atas. Well...Chronicles of Ancient Darkness : Ghost Hunter oleh Michelle Paver. Dulu nggak sabar banget nungguin buku ini terbit. Penasaran level dewa sama endingnya.

Bombarda Maxima
causes an explosion that breaks through obstacles

A book that made you explode with the feels. Harusnya Boy In Stripped Pyjamas masuk sini ya. Tapi karena gak bisa, maka saya pilih Second Chance Summer dari Morgan Matson. Ah...saya kangen Ayah sehabis membaca buku itu.
Oh...sama Room-nya Emma Donoghue (pokoknya buku ini harus masuk survey). Room sukses bikin saya tegang, sesak napas, dan lega setelah kelar baca.

Finite Incantatem
nullifies other spells

A book you thought you’d dislike, but ended up loving. Harry Potter & Sorcerer Stone oleh JK Rowling.
Hahaha....ya maap. Soalnya pertama ketemu Harry Potter, saya belum tahu akan nama besarnya, jadi saya hanya menilai dari cover. Dan cover Harry Potter ini gak menarik sama sekali buat saya.

Yak...itulah jawaban saya. Seru dan kreatif kan kuisionernya.
Gimana dengan jawaban kamu? Ikutan yuk. Kasi tau jawaban kamu di komen. Ato lebih baik lagi, bikin post serupa di blog dan tinggalkan linknya di komen ya biar kita bisa saling berkunjung.