Saturday, March 21, 2015

It's A Party! BBI's Turning 4!

HUT-BBI

Hallo.....! Selamat memasuki 1/3 akhir bulan Maret.

Dengan semakin dekatnya akhir Maret, berarti semakin dekat pula kita pada tanggal 13April yang merupakan hari jadi BBI yang ke-4. Yeaaayyyy.... *tebar confetti"

Untuk menyambut HUT BBI,  Divisi Event BBI yang kreatif mengadakan proyek Around the Genres in 30 Days. Proyek ini mengajak netizen, pencinta buku, dan pembaca aktif untuk menelusuri lebih jauh tentang tiga genre besar (Science-Fiction & Fantasy, Children & Young Adult’s Lit, dan Romance) yang telah dikenal luas. Saya tergabung dalam tim Children & Young Adult’s Literature, jadi mulai dari postingan ini dan ke depannya, postingan di Through Tinted Glass akan berhubbungan dengan literatur anak & remaja. Nggak cuma di sini aja tentunya, karena masih ada sederet blog buku yang bisa kamu pantengin di bulan April nanti. Here they are:

  1. Faraziyya's Bookshelves (https://blogbukufaraziyya.wordpress.com/)
  2. Orinthia’s Bookshelf (http://orinthiaandbooks.blogspot.com)
  3. Books to Share (http://perpuskecil.wordpress.com)
  4. Carpe Noctem (http://sleepy-bookworm.blogspot.com)
  5. Delina Books (http://delinabook.wordpress.com)
  6. Lensa Buku (http://lensabuku.com)
  7. My Little Library (http://atriadanbuku.blogspot.com)
  8. Kuroneko Book Club (http://kuronekobookclub.blogspot.com)
  9. Ngidam Buku (http://ngidambuku.blogspot.com)
  10. Bacaan B.Zee (http://bacaanbzee.wordpress.com)
  11. Book-admirer (http://book-admirer.com)
  12. Ketimbun Buku (http://mata-p3ni.blogspot.com)
  13. My Book Corner (http://justaveragereader.blogspot.com)
  14. Teritori Dongeng (http://pecandudongeng.blogspot.com/)



Apa yang akan dilakukan grup Children & Young Adult Literature di acara ini? 13 Days Reading Children & Young Adults Literature jawabannya.

Yap! Kami menantang kamu untuk ikutan baca buku-buku bersegmen anak & remaja selama 1 s.d 13 April mendatang. So, masih ada waktu untuk ngumpulin daftar bacaan kamu! Tenang, akan ada rewardnya dong :-)

Kalo kalian ikutan Reading Challenge, kalian akan dapat poin lebih untuk masuk undian pemenang GA Hop 1-13 April mendatang. Dan buat yang ngga ikutan Reading Challenge pun kami sudah siapkan hadiahnya. Stay tune!
Psstt...bocoran: Akan ada voucher belanja nominal 300k & 200k untuk 2 pemenang dan 2 paket buku untuk 2 pemenang. Selain itu, akan ada surprise lainnya jadi pastikan untuk beredar di blog ini dan blog-blog yang saya sebutkan diatas ;-)


Children & Young Adult’s Literature Talks Blog Tour

Kamis (2/4):
Jum’at (3/4):
  • Ngidam Buku : Feature: Detektif Cilik dan Remaja Mancanegara dalam Literatur Anak (CL)
Sabtu (4/4):
Minggu (5/4):


Senin (6/4):


Selasa (7/4):

  • Lensa Buku : Feature: Antara Bacaan Anak dan Bimbingan Orangtua (CL)

Rabu (8/4):


Kamis (9/4):

  • Bacaan B. Zee : Feature: Let’s Talk About Children’s Classic (CL)

Jum’at (10/4):


Sabtu (11/4):

  • Book Admirer : Feature: Anak-anak Berkebutuhan Khusus dalam Literatur Anak (CL)

Minggu (12/4):


Senin (13/4):



Sunday, March 08, 2015

Stolen Songbird

Judul Asli : Stolen Songbird
Judul Terjemahan : Negeri Troll Yang Hilang
Penulis : Danielle L Jensen
Penerbit : Fantasious
Tahun Terbit : 2014
Bahasa : Indonesia
ISBN13: 9786020900049
Format: Paperback
Status : Owned. Hadiah dari Maryana.
Rating : 3 out of 5 stars

Cécile de Troyes mengira masa depannya ada di panggung-panggung megah di Trianon. Ia yakin kariernya sebagai penyanyi bersuara merdu akan cemerlang begitu ia meninggalkan Goshawk’s Hollow.
Namun, secara tak terduga dia diculik dan dibawa ke sebuah negeri yang selama ini hanya pernah didengarnya dari dongeng lama. Ke sebuah kota yang terkubur di bawah reruntuhan gunung, kota yang dipenuhi oleh makhluk troll.

Karena sebuah ramalan, kaum troll mengira Cécile bisa menjadi kunci melenyapkan kutukan penyihir Anushka yang melingkupi Kota Trollus selama lima abad. Kutukan yang membuat mereka tak mampu keluar dari kungkungan Gunung Terlupakan. Kutukan yang membuatnya terikat dengan pangeran troll angkuh bernama Tristan. Mau tahu bunyi ramalannya? Nih :

Mata biru dan rambut merah
Kunci dari gairah.
Suara bak malaikat dan tekad kukuh
Dan penyihir gelap akan bersimpuh.
Kematian mengikat dan ikatan mematahkan
Mentari dan rembulan bersatu demi keselamatan.
Pangeran kegelapan, putri terang,
Ikatan membawa ajal penyihir menjelang.
Tarikan napas pertama mereka,
Kala pertama sang penyihir terjerumus nestapa.
Persatukan dua nama dalam syair
Dan kutukan pun berakhir

Awalnya, Cecile pikir hidupnya lebih baik berakhir, sampai ketika ia mulai menyadari rahasia-rahasia terselubung yang ada di kota itu. Ia sadar, jika ia melibatkan diri lebih jauh dengan segala intrik kaum troll, semua tak akan pernah sama lagi. Namun, terkadang, harus ada yang melakukan hal yang tak terbayangkan.

Mampukah Cécile bertahan dan menguak rahasia negeri troll? Kau pikir kau sudah tahu tentang kaum troll? Tunggu sampai kau menyelesaikan petualangan ini

"Kupikir sudah menjadi sifat kita untuk memercayai bahwa hal buruk selalu memiliki rupa yang buruk. Keindahan seharusnya bagus dan baik, dan mendapati hal yang sebaliknya terasa seperti pengkhianatan kepercayaan. Pelanggaran atas hukum alam."
-Tristan-

Uhhmm...sebenarnya sekarang ini saya paling ogah me-review buku dari serial yang belum tamat. Karena itu artinya saya nge-review sebelum tahu kelanjutan ceritanya. Buat saya, ini seperti nge-review buku yang belum kelar dibaca, soalnya saya memandang sebuah serial sebagai satu kesatuan.

Banyak serial yang menjanjikan di buku pertama tapi kacrut di buku terakhir (Twilight, Divergent & Delirium misalnya), ato bagus di awal dan lebih bagus lagi di buku terakhir (too many to choose, try Harry Potter & LOTR), kacrut di awal tapi bagus di akhir (kata teman saya sih Fifty Shades of Grey termasuk kategori ini. Yah secara saya belum baca buku 2 dan 3-nya FSOG jadi saya manut aja deh) ato yang paling parah : kacrut di awal dan lebih kacrut lagi di akhir (contohnya Tr...ah sudahlah). Pada kasus seperti Divergent dan Delirium, karena ending-nya yang nyebelin, saya ampe nurunin rating di buku pertamanya.

Makanya saya kapok deh nge-review dan rating buku pertama doang. Tapi berhubung tahun ini saya punya niat mulia untuk me-review semua buku yang saya baca, so...here's my brief review (pembukanya aja udah panjang, gimana mungkin review-nya bisa singkat XD)
"Aku berharap kita bertemu dalam situasi yang berbeda, di suatu tempat yang sangat jauh, tempat tak ada sihir, politik, dan muslihat. Di mana segala hal di antara kita bisa jadi berbeda. Aku berharap aku adalah orang lain. Tapi aku adalah apa dan siapa diriku, dan semua harapan di dunia ini takkan mengubahnya."
-Tristan-
- Plot :
Gak ada yang baru sih dari segi plot. Tentang dua orang dari golongan berseteru yang terpaksa dipersatukan. A commoner with a noble. Dua orang yang tadinya berantem mulu eh malah jadi cinta. Jadi seperti Romeo & Juliet digabung Cinderella digabung Pride & Prejudice ditambah action begitu lah.

- World building :
Plotnya emang gak baru. Yang baru di sini adalah troll sebagai tokoh utama. Interesting.
Gegara Frozen, image terkuat saya tentang Troll adalah makhluk unyu seperti di gambar. Bahkan troll versi Harry Potter dan LOTR gak bisa merusak image saya akan troll imut versi Frozen. Jadinya, sepanjang baca buku ini saya konsisten membayangkan para Troll sebagai gumpalan batu menggemaskan -__-

Yah...kesalahan saya sih.
Penulis sudah menggambarkan troll versinya dengan terperinci kok (apes aja ketemu pembaca dengan imajinasi cekak kayak saya). Jensen juga sudah menjelaskan kenapa ada troll yang penampilan fisiknya seram dan kenapa ada yang ganteng macam Tristan. Jadi sebenarnya Jensen sudah lumayan teliti membangun dunianya.

Yang kurang dari world building Jensen itu penjelasan tentang setting tempatnya. Setelah ngepoin blog Jensen, saya paham kalo buku ini termasuk high (low menurut saya) fantasy dengan lokasi fiksi. Tapi sekilas, buku ini tampak bersetting di Perancis ato Eropa sekitar tahun 1700an lah.

Jensen juga kurang jelas menggambarkan setting Trollus. Minimal saya butuh peta supaya bisa membayangkan tata letak dan suasana Trollus dengan paripurna (saya udah bilang kan kalo daya imajinasi saya minim?)

- Karakter :


"Dan akankah kau melupakanku? Akankah kenangan tentang gadis manusia yang pernah kaunikahi dan kaucintai memudar sampai seolah dia hanyalah mimpi buruk?"
-Cecile-

Sebagai tokoh utama, Cecile lumayan kok. Minimal dia bukan tipe yang menye-menye doang. Cecile juga (kayaknya) tangguh. Belum keliatan di buku 1 sih, tapi ada potensi untuk itu. Cuma yaa..kepo-nya itu lho. Kenapa siiihhh cewek-cewek di novel semacam ini tuh mesti banget jadi orang kepo? Seperti Bella yang kepo dengan identitas Edward, di sini juga Cecile kepo dengan intrik politik di Trollus. Gak bisa ya duduk-duduk manis aja? :|

Untuk Tristan : saya belum liat pesonanya.
Iya...saya ngerti kenapa banyak pembaca yang suka sama dia. Protektifnya Tristan ke Cecile emang bikin meleleh.
Tapi..yah...galaunya Tristan juga berasa euy :)) (walo saya ngerti sih alasan dia segalau itu). Oh satu lagi, Tristan itu troll yang tertutup. Jadi Cecile (dan pembaca) kebanyakan disuruh menebak sendiri isi hati Tristan. It's kinda tiring for me. Secara umum, buat saya sih karakter Tristan kurang kuat. Mudah-mudahan dia bisa lebih berkembang di buku selanjutnya.

Yang lebih mencuri perhatian saya justru karakter pendukungnya seperti Anais (trol wanita yang naksir Tristan), Marc (sepupu sekaligus asisten Tristan) serta Vincent dan Victoria (troll kembar pencair suasana). Saya malah lebih penasaran kelanjutan nasib 4 troll ini dibandingkan nasib Tristan-Cecile di buku ke-2.

Tokoh antagonisnya sejauh ini ada 2 : Angouleme (perdana menteri yang mengincar tahta) dan Thibault (bapaknya Tristan). Angouleme gak kerasa jahatnya sih, seakan cuma jadi karakter pemanis aja. Beda dengan Thibault.

- Kualitas Terjemahan :
GOOD! No complain about this.

- What Makes This Series Promising :
Interaksi para tokoh : salah satu yang bikin betah baca novel ini ya perdebatan Cecile vs Tristan dan tingkah si kembar troll Vincent dan Victoria. Kalo Jensen konsisten menghadirkan suasana kayak gini sepanjang trilogi, minimal buku ini ngebetahin lah.

"Sebuah ruang-antara di tengah bayang-bayang dan cahaya. Makhluk seperti kami selalu mampu bergerak antardunia atau ke mana pun kami mau.
Seribu empat ratus tahun yang lalu, leluhurku tiba di tempat ini dan jatuh cinta dengan emasnya. Di ruang-antara itu terdapat dua kerajaan. Paman buyutku adalah Raja Musim Panas. Dia adalah Ratu Musim Dingin."
-Tristan-

Terus beberapa teka-teki yang disisakan seperti apakah sosok asli troll? Menurut Tristan, troll sebenarnya bukanlah troll. Manusia yang menyebut begitu dan mereka membiarkan saja. Kata Tristan, troll adalah versi terkutuk dari kaum aslinya. Saya pribadi sih menebak kalo Tristan aslinya peri/fairy. Menarik untuk diliat bener ato gak.

Juga...ada satu adegan yang bikin saya penasaran. Waktu Tristan dan Cecile lagi berduaan dan Cecile merasa ada angin dingin berbau es berhembus lalu dia mendengar bisikan misterius yang memperingatkan Tristan. Mengingat cerita Tristan tentang ratu musim dingin di dunia asalnya, mungkinkah Tristan sebenarnya sudah berinteraksi dengan kaum aslinya?
Atau...
suara misterius itu adalah Anushka, penyihir yang mengutuk kaum troll 5 abad lalu?

Fufufu...entahlah mana yang benar. Yang pasti, tampaknya Tristan masih menyimpan beberapa misteri.

Satu lagi : Anushka!
Bisa hidup selama 5 abad, pastilah dia bukan penyihir biasa. Saya cuma berharap sih, dia ternyata bukan anggota keluarga ato leluhurnya Cecile.
Yang pasti, ada alasan kenapa ramalan itu mengacu ke Cecile. Rasanya aneh kalo manusia biasa ujug-ujug diramalkan sebagai si pematah kutukan. Jadi saya rasa sih Cecile gak se-biasa itu.

Eh satu lagi deng: Momen terkuburnya Trollus.
Soal ini sepertinya akan dibahas lebih lanjut. Yang pasti, sejarah jatuhnya Trollus tampaknya gak sesimpel ada-penyihir-sakti-yang-mengutuk-Trollus-karena-muak-dengan-kekejaman-troll. Ada sesuatu yang lebih dalam sepertinya.

Tentu saja, semua di atas itu cuma tebakan sotoy aja. Saya sih berharap semua dugaan dan tebakan saya salah. Semoga Daniele Jensen bisa menyajikan twist yang lebih menarik dan gak terduga.

- What's The "Eugh" From This Book :
Aura Twilight!
Jadi gini, sepanjang ngebaca Stolen Songbird, saya dapat aura yang sama dengan Twilight.
Samanya di mana? Di bagian Cecile yang ngotot mau tetap bersama Tristan. Padahal Tristan udah berkali-kali bilang kalo Cecile lebih baik hidup tanpa dia.
Ya ampuuunnn....ini kan mirip banget ya dengan Bella yang tetap ngotot sama Edward? Iyyaa...miriiiipp banget.

"Aku mencintaimu, Tristan. Aku ingin di sini bersamamu."
"Seharusnya kualihkan perhatian para pengawalmu dan membiarkan Chris membawamu." "Dia menyukaimu - sudah sejak lama, kurasa. Dia akan menjadi suami yang baik. Kau bisa tinggal di pertanian dengan ladang-ladang gandum keemasan dam memiliki bayi-bayi berambut keemasan."

Satu lagi yang mirip : adanya tokoh Christophe (Jacob Black ala Stolen Songbird)
Sama kayak Jacob Black, Christophe juga teman Cecile yang udah lamaaaa naksir Cecile.
Daaaannn...Tristan juga mendorong supaya Cecile jadiannya sama Christophe aja (walo pun dia pedih melepas cecile #haish) karena Cecile akan lebih aman bersama Christophe!
Astaga dragooonnn, self sacrifice-nya Tristan itu bahkan  mirip dengan Edward.

- What I Hope Won't Be There :
Galaunya Cecile 

Satu hal yang bikin saya jenuh baca novel kategori YA dari genre apa pun dengan tokoh 2 pria dan 1 wanita adalah cinta segitiga,
Jangan salah, saya oke-oke aja sama plot cinta segitiga. What's the romance story without the love rival anyway?

Tapi kalo harus baca 1-2 buku yang isinya kebimbangan tokoh utama memilih di antara 2 cowok yang sama-sama keren, lovable dan layak dipilih yaaa....saya males!
Udah banyak banget YA yang kayak gini : Twilight (pionirnya ini sih!), Summers trilogy-nya Jenny Han, Delirium series-nya Lauren Oliver, bahkan cewek se-bad ass Katniss di Hunger Game aja masih galau soal ini.

Kejadiannya tuh lebih kurang : buku 1 pembaca diperkenalkan ke tiga tokohnya, lalu di buku 2 pembaca (maksudnya saya) disiksa baca kegalauan si cewek, membuat dunia fandom terpecah antara tim si cowok 1 ato tim cowok 2 (tim Peeta dan tim Gale anyone?), dan baru di buku ke-3 kegalauan si cewek berakhir. Pfffttt....boseeennn banget sama plot kayak gitu.
Pliiisss yaaaa Daniele Jensen, lebih kreatif lagi bikin konfliknya. I have hopes in you!

- Rating :
Sebenarnya kalo cuma melihat ide yang biasa aja, saya pengen kasi 2 bintang. Tapi...saya suka terjemahannya, suka covernya dan suka endingnya yang bikin penasaran itu.
Saya juga penasaran sama misteri/twist yang masih disimpan Jensen. Sejujurnya, saya menantikan banget buku keduanya. Jadi saya kasih 3 bintang deh.
Dan itu adalah rating tertinggi yang bisa saya kasih untuk buku pertama dari sebuah serial yang belum selesai saya baca.

Sunday, March 01, 2015

The Missing Piece Meets The Big O :Nasib Si Jomblo Versi Silverstein

Judul : The Missing Piece Meets The Big O
Penulis : Shel Silverstein
Penerbit : HarperCollins
Tahun Terbit : 2006
Format : Hardcover
Bahasa : Inggris
Status : Owned. Birthday gift.
Rating : 5 out of 5 stars

Saya bilang di awal aja ya kalo review ini bakal rada spoiler. Jadi silakan kalo mau baca ato nonton dulu videonya di Youtube. Silakan nyari sendiri videonya karena saya gak merasa perlu menambah dosa dengan menyebar versi bajakan youtube-nya di review ini.

Seperti buku Silverstein yang lain, buku ini menyentuh dalam kesederhanaannya. Artwork di buku-buku Silverstein emang selalu simpel dan bersih. Tapi cerita dan pesannya tak pernah sesimpel itu.

Missing Piece Meets The Big O pada dasarnya menceritakan tentang suatu kaum yang telah lama ada. Kaum yang sering jadi bahan candaan, celaan dan galauan #tsah. Yaitu kaum jomblo.


Bermula dari sepotong missing-piece yang merasa dirinya bagian dari sebuah lingkaran. Karena bentuknya yang segitiga seperti potongan kue itu, dia gak bisa menggelinding dengan bebas dan merasa dirinya gak lengkap. Makanya dia pengen nyari lingkaran yang merupakan bagian dari dirinya. Supaya dia ngerasa utuh dan gak jomblo lagi.


Tapi ini bukan perkara gampang, sodara-sodara!
Dia bertemu beberapa lingkaran-gak-utuh, tapi ukurannya gak pas. Ada yang cuma nerima dia sebentar, terus ditinggalin di pinggir jalan. Ada lagi lingkaran yang punya terlalu banyak missing piece. Ada juga beberapa lingkaran-tak-utuh yang sibuk mencari potongannya di tempat jauh sampe gak ngeh dengan keberadaan dia.

Bukannya si missing-piece ini gak berusaha meningkatkan pasarannya lho yaa.
Dia sudah berusaha kok menghias dirinya dengan bunga-bunga ato berdiri di bawah neon terang biar keliatan. Tapi apa daya, tetap aja keberadaannya bagaikan remah rempeyek di kaleng bekas biskuit khong guan : terlupakan dan gak penting.

Untunglah, pada akhirnya missing-piece ketemu pasangan yang cocok!!!
Apakah cerita selesai dan tokoh kita hidup bahagia selamanya? Ternyata kebahagiaannya cuma sementara. Karena mereka lalu gak cocok dan musti berpisah. Yaahh :(


Hingga akhirnya missing-piece bertemu Big O yang merasa dirinya utuh dan bahagia. Big O-lah yang mengajarkan kepada missing-piece bahwa dia gak mesti bersama yang lain untuk merasa utuh. Caranya? Baca aja deh sendiri. Biar saya gak terlalu spoiler.

Sebenarnya saya udah lama banget baca buku ini. Tapi baru tergerak mereview setelah baca postingan Cepi Sabre yang berjudul Jalan Tengah Jomblo Ala Jokowi. Di artikel tersebut, Cepi membahas tentang keputusan yang dibuat pak Presiden yang akan membuatnya berakhir menjomblo. Pertanyaannya, tipe jomblo yang manakah beliau?

Lah...emang jomblo ada tipenya?
Ternyata di dunia maya (ato setidaknya dunia maya versi Cepi Sabre) berkembang 2 teori jomblo yang sangat bertolak belakang.

Teori pertama dari Mbah Nyutz dalam tulisan yang berjudul Falsafah Erotisme : Akar Penyebab Jomblo Berkesinambungan. Dalam tulisannya, Mbah Nyutz berteori bahwa jomblo kronis berawal dari paham erotisme ala mak Erot yaitu paham melebih-lebihkan sesuatu. Paham ini melahirkan eskapisme (lari dari kenyataan). Dalam konteks kejombloan, itu berarti orang berusaha melupakan tetapi tidak berikhtiar menyelesaikan problem kesendirian.

Teori jomblo kedua berasal dari Harri Gieb yang menganggap jomblo adalah laku tauhid. Harri Gieb berpendapat layaknya tauhid, menjomblo adalah proses mencari tanpa maksud untuk mencapai hasil yang pasti selain kembali kepada Yang Esa. Proses mencari bagi seorang jomblo bukanlah proses untuk ‘mengetahui’ kemudian ‘mendapatkan’. Ia adalah proses untuk ‘menyadari’ kemudian ‘menjadi’.

Seperti halnya Jokowi, tokoh utama kita : si missing-piece, jelas tak termasuk kedua golongan ini. Dia sudah berikhtiar supaya gak sendiri. Dan walo pun usahanya gagal, minimal dia tak mencari justifikasi atas status jomblonya.
Missing-piece juga tidak pernah menganggap kejombloannya sebagai jalan tauhid. Bagi missing-piece, proses pencariannya bermula karena dia 'mengetahui' dia gak lengkap, dan karenanya berharap dia akan 'mendapatkan' pelengkap. Sampe akhir pun, missing-piece tidak berpikir bahwa dia ditakdirkan 'menjadi' jomblo.

Maka Cepi Sabre datang dengan solusi untuk menjadikan jomblo sebagai jalan tengah.
Bedanya, Jokowi menjadikan jomblo sebagai jalan tengah ketika menyadari bahwa dirinya tidak bisa memuaskan semua orang. Missing-piece justru mengambil jomblo sebagai jalan tengah karena sadar bahwa tak ada (ato setidaknya belum ada) pihak yang bisa memuaskan dia (wait...ini alasan yang berbeda kan? XD)

Well...apapun alasannnya, menjomblo sebagai jalan tengah sesungguhnya hanyalah penegasan takdir eksistensi kita yang pada hakikatnya tidak bisa memuaskan semua orang dan belum tentu juga bisa dipuaskan oleh seseorang (nah lho!). So we just gotta do all we can and let others judge whether it's up to their standar or not.
Take it or leave it! And fuck if they leave it! :))

Masih menurut Cepi Sabre, walau tidak menjadi tujuan tapi menjomblo sebagai jalan tengah toh masih bisa membuat kita berjalan dengan kepala tegak. Paling-paling cuma Penyair Chairil Anwar dari kuburnya di Karet Bivak yang akan meneriaki kita:
“Mampus kau dikoyak-koyak sepi!” 

Sebuah pendapat yang cuma bisa saya setujui setengah awalnya saja.
Karena sepi tidak selalu harus hadir saat jomblo/sendiri. Buktinya Once yang mantan vokalis Dewa 19 itu bisa bilang di keramaian dia masih merasa sepi.
Dan pastinya, kesendirian tidak selalu melahirkan sepi. Minimal Shel Silverstein telah membuktikan hal ini dengan ending kisah The Missing Piece Meet The Big O.

Moral of the book: A healthy and lasting relationship consists of two whole individuals


Diikutkan dalam #ReviewMaret @momo_DM @danissyamra @ridoarbain di https://bianglalakata.wordpress.com/2015/03/03/reviewmaret-ayo-me-review-buku-fiksi/ 

Sunday, February 15, 2015

The Atlantis Gene

Judul : The Atlantis Gene (Gen manusia Atlantis)
Pengarang: A.G Riddle
Penerjemah : Ahmad Alkadri
Editor : Merry Riansyah
Pemeriksa Aksara : Abduraafi Adrian
Cetakan: Pertama, Januari 2015
Penerbit: Fantasious    
Rating : 3 out of 5 stars



Terkadang, saya pengen banget bisa time travel, apalagi abis baca buku ini. Saya pengen ketemu Plato, pengen nanya apa sih yang ada di pikiran dia waktu nulis tentang Atlantis. Dan pengen tahu, apakah Plato dulu mengira bahwa tulisannya tentang Atlantis menjadi inspirasi ribuan cerita bahkan jutaan tahun kemudian.

A.G. Riddle juga salah satu dari ribuan orang yang terinspirasi legenda Atlantis. Gak ada mitos baru tentang Atlantis yang ditambahkan Riddle. Dia cukup setia pada penjabaran Plato tentang Atlantis, yaitu sebuah tanah di mana penduduknya mempunyai teknologi yang sudah begitu maju. Bahkan lokasi Atlantis di buku ini pun disesuaikan dengan versi Plato.

Namun Riddle menambahkan Immari dalam bukunya.
Immari adalah suatu organisasi besar, yang telah berkembang selama ratusan tahun. Immari sudah lama berusaha mencari letak Atlantis dan menyibak misteri di dalamnya. Immari juga sedang mengembangkan gen Atlantis, yaitu suatu gen yang membuat manusia menjadi secerdas dan sekuat Atlantis. Tapi yang membuat Immari berbahaya adalah Protokol Toba yang sedang direncanakan oleh mereka. Protokol Toba adalah usaha pembersihan manusia secara massal, yang meniru efek dari ledakan Gunung Toba ribuan tahun lalu.
Kenapa Immari sampe merencanakan Protokol Toba? Ah...itu termasuk spoiler yang gak bakal saya buka. Silakan  baca sendiri.
"Ini saranku, orang-orang baik akan memintamu masuk van. Orang - orang jahat menutup kepalamu dengan plastik hitam dan melemparmu ke dalam. Aku meminta."
-David Vale-
Buku ini juga memperkenalkan kita pada David Vale dan Katherine Warner.
David Vale adalah mantan anggota CIA yang sekarang menjadi kepala Menara Jam cabang Jakarta. Hayo...bingung Menara Jam itu apa? Singkatnya sih Menara Jam itu organisasi intelijen yang tugasnya membantu memerangi teroris. David terseret melawan Immari karena Menara Jam sedang dihancurkan oleh Immari. Dan cabang Jakarta termasuk target utama, membuat David juga jadi incaran. Yang awalnya tidak diketahui David, pergerakannya sudah lama diawasi Immari. Kenapa Immari menghancurkan Menara Jam dan mengincar David?
Ah...itu harus anda baca sendiri. Hehehe.... ^_^

Lalu ada Kate Warner, seorang dokter yang bertugas di Jakarta dalam penelitian anak autisme. Kate berusaha menemukan obat untuk menyembuhkan autisme. Penelitiannya tampak berhasil karena dua anak percobaannya menunjukkan kemajuan signifikan. Tapi sebelum Kate sempat meneliti lebih jauh, kedua anak tersebut diculik.

Dalam usaha mencari dan membebaskan kedua anak tersebut, Kate berkenalan dengan David. Berdua, mereka berusaha menyibak segala misteri yang disembunyikan Immari. Misteri yang membawa mereka ke Die Glocke (lonceng legendaris milik Nazi) bahkan sampai asal muasal flu Spanyol.
"Agama adalah upaya putus asa leluhur kita guna memahami dunia kita dan masa lalu. Kita hidup dalam kegelapan, dikelilingi oleh misteri... Agama juga memberi kita sesuatu yang lebih : norma kehidupan, cetak biru mengenai yang benar dan salah..."
-Qian-
Untuk sukses membaca buku ini, kuncinya cuma satu : SABAR! Beneran deh.
Riddle membangun dunia yang sangat kompleks dengan konspirasi yang begitu berlapis, sehingga untuk menemukan konflik utama buku ini yaa...pembaca emang harus sabar. 
Tapi tenang aja. Anda gak sendiri kok, karena Anda ditemani oleh Kate dan David yang juga sama clueless-nya di awal cerita. Untunglah Kate dan David adalah karakter utama yang mudah disukai. Seenggaknya ampe akhir buku, saya gak ilfil sih sama mereka berdua dan cukup penasaran pengen tahu gimana mereka bisa lolos dari gempuran-gempuran Immari. Hal ini jadi salah satu faktor yang bikin saya bisa cepat menamatkan buku ini.

Novel ini juga memiliki pace yang cepat. Sedikit sekali adegan yang sia-sia. Kebanyakan adegan yang terjadi akan berhubungan dengan peristiwa-peristiwa setelahnya. Yaaa...hal ini bisa dianggap keuntungan sekaligus kerugian buku ini sih.

Keuntungannya Anda gak cepat bosan. Di awal buku aja nih, settingnya udah di Antartika. Lalu bab berikutnya udah di Jakarta, terus ke Tibet, ntar balik lagi ke Jakarta di bagian yang berbeda. Dan tiap bab itu halamannya sedikiiitt, maksimal 20 halaman deh. Malah ada bab yang cuma 1-2 halaman. Jadi pembaca gak dibikin berlama-lama di satu lokasi. Seru...Rasanya kayak nonton film yang perpindahan settingnya cepat.

Kerugiannya ya karena terlalu cepat itu, apalagi di awal buku.
See...tiap perpindahan lokasi, pembaca diperkenalkan dengan tokoh baru. Belum juga kita bisa "akrab" sama tokoh itu, lah...ceritanya udah berpindah ke tokoh lain. Jadi mesti konsen ke tokoh dan bukannya ke cerita. Untungnya setelah beberapa bab, pembaca mulai kenal dengan tokoh-tokoh utama dan pendukung, jadi mulai bisa melarut dalam cerita dan bukannya bertanya-tanya "duh-ini-siapa-lagi-deh". 
"Perang tak pernah berbeda. Hanya nama-nama mereka yang tewas yang berganti. Selalu hanya mengenai satu hal; kelompok kaya mana yang akan mendapatkan keuntungan. Mereka menyebutnya 'Perang Besar' -- strategi pemasaran yang cerdas."
-Ayah Patrick Pierce-
Sekali lagi, membaca buku ini sensasinya kayak nonton film. Mungkin A.G. Riddle juga menulis buku ini dengan membayangkan versi filmnya ya. 
Karena beliau seringnya lupa mendeskripsikan lokasi dan ciri fisik karakternya dengan detil. Rasanya kok ya dua bagian ini diceritakan samar dan sekilas. Saya kok ya gak ingat warna rambut dan mata Kate dan David. Apalagi ciri fisik tokoh pendukung. Dan saya juga gak kebayang gambaran Gibraltar (yang jadi salah satu setting) dan Die Tibet tuh gimana. Saya ampe perlu googling buat lihat sendiri Gibraltar kayak apa. Maklum aja, saya tipe pembaca visual. Saya perlu punya gambaran jelas tentang lokasi sebelum bisa terhanyut di cerita. 
Nah kalo di film kan, dua hal ini gak perlu diceritain. Penonton bisa lihat sendiri bentuknya kayak apa. Ato mungkin juga sih, karena terlalu banyak yang mau diceritain sama Riddle, jadi dia menganggap deskripsi kayak gini gak perlu.
Yah apapun alasannya, CBS sudah membeli hak film buku ini. Mudah-mudahan filmnya cepat keluar, jadi saya dapat gambaran jelas sesuai imajinasi AG Riddle deh.

Ada satu lagi yang bikin awalnya saya lambat membaca buku ini.
Jadi Atlantis Gene ini kan lokasi awalnya di Jakarta. Dan sebagai orang yang lama tinggal di Jakarta, jidat saya beberapa kali berkerut dong pas baca gambaran Jakarta versi A.G. Riddle.
What? Koran The New York Times bisa dibeli di stasiun Manggarai? Sejak kapan? 
Eh? Kok ada pasar apung di Jakarta? Sebelah mananya? Dan gimana bisa ada kejar-kejaran ampe ngeledakkin mobil antara David dan Immari di jalanan Jakarta? Gak tahu Jakarta semacet apa ya? Boro-boro bisa ledakkin mobil, ledakkin pacar yang ketahuan selingkuh aja susah #udahwi.
Untunglah sebelum protes saya makin panjang, saya disadarkan kalo ini cuma fiksi. Dan penulisnya udah berusaha riset tentang Jakarta. Ya udahlah ya...sebaiknya saya woles aja biar bisa menikmati cerita.
"...setidaknya lakukanlah satu hal untukku: begitu kau mengerti bahwa pertempuran yang kaumasuki bukanlah milikmu, pergilah."
-Ayah Patrick Pierce-
Kelebihan tambahan novel ini adalah terjemahannya yang enak. Novel ini penuh dengan istilah sains dan penjelasannya yang bisa bikin keder. Untunglah penerjemahnya bisa menjabarkan istilah-istilah ini dengan simpel dan jelas sehigga pembaca (maksudnya saya) gak jadi semakin bingung.
Yang sedikit mengganggu adalah banyaknya typo. Saya orang yang jarang cerewetin typo sih sebenarnya, kecuali saya lihat typo-nya masif. Juga banyak pemisahan kata yang salah tempat, misal kata rumah ditulis jadi ru-mah padahal masih di baris yang sama. 
Iya...saya ngerti ini hal teknis, karena format waktu naskah diperiksa dengan setelah dicetak itu berbeda. Juga ada kata-kata yang hilang sepertinya. Misal di halaman 72, ada kalimat "David sisa arsip ke seberang meja..." Eng..maksudnya apa ya?
Kalo novel ini mau dicetak ulang, tolong hal-hal semacam ini diperbaiki ya biar makin nyaman bacanya.
Oh satu lagi, tolong tulisan dari jurnal yang dibaca Kate dicetak dengan font berbeda ato dicetak miring gitu.

Lepas dari segala kekurangannya, menurut saya Atlantis Gene adalah novel yang seru dan page-turner. Alurnya yang cepat dan kemampuan penulis menjaga nuansa tegang dan misterius sampai akhir cerita membuat saya sulit melepaskan novel ini sampe lembar terakhir. Dan setelah baca lembar terakhir, saya malah penasaran baca buku keduanya. Soalnya masih banyak teka teki yang belum terjawab. Juga masih banyak lubang dalam cerita yang semestinya dijelaskan oleh Riddle.
Aduh....Fantasious, kapan buku keduanya diterbitkan? Buruan yaaa. Sekalian buku ketiganya juga. 

Buku ini cocok dibaca sebagai perintang waktu kala menunggu KRL di stasiun yang selalu aja terlambat, ato juga untuk menemani malam minggu kelabu anda #halah. Ditanggung deh, anda bakal lupa hampanya ngejomblo kalo baca buku ini #cukupwicukup.
Tapi jangan dibaca sebagai pengantar tidur untuk anda yang insomnia ya (kayak saya). Soalnya saya sih malah jadi begadang semalaman.

Tiga bintang untuk Atlantis Gene. Yang dua bintangnya saya simpen karena mo liat perkembangan buku kedua dan ketiganya dulu.

“We attack whatever is different, anything we don’t understand, anything that might change our world... Racism, class warfare, sexism, east versus west, north and south, capitalism and communism, democracy and dictatorships, Islam and Christianity, Israel and Palestine, they’re all different faces of the same war: the war for a homogeneous human race, an end to our differences.”
― A.G. Riddle, The Atlantis Gene

Friday, January 30, 2015

Fortunately, The Milk

Judul Buku : Fortunately, The Milk
Penulis : Neil Gaiman
Penerbit : Harper Collins
Tahun Terbit : 2013
ISBN : 9780062224071
Bahasa : Inggris
Format : Paperback
Rating : 5 out of 5 stars

Friedrich Nietzche pernah bilang : di dalam jiwa setiap kita, ada anak kecil yang ingin bermain. Cuma saja, dunia dewasa yang sinis cenderung mengubur si anak kecil itu. Kalo yang dikatakan Nietzche itu benar, maka  Neil Gaiman bisa menjadi contoh dan Fortunately, The Milk adalah pembuktiannya. Mungkin sewaktu menulis buku ini, Gaiman membiarkan sisi anak kecilnya yang menentukan jalan cerita.

Kenapa saya bilang gitu?
Karena berkaca pada dongeng ala adik saya semasa dia kecil.
Jadi orang tua saya itu suka banget 'ndongeng ke ke anak-anaknya. Ke saya & kakak, mereka suka cerita peristiwa sejarah. Ke adik yang cewek: dongeng tentang putri dan pangeran berkuda. Nah...ke si bungsu yang beda.

Si bungsu gak suka dongeng klasik pasaran. Dia lebih suka dongeng karangan sendiri yang lahir dari imajinasi liarnya. Contohnya begini kalo Ayah 'ndongeng ke dia :
Ayah : Di tepi hutan Timur, tinggallah seorang pemburu. Namanya Rambo.
Adik : Yigloglo aja!
Ayah : Bagusan Yigloglo sih. Oke itu aja. Nah suatu hari Yigloglo ini mau ambil air di hut...
Adik : Rumahnya semut!
Ayah : Oke di rumahnya semut. Waktu jalan ke sana, dia ketemu sama tal...
Adik : Siput pake topi kuning!
Ayah : Iya itu. Terus siput pake topi kuningnya sedang lar...
Adik : Main suit sama Nobita! Terus siputnya kalah. Terus Nobita suruh siput pake kaos ungu. Terus siputnya gak mau. Terus Nobita suruh siput makan wortel. Terus...abis itu gimana ceritanya, Pi?

Dan begitulah seterusnya. Bisa puanjang banget ini review kalo mau diceritain lengkap dongeng ala adik saya itu :s. Pokoknya dongeng itu sungguh absurd, gak terduga tapi menghibur. Dan SELALU ditutup dengan adik saya sekali lagi telah menyelamatkan dunia (maklum...adik lagi demen banget sama kartun Powerpuff Girl).

Nah...Fortunately, The Milk itu sama (bahkan lebih) absurd dibanding dongeng ala adik. Dan jauh lebih menghibur juga. Jadi selama baca ini, saya mesem-mesem nostalgia sendiri. Rasanya seperti kembali ketemu adik saya di usia 4-5 tahun.

Seperti layaknya dongeng, premis ceritanya simpel banget.
Tentang seorang ayah yang pergi membeli susu untuk sarapan kedua anaknya. Namun si ayah lamaaaa banget pulang. Siapa sangka, ternyata Ayah mengalami petualangan yang seru. Sepulangnya dari beli susu, sang ayah terhisap UFO, kabur lewat pintu terlarang, terdampar di kapal bajak laut, ditolong Stegosaurus yang naik balon udara, dan akhirnya berpetualang bersama beliau. Petualangan yang melibatkan gunung berapi, vampir hingga misi penyelamatan dunia (Tuh kan...mirip dongeng ala adik saya). Tapi untungnya, di setiap petualangan, Ayah sukses menjaga susu tetap utuh.


Udah gitu doang ceritanya?
Iya...emang gitu doang. Tapi anda akan menemui kejutan di setiap halaman. Dan anda akan larut dalam keseruan cerita sang ayah. Belum lagi ditambah ilustrasi unik dan typografi yang royal menghiasi buku ini, yang memanjakan mata dan imajinasi.


Namun selayaknya kisah yang ditulis anak-anak, Fortunately, The Milk jangan dipikirin terlalu serius. Kalo dipikir serius, mungkin malah jadi keder dan bingung sendiri. Anggap aja seperti sedang didongengkan oleh anak anda. Nikmati imajinasi kanak-kanak ala Gaiman yang liar, penuh kejutan namun jauh dari kacangan.
Dan untuk sejenak, biarkan anak kecil di diri anda bermain bebas.
Lima bintang untuk dongeng 30 menit yang sangat menghibur.

CRACKING THE RIDDLE

Karena ini salah satu buku pemberian santa, maka sekarang saatnya saya memaparkan penjelasan riddle serta menebak identitas santa saya.

Sekadar menyegarkan ingatan, Santa memberi saya kado 2 buku, yaitu Rules (reviewnya di sini) dan buku ini, serta nano block. Riddle dari santa bisa dibaca di post ini.
Nano block-nya udah saya bikin. Boleh pamer dulu yaaa.. :))


Jujur aja, bahkan sebelum kado nyampe, saya udah punya tebakan siapa santa saya. Salah satu alasannya pernah saya cerita di grup Whatsapp BBI Jabodetabek, alasan kedua karena santa pernah komen kalo salah satu wishlist saya ada yang belum terbit. Waktu itu saya mikir : kok dia ngeh padahal saya aja gak ngeh? Antara dia niat beli buku itu juga, ato...yah dia adalah sang santa.

Tapi tentu saja, ini tuduhan yang gak berdasar. Jadi saya nunggu kadonya nyampe walo makin hari feeling saya makin kuat. Ya..maklum aja, profesi kek saya ini emang sering pake feeling. Makanya waktu kuliah dulu dosen saya menganjurkan siswanya untuk rajin ngasah feeling (embuh diasah pake apa).
Lalu kadonya datang.
Kado ini diterima sepulangnya saya dari shift jaga 3x24 jam. Jadi dalam kondisi ngantuk dan tepar bangeett.
Dan pertama melihat riddle, saya mesem sendiri. Dugaan saya sepertinya benar.

Saya kasih lagi gambar riddle-nya ya :


Saat melihat gambarnya,  perhatian saya langsung tertuju ke mahkota. Setahu saya, di BBI hanya ada 3 nama yang berhubungan dengan mahkota. Tapi dari 3 nama itu hanya 1 yang ikutan Secret Santa. Fufufu....
Tapi apa maksud sisa gambarnya? No idea (.__.)
Lalu apa yang saya lakukan berikutnya?
YA TIDURLAAAHH!! :)) Gokil aja ente, udah gak tidur 3 hari malah disuruh mecahin riddle X))

Dan tidur emang istirahat paling mantap. Karena sewaktu bangun, ilham langsung menghampiri saya. Seolah dewa morpheus membisikkan jawabannya di kala saya lelap #aihsedap #padahalteunyambung.

Baiklah...balik ke riddle. Kita lewatkan dulu simbol mirip LIA ato Adidas di bagian atas. Dari awal udah jelas maksud simbolnya.

Lanjut ke gambar kupu-kupu.
Di awal saya berpikir kalo itu adalah siluet ngengat Luna. Lalu ada teman yang ngasi tahu kalo ada kupu-kupu yang bergenus Una. Setelah saya googling, hanya ada 1 kupu-kupu bergenus Una yaitu Una usta habitatnya di India. Emang cocok sih ya dengan profil santa. Dan sebenarnya udah bisa ketebak dari itu doang.

Tapi saya masih ngerasa ada yang kurang.
Saya ampe ngomong gini ke teman : "Kok ya terlalu gak berdasar kalo nebak kupu-kupu itu mewakili genus Una? Terlalu random gitu lho. Padahal ada ribuan kupu-kupu di India. Lagian kenapa harus genus? Kenapa gak famili ato spesies sekalian?"

Yang dijawab sama teman saya : "Ya elo juga liar amat nuduh santa loe itu cuma gegara namanya berhubungan dengan gelar. Itu kan profil mahkota raja Denmark ato raja Spanyol. Siapa tahu mo nunjukkin kalo nama dia ada unsur Denmark ato Spanyol-nya!"
Asem emang dia! Malah nambah teka-teki :))

Jadi saya liat lagi riddle-nya. Dan baru nyadar kalo saya lupa masih ada tulisan yang belum dicari artinya.  Dan baru ngeh juga kalo tulisan di bawah itu dimulai dengan huruf "L". Tadinya saya gak nyadar. X))

Jadi kalo dibaca, tulisannya adalah : L Undetriginta punctus unus. Yang berarti: L 29.1
Hmm...kayaknya tadi ngelihat kode itu deh.
Jadi saya balik ke daftar genus di wikipedia. Dan ah ya benar.... L 29.1 emang kode untuk genus una.

Jadi maksud riddlenya itu :
- Simbol LIA ato Adidas ato apalah itu dibaca : ALL (kalo diliat, itu seperti huruf A, di dalamnya ada huruf L, yang di dalamnya ada huruf L lagi)
- kupu-kupu dan L 29.1 = Una
- mahkota = maharani

Yep...santa saya adalah Alluna Maharani.

Makasi ya untuk kadonya, Lun :)

Tapi saya masih penasaran sama komentar teman saya : "Kok pake siluet mahkota raja Eropa??? Bukan mahkota ala ratu India aja gitu. Ato paling kurang pake siluet crown of India." *ribet sendiri*
Hahahaha....... X))

Sekali lagi, makasi banget kadonya, Luna. Dan iya...aku ngerti kenapa kamu pilih nano block yang Big Ben. Aku sempat mikir itu juga kode untuk membuka identitasmu lho. Tapi terus nyadar, kalo saya ke-gr-an. Muahahaha....

Monday, January 26, 2015

Rules


Judul Buku : Rules
Penulis : Cynthia Lord
Penerbit : Scholastic Inc
Tahun Terbit : 2006
Bahasa : Inggris
ISBN : 9780439443838
Rating : 3.5 out of 5 stars
"When you want to get out of answering something, distract the questioner with another question"(Rules for David)
Gadis dua belas tahun Catherine cuma pengen ngerasain punya keluarga yang 'normal'. Tapi itu hal yang sulit kalo punya adik yang autisme seperti David. Jadinya kehidupan keluarga Catherine berfokus pada David dan kebutuhannya. Kedua orang tuanya sibuk bekerja karena biaya terapi David jelas gak murah. Otomatis, Catherine-lah yang paling sering kena tugas menjaga David.

Catherine sendiri merasa dilematis. Di satu sisi, dia sayang sama David dan selalu marah kalo ada yang meledek adiknya. Di sisi lain, dia sendiri malu terlihat bersama David. Dia malu ikut jadi objek tatapan banyak orang kalo David mulai bertingkah aneh di tempat publik. Untuk membuat David bisa tampak 'normal', Catherine membuatkan sejumlah aturan untuknya.

Libur musim panas adalah sesuatu yang menyebalkan bagi Catherine. Karena itu berarti dia stuck menjaga David hampir seharian. Apalagi karena setiap musim panas, sahabatnya Melissa pergi menengok ayahnya di California. Bikin Catherine jadi sendirian.
"Sometimes people don't answer because they didn't hear you. Other times it's because they don't want to hear you."(Rules for David)
Tapi musim panas kali ini berbeda.
Catherine punya tetangga baru, seorang gadis sebaya bernama Kristi. Dan dia girang banget, secara akhirnya dia bakal punya teman selama liburan. Menurut Catherine, Kristi tipe cewek normal yang keren. Makanya Catherine juga pengen tampoak normal, biar Kristi mau temenan sama dia.

Tapi bukan cuma Kristi yang jadi teman baru Catherine di musim panas ini.
Lewat perkenalan yang gak biasa, Catherine berteman dengan Jason, seorang anak hemiplegi dan tuna wicara di tempat latihan okupasi David. Jason gak bisa bicara, tapi dia punya buku yang berisi kata-kata. Jadi kalo Jason mau ngobrol, dia nunjuk kata per kata. Catherine yang jago gambar dan punya banyak koleksi kata bisa cocok berteman dengan Jason.

Catherine merasa nyaman berteman dengan Jason. Masalahnya, bertemena dengan Jason dan punya adik yang autis seperti David gak masuk dalam kategori normal. Jadi Catherine pun berusaha menyembunyikan Jason dari Kristi dan membuat setumpuk aturan baru untuk David biar dia jadi normal.

Tapi sebenarnya normal itu apa sih? Siapa yang mendefinisikan normal sebenarnya? Dan apakah setiap orang punya standar normal yang sama? Itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang harus dicari jawabannya oleh Catherine.
"Sometimes people laugh when they like you. But sometimes they laugh to hurt you."
(Rules for David)
Sejujurnya, karakter Catherine bisa banget dianggap ngeselin. Abis dia kayak berusaha keras banget untuk normal. Serasa pengen bilang santai-aja-dek ke dia.
Tapi di sisi lain, hey...ini anak 12 tahun yang dalam fase butuh merasa diterima lingkungan. Lagipula...emang saya pernah ada di posisi Catherine?

Nah di sinilah kekuatan Rules : cara bertuturnya yang nyata banget hingga membuat saya mengerti posisi Catherine. Perilaku autistik David dan penuturan Catherine tentang gimana dia merasa kedua orang tuanya lebih mengistimewakan David juga bisa dipahami. Bikin saya percaya kalo hal seperti itu mungkin dirasakan oleh para kakak/adik dari ABK (anak berkebutuhan khusus). Dan jadi ngerti kenapa dia pengen banget ngerasain jadi gadis 'normal'.

Saya juga suka dengan berbagai aturan yang dibikin Catherine. Beberapa aturan sederhana yang selayaknya diketahui anak seumur David seperti : "Chew with your mouth closed" atau "If someone says 'hi', you say 'hi' back" dan (yang jadi inspirasi cover buku) "No toys in the fish tank."
Sisanya aturan yang lebih dalam maknanya seperti beberapa yang saya kutip sedari tadi. Dan aturan-aturan ini bikin saya salut sama Catherine. Melalui serangkaian aturan ini, bisa kerasa gimana sayangnya Catherine ke David.

Satu lagi yang saya sukai : hubungan persahabatan Catherine dan Jason.
Walaupun punya kekurangan fisik, Jason bukan tipe pemurung dan pahit pada dunia. Jason tetap anak yang optimis, periang dan cuek. Makanya Jason cocok banget dipasangkan dengan Catherine yang sensitif. Seandainya ini novel Young Adult dan bukannya middle grade, saya yakin hubungan Catherine dan Jason bakal dikembangkan lebih jauh #soktahunyakumat.

Yang nyebelin di novel ini justru orang tuanya Catherine. Geregetan banget membaca gimana kedua orang tuanya sering lupa kalo Catherine hanyalah anak 12 tahun yang butuh bergaul dengan teman sebayanya, punya dunia sendiri dan kadang-kadang pengen "dianggap" sebagai anak juga. Bukan cuma sebagai kakaknya David.
"Some people think they know who you are, when really they don't."(Rules For David)
Tapi alasan utama yang membuat saya hanya memberi buku ini 3,5 bintang karena saya ngerasa buku ini 'gantung'.
Susah menjelaskan maksud saya tanpa spoiler.
Ehm...gini deh, seluruh isi buku ini berfokus di usaha Catherine untuk tampak normal di mata Kristi termasuk dengan menyembunyikan Jason.
Apa yang terjadi ketika Kristi tahu kenyataannya?
Hal itu disinggung di buku ini, tapi dibahas kurang mendalam. Makanya saya ngerasa nanggung. Coba ditambah 1-2 bab lagi gitu. Kayaknya bakal lebih nendang.

Tapi secara umum, Rules adalah bacaan yang menyenangkan. Mengharukan tanpa jadi menye, cukup dalam tapi toh gak bikin kening berkerut. Dan mengingatkan kita bahwa semua anak selayaknya diperhatikan dengan porsi sama, bahkan walau dibandingkan anak berkebutuhan khusus sekali pun.
What a warm read and nice debut, Ms. Lord.
Makasih untuk Santa saya yang sudah menghadiahkan buku ini ;)