Friday, December 13, 2013

M Is For Magic

Data Buku :
Judul : M Is For Magic
Penulis : Neil Gaiman
Penerbit : Bloomsburry
Bahasa : Inggris
ISBN : 0747595682
Also available at : amazon, book depository

Saya suka baca cerpen, saya suka kisah fantasy yang berhubungan dengan magic. Tapi kalo digabung menjadi kumcer kisah-kisah fantasy, maka saya akan bilang : "Thanks, but no thanks." Saya sudah pernah membaca kumcer fantasi yang berjudul Arassi dan saya kecewa.

See...buat saya, fantasy yang bagus itu tercipta dari alur dan penokohan yang kuat. Tak lupa latar belakang dunia fantasynya pun harus diceritakan dengan akurat. Saya gak suka kalo setting dunia fantasynya cuma diceritakan sekilas saja, membuat saya susah membayangkan dunia rekaan si penulis. Karenanya saya beranggapan cerita pendek bukanlah wadah yang tepat untuk fantasy.

Apalagi saya tipe pembaca yang mesti membangun "mood" sebelum bisa masuk ke dalam satu cerita. Kendala yang sering saya temui di kumcer adalah, saat mood saya sudah terbangun, eh tahu-tahu ceritanya sudah selesai dan berganti cerita lain. Kalo cerita berikutnya bagus sih, mood saya gampang direkonstruksi. Lah...kalo ceritanya jelek? Yang ada saya bete dan si mood pun menghilang selamanya, berakibat tuh kumcer gak selesai dibaca. Makanya sejak dulu saya paling males beli kumcer. Paling pinjem doang dan dibaca semaunya saja.

Tapi....saya ketemu kumcer fantasynya Neil Gaiman di obralan Bras Basah seharga 2 SGD. Gimana oh gimana caranya saya bisa cuekkin bukunya Neil Gaiman? Apalagi harganya cantik banget (._.). Jadi...dengan mengesampingkan antipati saya terhadap kumcer, mari kita bedah isi buku ini.

Kumcer ini dimulai dari Introduction dari Neil Gaiman sendiri. Ada dua kalimat dari beliau yang berkesan banget buat saya, yaitu :
Stories you read when you’re the right age never quite leave you. You may forget who wrote them or what the story was called. Sometimes you’ll forget precisely what happened, but if a story touches you it will stay with you, haunting the places in your mind that you rarely ever visit.
dan
Short stories are tiny windows into other worlds and other minds and other dreams. They are journeys you can make to the far side of the universe and still be back in time for dinner.
Kedua kalimat ini mengembalikan ingatan saya ke masa kecil ketika saya tergila-gila dengan kumpulan dongeng. Dulu itu memang saya suka cerita yang pendek saja karena saya belum kuat membaca lama. Dan ada beberapa dongeng yang terus menempel di benak saya bahkan sampe sekarang. Dan ada 1-2 cerita di kumcer ini yang menarik ingatan saya pada dongeng favorit itu.

Cerita pertama berjudul "The Case of the Four and Twenty Blackbirds" berkisah tentang seorang detektif swasta yang dapat permintaan dari seorang wanita untuk menyelidiki siapa pembunuh kakaknya. What's the catch? Karena yang terbunuh itu ternyata Humpty Dumpty, si telur pecah yang beken di nursery rhymes itu. X)) Saya ampe nyengir lebar waktu tahu si korban yang dimaksud adalah Humpty Dumpty. Gak nyangka aja Gaiman akan nge-twist cerita ini. Soalnya dari dulu juga saya penasaran kenapa Humpty Dumpty bisa meninggal. Tapi saya lebih terpana lagi waktu baca endingnya. Okay...I'll never guess s/he's Humpty Dumpty's killer. Bintang 2 untuk ide Humpty Dumpty.

 Cerita kedua berjudul "Troll Bridge". Cerita ini tentang seorang anak yang bertemu sebuah (?) troll di jembatan. Si troll berniat mengambil kehidupan sang anak, tapi si anak melakukan tawar menawar dengan troll. Dia berjanji akan kembali lagi setelah dewasa. Apakah si anak menepati janjinya? Ah...kamu mesti baca sendiri. Entah kenapa, saya merasa deja vu baca cerita ini. Seperti pernah baca entah di mana gitu. Saya suka endingnya. Bikin saya tertegun dan berasa pengen jadi si anak. #lho. Bintang 3 untuk endingnya.

Cerita ketiga bertitel "Don't Ask Jack", cerita favorit saya di sini. Ide ceritanya simpel banget kok. Cuma tentang sebuah jack in the box yang terlupakan di dasar kotak mainan. Sang jack yang tetap mempengaruhi anak-anak majikannya bahkan setelah mereka dewasa. Udah cuma gitu aja; tanpa dialog sama sekali malah.
Tapi kesan yang tertinggal itu daleeemmmm banget. Kepiawaian Gaiman merangkai kata dan membangun suasana mistis beneran terasa di sini. Karena setelah baca cerpen ini, saya langsung bertekad menyingkirkan jack-in-the-box milik saya.
(oke...saya ngaku. Saya emang takut dengan badut yang berwajah seperti gambar di sebelah. Terlihat menakutkan bukan? Dan apesnya, jack-in-the-box punya saya ya kayak gini) (._.) Empat bintang untuk kesan "gak enak" yang masih terasa bahkan sampai sekarang.

 Cerita selanjutnya adalah "How To Sell The Ponti Bridge" yang berlatar di sebuah klub penjahat. (Well...saya gak bisa menemukan arti yang tepat untuk "rogue club"). Pokoknya rogue club yang dimaksud adalah klub para kriminal elit. Hanya para pelaku kriminal "remarkable" yang bisa masuk ke klub ini. Lalu di suatu hari, para anggota klub ngobrol dan semua berpendapat bahwa untuk masuk ke klub harus melakukan kejahatan yang spektakuler. Kejahatan standar seperti menjual jembatan Ponti sih gak bakal diterima. Pendapat ini ditentang seorang gentleman yang mengisahkan pengalamannya diterima di klub terhormat ini. Lalu bergulirlah salah satu cerita kriminal paling sederhana namun paling cerdas yang bisa dilakukan manusia. Unik.
Cerita ini terinspirasi dari Victor Lustig yang menjual Menara Eiffel dengan cara yang sama. Kalo udah tahu tentang Lustig, maka ide di Ponti Bridge ini tidak terasa baru. Dua bintang untuk gaya bertuturnya yang menarik.

Bab selanjutnya berjudul "October In The Chair", berkisah tentang 12 sosok yang melambangkan ke-12 bulan yang berkumpul di depan api unggun dan masing-masing menceritakan sebuah kisah. Menarik membaca kisah yang diceritakan para bulan tersebut, tapi lebih menarik lagi melihat karakter para bulan yang digambarkan Gaiman. Ada Maret yang ceria, Oktober yang bijaksana, November yang gloomy dan sifat lain yang mewakili cuaca di masing-masing bulan tersebut.
Gaiman sudah bilang kalo cerita ini dia persembahkan untuk Ray Bradburry (sepertinya sebagai balasan untuk salah satu cerpen milik Bradburry), tapi bagi saya kisah ini justru mengingatkan pada beberapa dongeng Grimm. Ya...Grimm suka sekali bikin cerita tentang 12 bulan yang duduk berkumpul di perapian di tengah hutan, contohnya seperti kisah Dobrunka & Empat Musim. Dan saya jadi teringat lagi ucapan Gaiman di bagian Introduction waktu dia bilang cerita yang bagus akan hidup selamanya dalam dirimu. Indeed, Mr Gaiman. :) Empat bintang untuk 12 bulan tersebut.

Berlanjut ke "Chivalry" yang bercerita tentang Mrs. Whitaker yang menemukan holy grail. Iyaa...beneran holy grail si cawan suci itu. Ada seorang ksatria yang berkeras mendapatkan holy grail tersebut dan ngotot membawa benda-benda berharga lainnya ke Mrs Whitaker untuk ditukar dengan sang cawan. Namun Mrs. Whitaker yang sederhana itu berpikir bahwa si holy grail akan tampak bagus sebagai hiasan di gantungan mantelnya. Mrs. Whitaker gak butuh pedang Balmung, Philosopher Stone atau pun telur Phoenix karena gak cocok digantung di gantungan mantel miliknya. Lalu kira-kira apa yang bisa dilakukan sang ksatria agar Mrs. Whitaker setuju melepas holy grail?
Ceritanya ringan aja, tapi saya suka. Penasaran melihat usaha ksatria untuk mendapatkan holy grail dan tertarik melihat barang apa lagi yang akan dia bawa. Saya jadi bertanya juga sih : sepenting itu ya holy grail sampe telur phoenix aja kalah berharga dari holy grail? Wow...
Tiga bintang untuk Mrs. Whitaker yang sederhana.

Cerita selanjutnya adalah The Price, salah satu cerita favorit saya. Tentang sebuah keluarga yang tak segan membuka pintu untuk kucing-kucing telantar yang mampir ke rumah mereka. Suatu hari datang seekor kucing hitam yang terluka parah. Dengan telaten mereka merawat kucing tersebut. Tapi bukannya sembuh, luka si kucing malah makin parah seolah-olah dia berkelahi setiap malam. Demi keselamatan si kucing, maka kucing tersebut dikurung di gudang bawah tanah selama 5 hari.
Namun dalam 5 hari itu, keluarga tersebut mengalami kejadian sial secara beruntun. Setelah si kucing dikeluarkan dari kurungannya, nasib buruk yang menimpa keluarga tersebut pun berhenti. Anehnya...si kucing hitam pun kembali mengalami luka parah. Sang ayah yang penasaran memutuskan memantau kira-kira hewan apa yang dilawan kucing hitam hampir tiap malam. Bisakah kamu menebak apa yang akan dia lihat?
Saya suka cerita ini. Ada perasaan simpati, sayang, sekaligus sedih untuk kucing hitam. Dan saya suka kalimat penutup cerpen ini :
I wonder what we did to deserve the Black Cat. I wonder who sent him. And, selfish and scared, I wonder how much more he has to give.
Terasa biasa memang. Tapi bacalah cerpen ini dan kamu akan mengerti kegalauan sang Ayah. Empat bintang untuk sang kucing hitam.

Cerita berikutnya adalah "How to Talk to Girls at Parties". Eugh....saya paling gak suka sama cerita ini. Ada unsur scifi-nya sih, tapi gak kena buat saya. Bercerita tentang seorang remaja awkward yang dipaksa temannya untuk ikutan pesta. Awalnya dia merasa canggung ngobrol dengan gadis-gadis di pesta tersebut, namun lama-lama mulai merasa relax. Dan saat keadaan mulai terasa sangat nyaman, sang teman datang dan memaksanya pergi karena ternyata para gadis tersebut adalah... baca sendiri aja yaaa X)
Yah...buat saya ceritanya flat aja. Twistnya udah ketebak dari awal. Gaiman mendingan stick ke fantasy aja deh. Gak usah coba-coba buat scifi, soalnya cerpen ini gagal banget. Hey....ternyata ada juga karya Gaiman yang saya gak suka. Satu bintang aja deh ya.

Lanjut ke "Sunbird" yang bercerita tentang klub ahli kuliner. Para ahli kuliner ini bukan sembarang ahli. Mereka sudah pernah makan  semuanya. Dan yang saya maksud beneran semuanya, dari tikus tanah, kutu dan elang sampai ke mammoth, mastodon dan badak Jawa. Salah seorang dari mereka menyarankan untuk mencari Sunbird, si burung legenda. Dan mulailah perjalanan mereka ke Suntown untuk mencari burung tersebut.
Yang bagus dari cerpen ini adalah endingnya itu. Saya ampe terpana bentar dan mikir "Eh...tadi gimana?" waktu sampe di ending (yah sepertinya ini dikarenakan otak saya memang teflon) X). Tiga bintang untuk para ahli kuliner fantastis ini.

Cerita terakhir adalah "The Witch's Headstone" yang merupakan prekuel untuk The Graveyard Book.
Ah...saya males aahh ceritain yang ini #lho. Yah...kalo kamu udah baca Graveyard book, pasti bisa kebayang kalo cerpen ini gak kalah bagusnya. Tiga bintang untuk Bod pokoknya.

Sampai selesai membaca kumcer ini, saya masih bisa bilang kalo saya gak suka kumcer. Tapi toh saya akui kalo saya sangat menikmati membaca M is For Magic. Ada nuansa magis yang terasa dalam setiap cerpen di buku ini yang bisa membawa saya larut ke dalamnya. Juga menarik kembali kenangan saya pada kumcer dongeng favorit sewaktu kecil. Soalnya ada beberapa cerpen di kumcer ini yang punya aura mirip dengan dongeng-dongeng lama.

Untuk hal itu, saya berterima kasih pada M is For Magic milik anda, Mr. Gaiman. Walau pun tetap gak bisa menaruh kumcer di list to-buy saya, tapi saya bersyukur di salah satu liku hidup ini, saya pernah ketemu dengan M is for Magic.
M trully is for Magic, Sir. :)

5 comments :

  1. ah, jadi pengen baca juga...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baca aja, mbaaakk. Aku kemarin nemu ebooknya

      Delete
  2. Mbak dewi ini jarang banget bikin review, tapi sekalinya bikin review selalu sukses bikin saya mupeng >,<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh makasih. Buat saya komen semacam itu adalah pujian tertinggi :">

      Delete
  3. Wah, jd ga sabar pngn baca.. Thanks a lot yaaa :*

    ReplyDelete