Thursday, October 31, 2013

Mahoganny Hills

Judul: Mahogany Hills
Penulis : Tia Widiana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 344 halaman
Diterbitkan pertama kali : 23 Mei 2013
Format : Paperback
Genre : Drama, Contemporer
Bahasa : Indonesia
Order di : GramediaBukukita, Bukabuku
Rating : 1,5 of 5 stars

Jagad Arya dan Paras Ayunda setuju dengan perjodohan ala Siti Nurbaya yang ditentukan kedua orang tua mereka.
Paras setuju karena manut sama orang tua. Sementara Jagad setuju karena kalah argumen dengan ibunya juga karena ingin membuat cemburu Nadia, si mantan kekasih yang meninggalkannya demi pria lain.

Sejak awal pernikahan, Jagad sudah bertekad bersikap sekasar mungkin pada Paras hingga Paras tak tahan dan meminta cerai. Sayangnya Jagad salah perhitungan. Paras rupanya wanita yang tegar. Gak peduli sekasar apapun perlakuan Jagad, Paras selalu sabar dan tetap mengabdi selayaknya istri berbakti. Memasakkan makanan untuk Jagad,  menyiapkan baju yang akan dikenakan, membersihkan rumah; semua itu dilakukan Paras dalam diam (ebentar...kenapa peran Paras beda tipis dengan PRT?)

Friday, October 25, 2013

The Gift Of Nothing

Judul : The Gift Of Nothing
Penulis : Patrick McDonnell
Penerbit : Little Brown Books
Tahun Terbit : 2005
Bahasa : Inggris
Harga : 3 SGD di Bras Basah
Also Available At : Amazon, Barnes & Noble
Rating : 4 of 5 stars

"What could you give to the person who has everything?" adalah premis dasar dari buku ini. Cerita dimulai di suatu hari yang spesial ketika Mooch, si kucing, pengen kasi kado untuk sahabatnya Earl-si anjing. Tapi apa yang bisa dikasi oleh Mooch untuk Earl yang sudah punya semuanya?




Dan karenanya Mooch pun kepikiran untuk ngadoin Earl : "nothing". Masalahnya adalah "Di mana dia bisa menemukan nothing?"
Mulailah dia mencari si "nothing" itu. Frank (majikannya) bilang "there's nothing on tv", tapi buat Mooch selalu ada sesuatu di tv. Istrinya Frank mengeluh gak ada apa-apa di toko, jadi Mooch pergi ke toko tapi ternyata ada banyak barang di toko.

Lalu di mana dan bagaimana Mooch akhirnya bisa ketemu "nothing"? Hehehe...baca sendiri ahh ;).

Di antara tumpukan children books obral di Bras Basah, buku ini langsung menarik perhatian saya karena artwork-nya yang simpel dan bersih. Dengan permainan warna hitam, putih dan merah, tanpa tarikan garis yang ribet serta teks yang singkat, buku ini enak dan gampang banget dibaca oleh anak kecil dan orang dewasa. Kualitas artwork-nya emang gak perlu diragukan secara penulis adalah Patrick McDonnell, yang bikin comic strip Mutts yang beken itu.

Mengenai storyline sendiri, seperti layaknya buku grafis setipe yang (menurut saya) semestinya-buat-anak-anak-tapi-bermakna-dalam, buku ini juga mengandung pesan moral dan sindiran halus. Kinda remind me with Shel Silverstein's books.
Di buku ini, Patrick menyindir betapa kita suka mengeluhkan bahwa kita gak sedang "ngapa-ngapain". Familiar dengan kalimat-kalimat ini :
"Ah gak ada apa-apa di TV. Gak asik nih kita nontonnya."
atau
"Kita gak ngapa-ngapain nih? Gak ke kebunnya Pak Tani buat nyuri timun? Boring ah."
atau yang ini
"Ish...gak asik nih toko. Gak ada apa-apanya!"
Padahal....masa iya sih gak ada? Ada kali ya. Di toko itu ada something kok, begitu pun di TV.
Cuma saja kita sudah punya ekspektasi sendiri akan barang yang bisa kita dapat di toko tersebut atau acara yang mau kita tonton. Dan ketika kita mendapatkan "yang di bawah standar", maka kita pun mencapnya dengan "nothing".
Mungkin, kalo aja kita mau mengecilkan ekspektasi sedikit dan menikmati apa yang ada, then we could find there is actually something in everything. Membaca usaha Mooch mencari "nothing" menyadarkan saya akan hal itu. Ah betapa saya kurang bersyukur pada fakta saya selalu punya "something" untuk dilakukan (atau dikeluhkan, tergantung kondisi) X).

Oya..ada satu adegan menggelitik waktu Mooch udah menemukan "nothing" dan memberikannya ke Earl.

Hehehe....teringat betapa kita suka basa-basi kalo ditanya : "Mau dikasi apa?", lalu dijawab "Ah gak usahlah". So for once, kali ini si Earl beneran dapat nothing X).

This book has a sweet ending. The kind of ending that warmed my heart and made me wanna say "awww".
The kind of ending that made me think : instead of complaining about having nothing to do with my friends, I should have just enjoyed that.
Us, doing nothing and just enjoying each other companion. Isn't that the good way to spend time?

PS 1 : Pas lagi browsing, saya baru tahu ternyata ada yang jualan "nothing". Sayang Mooch gak nemuin barang ini di toko ya :))

 Barang ini dijual di Amazon seharga US$ 5. Ada yang berminat beli?

PS 2 : Tolong itu semua kata "kita" di atas diganti aja dengan "saya"

Friday's Recommendation #7


Hastagah....Friday's Recommendation udah nyampe #24 di blognya Ren, sementara saya baru sukses bikin #7. Malunyaa >.<

Baiklah...tanpa berpanjang kata, inilah buku yang saya rekomendasikan minggu ini :

Eleanor & Park by Rainbow Rowell
Genre : Contemporary Romance, Young Adult
Sinopsis :
Set over the course of one school year in 1986, ELEANOR AND PARK is the story of two star-crossed misfits – smart enough to know that first love almost never lasts, but brave and desperate enough to try. When Eleanor meets Park, you’ll remember your own first love – and just how hard it pulled you under.

Saya sudah baca buku ini, dan seperti buku bagus lainnya, saya belum sanggup bikin reviewnya :'>.
Buku ini berkisah tentang 2 remaja : Eleanor dan Park. Keduanya "misfit", potongan puzzle yang tak cocok dengan lingkungannya. Namun mereka menemukan kecocokan di diri satu sama lain.
Sayang....cinta pertama memang jarang yang berjalan mulus. Begitu jugalah kedua tokoh ini.

Saya emang suka banget dengan novel yang karakternya tuh imperfect. Karakter seperti ini bisa mengajarkan banyak hal pada kita dan melihat suatu hal dari sisi mereka. Semoga ada penerbit yang tertarik menerjemahkan ya.

Mau ikutan Friday's Recommendation juga? Gini caranya :
1. Tulis buku yang ingin kamu rekomendasikan. Kategori buku yang akan direkomendasikan bisa memilih dari kategori di bawah ini :
a. Buku yang ingin diterjemahkan di Indonesia 
b. Buku yang sudah terbit di Indonesia, dan ingin kamu rekomendasikan ke pembaca.
Jangan lupa menulis alasan kamu merekomendasikan buku itu ya.
2. Jika kamu sudah pernah me-review buku yang ingin kamu rekomendasikan itu, taut balikkan ke link reviewmu.
3. Pasang button Friday's Recommendation, jangan lupa di taut balikkan ke blog Ren's Little Corner
4. Masukkan link Friday's Recommendation di blogmu ke linky yang telah disediakan.
5. Jangan lupa untuk blogwalking ke blog - blog lain
6. Waktu meme adalah bi-weekly. Diposting setiap hari Jum'at minggu ke-2 dan ke-4 tiap bulan

Tuesday, October 08, 2013

Buying Monday #3 : Berburu Buku di Bulan September



Ada yang berubah dari meme bulanan Buying Monday yang digagas Aul @ The Black In The Book bulan ini. Meme yang biasanya diterbitkan tiap Senin terakhir di akhir bulan ini dipindah menjadi Senin pertama di bulan berikutnya (ribet gak sih bahasa saya? Kayaknya sih iya).

Biar lebih jelas, sila cek sendiri rules baru yang saya copas dengan restu si empunya blog :
  1. Follow The Black in The Books melalui email atau bloglovin'.
  2. Buat post tentang buku-buku apa saja yang dibeli selama bulan itu, publish setiap hari Senin pertama di bulan berikutnya.
  3. Masukan link post tersebut di linky yang disediakan.
  4. Linky akan dibuka selama 3 minggu, agar bagi yang terlambat, masih bisa mengikuti meme ini.
  5. Bila ada yang memasukan link tentang book haul bulan berikutnya (bukan bulan yang ditentukan), maka link itu akan dihapus dari linky.
  6. Jangan lupa melihat-lihat book haul peserta lain! :D
Anyhoo...tanpa berpanjang kata, saya akan "menggelar" hasil belanjaan di bulan September. Tenaaangg....belanjaan bulan ini lebih sedikit kok. Saya kan gak ikut kalap di obral Carrefour Harapan Indah, shocking sale-nya Gramedia Matraman dan Jakarta  Book Fair. Xixixixi......*ketawa setan kepada teman-teman BBI jabodetabek lainnya*

Oya...berhubung pertanyaan yang paling sering diajukan di postingan Buying Monday adalah : "kapan bacanya?" dan saya juga suka lupa buku mana saja yang belum saya baca >.< , maka saya kasi tanda (*) untuk buku yang sudah saya baca.

So belanjaan bulan ini dimulai dari :


Tumpukan sebelah kiri itu dibeli di Bukumoo Satu Dua Tiga, salah satu online shop favorit saya karena menyediakan buku yang (kadang) susah dicari dengan harga oke.

Thursday, September 19, 2013

I Too Had A Love Story

Data Buku :
Judul : I Too Had A Love Story
Penulis : Ravinder Singh
Penerbit : Penguin Metro Reads
Tahun Terbit : 2012
ISBN : 9780143418764
Bahasa : Inggris
Paperback, 206 pages
Rating : 2 stars out of 5

Selama trip ke India kemarin, ada 2 buku lokal yang paling sering saya lihat penampakannya dan selalu masuk di daftar best seller tiap toko buku yang saya datangi. Buku itu adalah shiva trilogi dari Amis dan dwilogi Love Story dari Ravinder Singh ini.

Awalnya sih saya gak tertarik sama buku ini (abis covernya jelek banget #eaa), tapi setelah berkali-kali ditawarkan di tiap toko yang saya masuki (ampe lapak buku bekas pinggir jalan juga nawarin lho), dan  karena dapat harga diskon (IDR 30K untuk 2 buku) akhirnya iman saya luluh juga #halah.

Baru saat baca buku ini saya ngeh kalo ini  adalah kisah nyata (makanya baca blurb, wi!). Berkisah tentang Ravi (penulis buku ini), seorang pekerja IT yang mapan dan berasal dari keluarga baik-baik. Apa yang kurang dari hidup dia? Apalagi kalo bukan istri. Di India sana (sama kayak di Indonesia sih) adalah perkara besar bila seorang sudah mapan tapi masih single. Masalah Ravi bukan karena standarnya ketinggian (beneran, syarat dia hanyalah calon istrinya harus orang Punjab juga), tapi karena kerjaan yang sibuk gak memungkinkan dia bersosialisasi. Gimana mo dapat pacar kalo kayak gitu?

Seorang sahabat menyarankan Ravi untuk mencoba situs matrimony. Setelah beberapa kali mencoba dan gagal, bertemulah dia dengan Kushi.
Kushi tampak seperti jawaban semua doa Ravi. Dia cantik, berwawasan luas, dari keluarga baik-baik, bisa mengerti kesibukan Ravi, orang Punjab pula. Dan yang paling penting, Kushi bisa nyambung dengan apapun topik pembicaraan Ravi. They really were a match made in heaven.

Perkenalan itu dilanjutkan masa pacaran yang singkat. Ravi dan Kushi mantap untuk menikah, kedua keluarga pun merestui. Lamaran resmi sudah dilakukan, jumlah mahar disetujui, tanggal pernikahan ditetapkan, gedung sudah dipesan, undangan sudah disebar.

Namun sayangnya....semua persiapan itu tak bisa dieksekusi. Kecelakaan yang dialami Kushi membuyarkan semua rencana dan meninggalkan Ravin terpuruk dalam kenangan (bahasa gw sok mellow banget ya? Iya emang). Dan pada akhirnya, kenangan itulah yang menggerakkan Ravin menulis buku ini.
“NOT everyone in this world has the fate to cherish the fullest form of love. Some are born ,just to experience the abbreviation of it.”
Dilihat dari judulnya aja udah ketebak sih ya gimana ending buku ini. Jadi dari sejak awal memang fokus saya bukan gimana ending buku ini, tapi gimana jalan cerita yang terbentuk juga gaya bertutur penulisnya.
Dan tentang kedua hal itu, yah.....#garukpala

Soal jalan ceritanya sih...emang bener yang dibilang kebanyakan reviewer di Goodreads. Membaca interaksi Ravin dan 3 sahabatnya di awal buku rasanya kayak baca buku Five Point Someone ato One Night @ the Call Center -nya Chetan Bhagat. Itu lhoo...cerita tentang 3-4 orang anak teknik (techie) yang bersahabat, yang juga jadi inspirasi untuk film India nan femes 3 Idiots.
Dan setelah fokus cerita berpindah ke hubungan Ravin dan Kushi...yaelaahh....rasanya kayak "baca" film Bollywood banget.

Ravin dan Kushi tuh tipikal pasangan ideal ala film Bollywood deh. Keduanya sukses, dari keluarga yang sederajat dan selama pacaran juga bisa dibilang hubungannya mulus-mulus aja. Kesalahpahaman yang umum timbul pada pasangan LDR? Oho...gak ada di sini.
Belum lagi instalove yang kerasa banget. Saya bukan orang India, jadi saya gak tahu apakah di sana emang umum jatuh cinta sama orang yang cuma dikenal lewat korespondensi selama 3-4 bulan. Dan rasanya gak wajar deh bagi sebuah keluarga untuk menyetujui pilihan putra/putri mereka sebelum ketemu langsung.
Hubungan Ravin dan Kushi yang tanpa konflik ini rasanya seperti utopia buat saya.

But hey....ini kan memoar ya. Kisah nyata hidup seseorang. Dan saya pernah janji gak bakal mempertanyakan kesahihan sebuah memoar, gak peduli seabsurd apapun ceritanya.

Mengenai gaya bahasa....aduhhh....gaya bahasanya mentaah banget. Kayak baca diary remaja yang baru jatuh cinta. Belum lagi penggunaan kata yang repetitif. Entah berapa puluh kali saya baca kalo Kushi itu "beautiful", "stunning" dan Ravin "loves her so much". Juga bahwa Kushi itu "love of his life". Ampe rasanya pengen bilang : "Iyaaa...udah tahu. Loe udah ngomong gitu berkali-kali."
Ato memang buku ini bermula dari diary Ravin yang kemudian dipublish jadi buku? Sangat mungkin sih. Dan somehow saya curiga di versi diary-nya itu penulisan nama Kushi selalu disertai dengan symbol love macam diary ABG alay #ups #nyinyirdetected.
"And I'll tell you what this loneliness feels like, what it feels like to live a life without the person you loved more anyhing in the world :
Recalling something about her, you happen to laugh and in no time, sometimes even as you laugh, you taste your own tears." (page 192)
But hey, I've been in Ravin's shoes once. I do know how it feels to lose someone; and how all your dreams and hopes were gone with that said loved one in a blink of an eye.
So I could understand his mushiness and grievings. Yep I know what some people think about that. To them, it looks like he was exaggerating since he's not the only one who loose his loved one, and none of them as sentimental as he was.
Well actually almost (if not all) people who lost someone the way Ravin did got it as bad as he was.  We need a space and time to pity ourselves. To grieve for what we've lost, the space to vent all our sadness, frustation and longing. That said space also can be used to put down our happy memories about that lost one, so that we can always cherish and reminisce it when the going gets tough. Many people got that space by writing diary or talking to a bestfriend. Apparently Ravin chose to write a book about that and share it to the world.
"The day passes in an effort to laugh and to be happy by any means." "I have learnt to wear a fake smile. It's very difficult, but it makes my family feel that I am getting better." (page 195-196)
Kalo anda penyuka berat novel romance yang mellow, saya rasa anda bisa mencoba baca buku ini. Walo jelas, jangan ngarepin cerita yang "deep" ato "life changing". Nikmati aja sebagai bacaan ringan yang membawa memori hangat cinta remaja (???) dan sedikit menggugah emosi. Yep...buat saya level buku ini emang cuma menggugah, belum sampai mengharu biru apalagi mengaduk-aduk perasaan.

In short, for me "I Too Had A Love Story" isn't a bad book. It's just an okay read for me. Thus came those 2 stars as the rating.

Friday, September 13, 2013

Scene On Three #3


Happy Friday The 13th!

Jumat ini adalah waktunya Scene on Three. Sebelumnya saya postkan dulu ya rules meme ini :
  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).
Di scene on three kali ini, saya pengen memasukkan potongan adegan dari novel Bola-Bola Mimpi (A Little Piece of Ground) karya Elizabeth Laird.
Laird adalah novelis yang (kebanyakan) menulis novel tentang kehidupan anak-anak yang tinggal di negara konflik atau anak jalanan. Yang saya suka dari tulisan Laird adalah para tokohnya yang masih tetap ceria walau pun tinggal di situasi yang berat. Para tokoh dalam novel Laird menyadari hidup mereka berat dan berbeda dengan anak-anak di negara bebas, namun toh mereka tidak kehilangan keriaan dan kepolosan khas anak-anak. I loovvee all her writing (at least the ones that I've read so far) because it's so touching and gave me a lot to think about.

Potongan adegan yang saya sertakan kali ini sebenarnya pernah saya tulis di review saya sebelumnya. Tapi tetap saya post lagi di sini, karena saya baru saja re-read buku ini. Boleh kan? ^_^

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Karim duduk di ujung tempat tidurnya. Kepalanya dikelilingi sekumpulan poster sepak bola yang menempel di dinding. Dahinya mengerut saat membaca selembar kertas di tangan.

Sepuluh hal terbaik yang aku inginkan dalam hidupku, tulisnya, oleh Karim Aboudi, Apartemen Jaffa 15, Ramallah, Palestina.

Di bawahnya, dengan tulisan tangan terbaik, Karim menulis:
1. Pemain sepak bola terbaik di dunia.
2. Keren, populer, ganteng, dengan tinggi minimal 1,90 meter (yang jelas lebih tinggi dari Jamal).
3. Pembebas Palestina dan pahlawan nasional.
4. Pembawa acara televisi dan aktor terkenal (yang penting terkenal).
5. Pencipta game komputer terbaik sepanjang masa.
6. Jadi diri sendiri, bebas melakukan semua yang aku suka tanpa diawasi terus-terusan oleh orangtua, kakak, dan guru-guruku.
7. Penemu formula asam (untuk menghancurkan baja yang digunakan dalam persenjataan, tank, dan helikopter milik Israel).
8. Lebih kuat dari Joni dan teman-temanku yang lain (ini tidak terlalu berlebihan).

Karim berhenti sambil menggigiti ujung bolpoinnya. Dari kejauhan, bunyi sirene ambulans meraung melintasi udara siang. Karim mendongakkan kepala, lalu memandang keluar jendela. Matanya yang besar dan hitam, menatap tajam dari bawah rambut hitam lurus yang membingkai wajahnya yang kurus kecoklatan.

Karim mulai menulis lagi.

9. Hidup. Kalaupun harus tertembak, hanya di bagian-bagian yang bisa disembuhkan, tidak di kepala atau tulang belakang, insya Allah.

10. …


Karim berhenti di nomor sepuluh. Dia memutuskan untuk membiarkannya kosong, siapa tahu ide bagus menclok di kepalanya nanti.

Karim membaca ulang tulisannya sambil duduk dan mengetok-ngetokkan ujung bolpoin ke kerah kemeja wol bergaris-garis, lalu mengambil selembar kertas baru. Kali ini, dengan lebih cepat, dia menulis:

Sepuluh hal yang tidak aku inginkan:
1. Tidak jadi pemilik toko seperti baba.
2. Tidak jadi dokter. Mama terus-terusan maksa aku jadi dokter. Padahal, mama tahu kalau aku benci darah.
3. Tidak pendek.
4. Tidak menikah dengan perempuan seperti Farah.
5. Tidak tertembak di punggung dan duduk di kursi roda seumur hidup seperti salah satu teman sekolahku.
6. Tidak jerawatan seperti Jamal.
7. Tidak dihancur-ratakan (maksudnya rumah kami) oleh tank Israel dan mengungsi ke tenda kumuh.
8. Tidak harus sekolah.
9. Tidak hidup dalam penjajahan. Tidak dicekal terus-terusan oleh tentara Israel. Tidak takut. Tidak terjebak di dalam rumah atau gedung.
10. Tidak mati.

Karim membaca ulang tulisannya. Seperti ada yang kurang. Dia yakin, ada yang terlupakan.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 Tokoh utama di buku ini adalah Karim Aboudi, seorang anak Palestina biasa yang tinggal di Ramallah, yang saat itu sedang dalam pendudukan Israel.

Nantinya, diceritakan tentara Israel memberlakukan jam malam.
Saat diberlakukan jam malam itu, Karim terjebak di dalam sebuah mobil tua yang berada di "a little piece of ground" yang biasa jadi tempat dia bermain bola. Saat dia berusaha melarikan diri dari situ untuk sampai ke rumahnya, dia tertembak. Seperti yang dia harapkan, dia gak tertembak di bagian vital. Dia tertembak di bagian kaki & kakaknya Jamal berhasil membawanya ke rumah sakit. Di bawah ini adalah kutipan lain dari buku yang sama (hal. 264-265)

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Pagi yang luar biasa panjang merangkak pelan. Terkadang, Karim berusaha tidur, tapi tidak pernah berhasil. Dia mencoba membuat permainan baru, merangkai cerita, dan melamun. Saat itu, dia teringat kembali pada daftar yang dibuatnya, pada segala hal yang ingin dia lakukan dalam hidupnya. Kapankah itu, beberapa minggu yang lalu? Tapi rasanya paling sedikit seperti setahun yang lalu. Karim coba mengingat-ingat apa saja yang telah ditulisnya.

Semua itu, pikirnya, semua yang pernah kuimpikan – membebaskan Palestina, menjadi pemain bola, menciptakan game computer, menjadi penemu – semuanya sampah.

Karim ingat, daftar itu belum selesai. Ada satu lagi yang perlu ditambahkan agar bisa lengkap jadi sepuluh. Sekarang dia tahu. Setelah mengalami semua kejadian ini, cuma ada satu hal yang paling dia inginkan.

Menjadi orang biasa, gumam Karim. Hidup sebagai orang biasa di negeri biasa. Di negeri Palestina yang merdeka. Tapi itu nggak bakal berhasil. Mereka nggak bakal memberikan apa yang menjadi hak kami.
________________________________________________________________________________

Dan tidakkah kamu bersyukur, tinggal di Indonesia yang merdeka? Dimana kamu bebas keluar malam, bebas merancang mimpimu setinggi langit dan bebas berpendapat?

Tidakkah kamu bersyukur hidup sebagai orang biasa di negeri biasa?

” Dan nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
(QS Ar-Rahmaan)