Wednesday, May 22, 2013

The Rocker That Savors Me

Data Buku
Judul : The Rocker That Savors Me
Penulis : Terri Anne Browning
Bahasa : Inggris
Format : Kindle, 227 pages
Tahun Terbit : April 2013
Rating : 3.5 out of 5 stars
 Layla…
…has had a hard life. On her own at a young age, always having to do what needed to be done just to survive. Now she has two other people depending on her and she needs a job fast before they get evicted. A job interview introduces her to Jesse Thornton, the delicious drummer for Demon’s Wings. He reminds her of all the mistakes of her past, but is also her hope for the future.

Jesse…
…has never let anyone in. The only real family he has ever had are his band brothers and Emmie—the only women he has ever loved. But then Layla comes into his life and he would do just about anything to get one taste. Can he move past his own insecurities and allow this woman into his heart?

Saya udah pernah cerita di review buku pertama seri ini (The Rocker That Holds Me) kalo saya suka banget sama cerita para rockers ini dan berharap ada lanjutannya. Sepertinya harapan saya nyampe ke penulis buku ini (GR ah kau, wi!) karena beliau menulis lanjutannya. Dan gak main-main, buku kedua ini bercerita tentang Jesse pula, anggota Demon's Wings favorit saya. So dengan semangatnya, langsung dong saya kontak temen saya supaya dia beliin ebooknya. *reviewer kurang modal* X))

Cerita di buku ini merupakan kelanjutan buku pertama.
Di sini dikisahkan Emmie dan ke-4 member Demon's Wings sudah membeli sebuah rumah. Yep, mereka memutuskan untuk settle down dan gak hidup di bus tour lagi. Masalahnya Emmie lagi hamil dan kondisinya gak memungkinkan untuk ngurusin rumah gede, apalagi para rocker itu gak ada yang bisa bantu beresin rumah. Jadi dicarilah seorang house keeper untuk membantu Emmie, dan terpilihlah Layla.

Layla ini punya bad experience di masa lalu yang berhubungan dengan rocker. Pengalaman ini membuat Layla alergi dan berjanji gak bakal mau berhubungan sama rocker lagi.
Tapi kok begitu Layla ketemu Jesse (rocker botak seksi dari Demon's Wings) dia langsung merasa ada ribuan kupu-kupu beterbangan di perutnya ya? Bukan kupu-kupu lagi malah, satu bonbin beterbangan rasanya. Dan gayung bersambut, karena Jesse pun merasakan hal yang sama.

Masalahnya, kenangan buruk dan alergi Layla pada rocker gak segampang itu hilang. So...bisakah Jesse membantu dia untuk mengatasi traumanya?

Saya udah bilang kalo saya excited sama buku ini, dan setelah membacanya...hmm....gimana ya? Ayo kita bahas sisi plusnya dulu yaa.

Pertama, saya suka karena buku ini sedikit lebih panjang dari buku pertama. Seenggaknya karakter Jesse dan Layla bisa lebih dieksplorasi lah. Dan nggak terasa diburu-buru. Lalu setting waktunya pun gak lama setelah ending buku 1. Jadi di buku ini kita bisa baca tentang kelanjutan kisah Emmie & Nik dari buku sebelumnya.  Berhubung saya masih kangen sama 2 tokoh itu, jadi saya senang baca kelanjutan kisah mereka. ^_^

Point plus berikut ada di gaya bercerita yang multiple POV. Narasi gak hanya dari sudut pandang Layla, tapi juga Jesse (kadang ada POV Emmie juga). Bikin saya jadi ngerti dan tahu kalo Jesse beneran menganggap Emmie sebagai adiknya. Gak sekali pun Jesse pernah naksir Emmie dalam kapasitas Emmie sebagai wanita. Nice to be sure about that.

Lalu saya juga suka pada karakterisasi Jesse dan Layla.
Di buku 1 udah digambarkan kalo Jesse itu sexy, protective, caring, sexy (iyaa sengaja diulang 2x). Setelah baca buku ini,saya jadi tahu kalo Jesse itu family man, responsible dan romantis. Apa sih yang kurang dari cowok ini? (Ada 1 sih kekurangannya, yaitu : dia gak ada di hidup saya #halah)
Dan Layla emang pasangan yang tepat buat Jesse, secara dia juga sama protective, caring, dan responsible-nya seperti Jesse. Yaah...saya sih ngerasa karakter Layla agak mirip Emmie. Tapi satu yang saya salut, Layla bisa lho gak ngerasa cemburu sama sekali melihat kedekatan Emmie dan Jesse.

Nah sisi minusnya buat saya ada di insta-love antara Jesse dan Layla. Yang mereka alami itu beneran love at first sight. Baru pertama ketemu udah langsung "lusting" to each other dan berkembang jadi cinta aja. Yeah...konsep insta love itu gak masuk buat ya. Untungnya chemistry antara Jesse dan Layla masih asik diikutin. Dan biar kata instalove, seenggaknya masih believable deh buat saya.

Sisi minus berikutnya adalah perasaan saya bahwa buku ini "in-between".
See...bukan hanya karakter Jesse dan Layla yang ter-eksplor di sini, tapi juga karakter pendukung seperti Lana (adiknya Layla) dan Drake (member Demon's Wings yang lain). Hal ini emang bagus, karena pembaca bisa lebih mengenal karakter lain.
Tapi juga jadi point negatif karena...di antara cerita tentang kehamilan bermasalahnya Emmie, romansa Layla & Drake, serta cuilan kisah tentang traumatic past-nya Drake, membuat romansa tentang Jesse dan Layla sendiri kurang tergali. Masa lalu Jesse kurang dibuka (padahal sama seperti member Demon's Wings yang lain, dia juga punya hantu masa lalu sebenernya) dan pengungkapan masa lalu Layla pun cuma selewat gitu aja. Kurang dramatis, kurang bombastis, jadi berasa nanggung gitu sih.

But overall...saya makin suka sama Jesse dan jadi penasaran banget sama karakter Drake dan kelanjutan kisah dia dan Lana di buku ketiganya. Katanya sih buku ketiga (The Rocker That Needs Me) direncanakan terbit akhir bulan Agustus 2013 ini. Aaarrgh...why August can't come fast enough? :))

PS : So I got this link from Terri Anne Browning herself. She said one of book blogger made an interview with Nik Armstrong to make readers get to know him more. Read it, guys. And be "aaww"-ed by Nik. Here's the link : click here

Friday, May 10, 2013

The Future of Our Past

Data Buku:
Judul : The Future Of Our Past (The Remembrance Trilogy #1)
Penulis : Kahlen Aymes
Penerbit : Telemachus Press
Tahun Terbit : 2012
Bahasa : Inggris
Rating : 2 out of 5 stars

Dari sejak Januari kemarin, progress bacaan saya berkurang sangat dratis *sigh*. Bukan karena saya bosan membaca, tapi karena saya menemukan keasyikan baru yaitu : membaca fanfic; ato lebih tepatnya : membaca fanfic Twilight. Huahahaha..... X)

Berkat hobi baru ini saya jadi tahu kalo ada banyak novel yang berawal dari fanfiction Twilight, bukan hanya Fifty Shades of Grey yang fenomenal itu. Oh iya...saya punya lho Fifty Shades of Grey dalam versi fanficnya #pamer (padahal bukan hal yang bisa dipamerkan juga). Sayangnya, hobi baru ini berakibat pada memprihatikannya progress berbagai reading challenge yang saya ikuti. Praktis gak ada reading challenge yang diupdate sejak bulan Februari 2013 (_ _").

Jadi...demi kemaslahatan umat (apa hubungannya?) dan terutama blog ini, saya pun beralih membaca novel - novel yang diangkat dari fanfiction. Salah satunya tentu saja novel ini. Lalu demi terciptanya review obkejtif yang berimbang dan gemah ripah loh jinawi (pret!), maka dengan kurang-kerjaan dan buang-waktunya saya memutuskan untuk baca cerita ini 2x yaitu dalam versi fanfiction dan versi novel.

Saya kasi sinopsis singkatnya dulu ya :
Julia dan Ryan udah bersahabat sejak awal masuk college. Diam-diam mereka saling suka, tapi gak ada yang mau ngaku. Klasiklah, masing-masing takut kalo ternyata ini cuma cinta sepihak dan akhirnya persahabatan mereka bakal awkward dan berakhir.
Tapi situasi status quo ini harus berakhir saat mereka udah selesai college dan keduanya mesti pindah ke kota yang berbeda demi mengejar impian.
Soon, they're forced to face the undeniable truth of their deeper feelings.
Lalu gimana kesan saya setelah baca 2x? Hmm...saya lebih suka versi fanfiction.
Salah satu keasyikan membaca fanfiction adalah karena para tokohnya familiar bagi pembaca. Saat penulis fanfic menyebut kedua tokohnya bernama Edward & Bella, tanpa perlu bersusah payah pembaca langsung bisa membayangkan karakter fisik Edward dan Bella beserta sifat mereka. Jadi penulis tak perlu berpanjang-panjang membuat karakterisasi. Sepertinya Ms. Aymes lupa pada hal kecil ini dan gak berusaha memberi character description (di luar fisik) yang lebih jelas pada tokoh-tokohnya di novel.

Fanfiction juga memudahkan penulis dalam hal chemistry. Yaa...bayangin aja, kalo penulis pake nama karakter seperti Edward dan Bella dalam ceritanya maka tanpa perlu berpayah-payah membangun romantisme, pembaca bisa membayangkan seberapa besar perasaan yang ada di antara kedua tokoh. Coba kalo nama tokoh diganti jadi Paijo dan Tukiyem, lalu di halaman pertama anda baca si Paijo gundah gulana karena bakal pisah sama Tukiyem tanpa ada latar belakang cerita, jatuhnya anda bakal bete sama Paijo kan?

Begitu jugalah yang terjadi pada novel ini. Saat nama tokohnya masih Edward, saya ngerti galaunya Edward waktu dia tahu bakal pindah ke Boston dan berpisah dengan Bella.
Tapi waktu nama tokoh berganti jadi Ryan, saya gagal paham kenapa Ryan kudu segitu emo-nya berpisah dengan Julia. Dan bukannya kasih adegan yang menunjukkan kuatnya chemistry Ryan dan Julia, penulis malah sibuk nunjukkin gimana Ryan dan Julia tenggelam dalam aura mellow dan depresi karena perpisahan mereka. *sigh*
Mbok ya penulisnya tunjukkin gitu lhooo apa sih point plusnya Julia sampe seorang Ryan (yang digambarkan ganteng buanget, tajir, dan pinter buanget -in short kualitas unggul-) ampe segitu termehek-meheknya sama dia.

Saya pikir ketika cerita bergulir sampe ke bagian Julia dan Ryan akhirnya jadian, bakal ada reaksi kimia baru yang terbentuk. Ternyata enggak doongg. Bukannya menciptakan scene yang cute dan romantic, penulis malah membuat kedua tokoh ini jadi sepasang sex-crazed rabbit yang pake batterai energizer sebagai sumber tenaganya (you know...the "bertahan lebih lama" tagline and "panjang dan lama" tagline *eh itu mah tagline choki-choki). Iya bener, hampir sepanjang adegan antara Ryan dan Julia itu kalo bukan whining soal kangennya, yaa adegan sex mereka. Boseen.

Padahal sementara mereka sibuk humping, saya juga sibuk mencari tahu apa yang bikin kedua orang ini segitu hornynya. Apa mereka menelan magnet yang menarik satu sama lain? IMO seandainya itu adegan dibikin Ryan humping sama Tukiyem dan Julia panjat-panjatan sama Paijo, feelnya bakal sama aja kok : Datar! Gagal banget deh chemistry-nya.
Dan saya pun jadi membandingkan dengan fanficnya (lagi). Again, kalo Edward dan Bella yang digambarkan sibuk humping each other sih saya kalem aja deh. Sedunia juga tahu kalo dua orang itu emang gak punya misi lain kok dalam hidup ini. #PardonMyCynism #I'mStillATwihardbyetheway #SeriouslyIAm #pfftt

Lalu penulisannya itu lhoo...repetitif sekaliii #tepokjidat. Dari narasi kedua tokoh juga saya tahu kalo mereka berdua saling cinta (buanget), haruskah dialog "i-love-you", "i-love-you-more" dan "i-love-you-most' diulang berkali-kali?  It's cute at first, tapi setelah lebih dari 10x baca dialog serupa rasanya jadi pengen teriak : "IYEEE....tauuu! Loe udah bilang tadii!".

Trus dialog lain yang ada di buku ini....ya alakazam...basi bangeeeetttttt. Keju yang udah kadaluwarsa setahun, dijemur di terik matahari Sahara dan direndam di lautan luka dalam pun masih kalah basi daripada dialog di buku ini.
- "Oh, babe, I fucking love you so much, it doesn't seem like I could love you more, but somehow I do every day..." ===> Okeh...ini mungkin sweet awalnya. Tapi setelah diulang 15x, yang ada saya eneg.
- “I love you, do you hear me? I can't breathe without you.” ===> Lalu selama 18 tahun sebelum ketemu dia, situ bernapasnya gimana?
- “You're so damn perfect you shouldn't even exist. Just...look at you.”===> Ini juga kalimat yang paling sering diulang. Dan lucunya, saya masih gagal ngeliat "perfect"nya sang kekasih itu di mana.

Ada satu lagi yang membuat versi fanfic lebih mending daripada novel, yaitu : jumlah halaman.
Jadi gini, kalo baca fanficnya di setengah bagian pertama emang soal happy time Ryan dan Julia saat mereka baru pacaran, jadi nuansanya light dan fluffy. Konflik utama yang (lumayan) seru itu baru muncul di setengah bagian akhir.
Di novel, kedua bagian ini dipisah dan masing-masing dijadikan 1 buku tersendiri. So saat baca buku pertama ini, yang didapat adalah cerita yang sangaaatt ringan dan dangkal tanpa konflik sedikit pun. Emang ngebosenin banget.
Untungnya sang editor cukup pintar dengan meninggalkan cliffhanger di akhir buku ke-1 yang berpotensi membuat pembaca (termasuk saya yang udah baca fanficnya) penasaran untuk lanjut membaca buku ke-2.

With that being said, then yep I'm gonna read the second book.
Di sisi lain, saya jadi mikir jangan-jangan emang baca fanfic itu lebih enak daripada baca novelnya? Jangan-jangan kalo saya baca versi fanficnya Fifty Shades of Grey saya malah bakal suka banget dan kasi 5 stars? Apa saya harus coba baca ya? #mikir

Saturday, May 04, 2013

Rapid Fire Question

Selamat pagi temanku, selamat pagi kawanku, selamat pagi teman-teman semuaaaaaa #apasih

Jadi ceritanya waktu saya lagi bengong cantik nungguin hasil lab klien saya tadi pagi, ujug-ujug sang teman yaitu Putri @ Celoteh Putri Tentang Buku kasih tugas untuk dikerjain. Katanya sih kalo tugasnya gak dikerjain saya dikutuk bakal kehilangan timbunan #InsertEmotAryaWigunaKeselekGunungMerapi.
Ya ampuuunnn....itu hukuman terberat bagi seorang penimbun pencinta buku.

So setelah berkontemplasi mencari jawaban selama 3 jam(TIGA JAM!) tanpa berpanjang-panjag lagi, inilah pertanyaan dari putri :
1. nambah atau ngurangin timbunan?  
2. pinjam atau beli buku? 
3. baca buku atau nonton film? 
4. beli buku online atau offline? (tobuk yg temboknya bisa disentuh) 
5. (penting) buku bajakan atau ori? 
6. gratisan atau diskonan?  
7. beli pre-order atau menanti dgn sabar? 
8. buku asing (terjemahan) atau lokal?  
9. pembatas buku penting atau biasa aja? 
10. bookmark atau bungkus chiki?

dan jawaban saya :

1. Timbunan apa nih maksudnya? Buku? Duit? Patjar? Tjintah? Lemak? Yang jelas dong kalo kasi pertanyaan, put! Cih...baru mengajukan pertanyaan ini aja udah gak jelas, gimana ntar pas mengajukan ijab kabul cobaaaa? #SomethingWrongWithThat #DislepetPutriPakeSabertooth.
- Yaaaa....kalo timbunannya berupa buku sih saya mau nambah. Someone says a guide to a man's heart is through the books #KataSape.
Apa hubungannya kalimat indah tadi dengan keinginan saya nambah timbunan? Gak ada sih! Saya kan cuma pengen keliatan keren aja dengan sok-sok ngasi kutipan gitu. Keren kan saya sekarang? Kan...kan...kan? HUAHAHAHA......#heeggg #KeselekToa
- Kalo timbunannya berupa duit, saya juga mo nambah. Syukur-syukur bisa sebanyak timbunan duitnya Gober Bebek. Nanti kalo duitnya banyak, saya mo kasi naik haji si Emak yang pengen naik haji ituh. Biar ntar muncul buku berjudul Emak Sudah Naik Haji. Doakan tercapai yaa. Amin.
- Kalo timbunannya berupa lemak, aduh...saya gak perlu lagi sih. Ini malah mo nyumbangin. Ada yang mau? Jernih lhoooo. Udah lewat 3x penyaringan. Berguna sebagai obat awet muda, panjang umur, memberi kehangatan serta bahan baku untuk mantra pemanggil Superman. Mau? Kalo pesan banyak bisa korting, Sis. Hari Senin harganya udah naik lhooo. Silakan kakaaaaakkkk. #SudahWiSudah
- Kalo timbunannya itu patjar sih...hmm...saat ini punya satu pun udah sujud syukur deh saya. Kalo banyak-banyak ntar saya pegel deh aww.
- Kalo tjintah...ah tergantung siapa pemberinya, put. Kalo dari David Gandhy sih maunya nambah terus. Syukur-syukur kalo dia buktikan timbunan cintanya dengan buku, Put. #Mureeeee. Tapi kalo pemberinya adalah dia, sang teror pengguncang malam (Darkwing Duck doongg), si penguntai kata  perangkai nada, pembisik rindu di malam kelam (Oooohhh) bernama : ANANG, maka saya mohon..pliiissss banget ini maaahhh : KURANGILAH. Habiskan juga boleh. (Emang si Anang sudi sama loe, wi?)

2. Pinjam ato beli buku ya?
Kalo si empunya buku itu adalah mas ini sih:

saya mau pinjem ajaaa. Tar bacanya sehari 1 halaman, trus dibalikkin. Eh ntar pinjem lagi besoknya. Gitu aja terus biar ada alasan ketemu lagi. Pasti ntar-ntar dia bilang : "Wi, daripada ente bolak balik, sekalian aye kasi dah ntuh buku. Nih hati dan cinta aye sekalian buat ente." Uwuwuwuw indahnyaaa....(-3-) #KeplakGwPlis

Tapi kalo yang punya buku itu adalah mas ini :

Eng saya minta dibeliin aja deh sama Akang Ben Barnes. Makasi lho sebelumnya, Aa RobPatz. #BerlindungManjahDiPelukanBenBarnes #PlisKeplakGwSekarang

3. Baca buku ato nonton film yaaa...
Saya gak terlalu suka nonton film sih sebenernya. Kalo disuruh milih, I'll take books anytime over movies.
Tapi kalo diajak nonton sama ayang ini sih :
Jangankan cuma diajak nonton fi, diajak nikah pun aku mau, kakaakkkk. #KenapaBelumAdaYangKeplakGw?

4. Hmm....tough question. Sebenernya saya senang pergi ke toko buku, baca-bacain blurbnya, membalik-balik halamannya sambil mengendus-endus bau buku baru. Belum lagi kalo bukunya masih di plastik dan saya diizinkan mengupas plastiknya secara perlahan. Ooohh....ada kenikmatan tersendiri yang tak bisa dijabarkan saat melakukan hal-hal tersebut #SoundsCreepy. Tapi...saya lebih senang beli online sih secara online shop pake diskon. Maklum....kite mure :">

5. Ini sih pertanyaan paling gampang! Buku ori dooonnggg. Cinta aja gak mau yang bajakan apalagi buku. #KebalikWoy. Lagian kalo ngaku pencinta buku mah kudu menunjukkan cintanya dengan support ppenulis dan penerbit dong biar buku kesayangan bisa terus eksis. Karena cinta tak cukup hanya diungkapkan di bibir saja, tapi juga di perbuatan. #tsaahh No Piracy! Merdeka! Majulah Indonesia! Booyah! #CukupWiCukup

6. Tergantung gratisannya dari sapa dan atas motif apa sih. Kalo yang ngasi tulus ikhlas dengan semangat gemah ripah loh jinawi sih saya senang aja dapat yang gratis. Tapi kalo niat ngasinya ada udang di balik rempeyek mah enggak deh. Saya gak doyan rempeyek udang soalnya. #lah. Mendingan diskonan aja  kalo gitu mah.

7. Menanti dengan sabar dooonngg. Jangankan cuma menanti buku yang akan terbit, menanti Doraemon balik ke pelukan juga saya sabar.

8. Kalo pilihannya antara buku asing terjemahan ato lokal sih, saya milih buku lokal aja. Entahlah...mungkin karena udah kelamaan gak baca buku terjemahan, tapi  waktu iseng re-read terjemahannya Breaking Dawn, saya ngerasa gak sinkron sama terjemahannya (Situ kate nada pake sinkron segala?), lebih enak dibaca dalam bahasa aslinya. Dan saya juga ngerasa kalo saya lebih ikhlas reread buku biru sakti mandraguna itu daripada reread terjemahan Breaking Dawn.

9. Saya koleksi bookmark; tiap ke toko buku bahkan ke kota/negara lain saya selalu cari-cari bookmark unik khas tempat tersebut buat nambahin koleksi. Tapi saya gak pernah make bookmark itu dalam kegiatan baca saya. So bookmark penting dalam kapasitasnya sebagai koleksi

10. Ya ampuunn Putriii....pertanyaan apa ini? #MukaShockAlaWA
Chiki? Apa itu chiki? Saya yang selalu makan sehat dengan beras organik dan ikan salmon yang kheuseus diternakkan di Himalaya mana mungkin punya bungkus chiki, makanan bervetsin yang gak bergizi, itu. Huh! #BerlaluSongongSambilGeragasChitato #Laahhh

Oke...jawaban seriusnya : neither. Seperti yang saya bilang di nomor 9, saya gak suka pake bookmark. Saya juga anti sama dog-ear. So metode saya dalam menandai halaman baca tuh simpel aja : mengandalkan memori. Alhamdulillah manusia milennium primordial berotak panci kayak saya masih sanggup menghafalkan sampe di mana saya terakhir baca buku. #tsahh #pamerberkualitas

Game ini meminta Putri untuk kasi 5 pertanyaan tambahan. Dan inilah pertanyaan Putri :

11. Puasa makan atau puasa beli buku?  
12. Meminjamkan buku atau dipinjamkan buku?  
13. Badan dan gadget yang kehujanan atau buku yang kehujanan?  
14. Movie adaptation : baca buku duru baru nonton atau nonton dulu baru baca buku?  
15. Cedric Diggory atau Edward Cullen?
 
11. Eng...puasa makan pas bulan Ramadahan kan wajib, Put. (Yaaa itu sih mbah Dinosaurus juga tahuuu). Kalo cuma sebulan sih, saya milih puasa beli buku deh. Toh selalu ada buku Dorland yang bisa dibaca selama puasa. #DorlandkuAndalanku

12. Minjemin buku aja deh. Saya rada males minjem buku dari orang. Takut kumat posesifnya ama tuh buku dan dijadikan hak milik semena-mena. Huahahaha.....Tapi yaaahhh prinsip ini berubah pada sikon tertentu (liat nomor 2 plis)

13. Hah? Gadget macam apa yang kehujanan? Kalo gadgetnya macam tablet ato laptop sih : Tiddddaaakkk.
Gini deh : saya lebih ikhlas saya aja yang kehujanan demi melindungi buku dan gadget.

14. Baca dulu baru nonton laahh. Saya bahkan rela nonton Hunger Games di dvd karena waktu filmnya beredar saya belum baca bukunya. Tapi kalo nih....kalooo...suatu saat madam-penulis-buku-biru sukses memfilmkan bukunya, maka saya mau deehh nonton filmnya tanpa baca buku. Soalnya saya yakin filmnya pasti sama olahraga otaknya dengan buku #oketerus?

15. Cedric Diggory sih sebenernya. Tapi Edward Cullen itu tajir bow. Kalo sama dia bisa dikasi hadiah ultah porsche. Trus...bayangin deh itu porsche dijual trus duitnya dipake buat beli cilok dan buku. Wow...bayangkan saya bisa berenang di lautan cilok sambil baca buku! Salah satu bucket list saya akhirnya bisa terealisasi #ImpianYangAneh. Jadi saya mau Cedric Cullen, anggap aja ada yaaaa? Iya. Makasi sebelumnya

Fyuh......Selesai juga tugas berat ini #HapusKeringatSecaraElegandiPundakBenCum

Sesuai aturan main game ini dimana saya harus men-tag 5 orang blogger lainnya dan meminta mereka menjawab 10 pertanyaandi atas (penjelasan lebih lengkap sila cek blognya Putri yaa), maka dengan ini saya men-tag
1. Peni Astiti @ Ketimbun Buku
2. Daneeollie @ Melihat Kembali
3. Selvi @ Atas Nama Buku
4. Alluna Maharani @ khumeia
5.Fadhila @ Kilas Buku

Dan saya pun harus memberi 5 pertanyaan. Baeklah...pertanyaan saya adalah :
1. Twilight ato Fifty Shades of Grey?
2. Beli buku ato travel ke Raja Ampat?
3. Khusus Game Of Thrones : mending tv seri ato buku?
4. Ron Weasley ato Draco Malfoy?
5. Syahrini ato Ashanty?

Yah yang beruntung ketiban tag di atas, sila menjawab dan men-tag 5 orang lagi. Kalo bisa, link postingan kalian ditaro di komen yaa :D


Wednesday, May 01, 2013

Harry Potter & The Goblet Of Fire

Data Buku :
Judul : Harry Potter & The Goblet Of Fire
Penulis : JK Rowling
Penerbit : Bloomsbury
Tahun Terbit : 2010
Paperback, Signature Edition, 636 pages

 TAHUN ini akan berlangsung Piala Dunia Quidditch. Harry ingin sekali menontonnya, tetapi akankah keluarga Dursley menginzinkannya? Tahun ini Hogwarts juga akan menjadi tuan rumah turnamen sihir yang sudah lebih dari seratus tahun tak pernah diadakan. Tahun ini, Harry yang beranjak remaja, juga mulai naksir cewek. Siapakah cewek beruntung yang kejatuhan cinta penyihir dan Seeker beken ini? 
Tapi tak semua yang dialami Harry peristiwa hura-hura. Karena mendadak bekas luka di keningnya terasa sakit sekali. Dan di langit malam, muncul Tanda Kegelapan, tanda yang menyatakan bangkitnya Lord Voldemort. Dan itu baru permulaan.

Wujud Lord Voldemort akan kembali sempurna bila dia berhasil mendapatkan darah musuh besarnya, Harry Potter. Dan dengan bantuan abdinya yang setia, Lord Voldemort menculik Harry.

Akhirnya, untuk pertama kalinya selama tiga belas tahun. Harry berhadapan langsung dengan musuh besarya. Dan tak terhindarkan lagi, keduanya berduel...


Hmm...what's stand out from this 4th book?

Goblet of Fire memberikan pemahaman lebih dalam tentang dunia sihir, thanks to Quidditch World Cup dan Triwizard Turnament.
Saya jadi paham kalo Voldemort menyebar terornya tidak hanya di Inggris, tapi juga di seluruh dunia sihir (abis dari buku 1-3 kesannya di Inggris doang sih terornya). Dan jadi ngeh kalo ternyata ada sekolah sihir lain toh selain Hogwarts.
Tapi kok cuma ada 3 ya? Seluruh Eropa cuma ada 3 sekolah sihir kah? Lalu gimana dengan Asia? Indonesia?

Mungkinkah sebenernya ada sekolah sihir juga di negara tercintah ini? Dan para ghost house-nya adalah Sundel Bolong, Wewe Gombel, Kuntilanak dan lain-lainnya? Jangan-jangan (juga) Rumah Pondok Indah itu sebenarnya Hogwarts yang disamarkan? Dan hantu Ambulans itu sebenernya thestral versi Indonesia? Lalu paranormal semacam Ki Joko Bodo (eh bener dia paranormal kan ya?) apakah salah satu guru di sekolah sihir itu? O_o Wow...mind blowing #sakarepmulahwi *kayaknya khayalan gw makin ngaco deh*

Trus baca ulang ini bikin saya jadi ngeh dengan Omnioculars (itu lho...teropong buat nonton Quidditch yang bisa nge-zoom-in-zoom-out, bisa replay, bisa nge-slow-motion-in apa yang kita lihat tanpa kita harus ketinggalan satu momen pun). Ini kok teknologinya mirip dengan kamera di Blackberry Z10 ya? wow...berarti Rowling udah mikirn teknologi semacam ini dari 10 tahun yang lalu dong ya. Apa para penggagas Blackberry Z10 itu baca Harry Potterr trus memutuskan untuk nyontek ide JK Rowling ya?
Saya makin kagum sama Rowling, bukunya masih up to date bahkan saat dibaca 13 tahun setelah pertama terbit. Apakah buku ini masih akan tetap up to date bahkan ampe 100  tahun kemudian? Mari kita biarkan sejarah yang mencatatnya.
“Just because it’s taken you three years to notice, Ron, doesn't mean no one else has spotted I'm a girl!”-Hermione Granger-
Goblet of Fire juga menandakan tumbuhnya kuncup asmara (ini bahasa kampring bener) antara Ron dan Hermione. Yeaayy...
Yang tadinya chemistry kedua tokoh ini tersamarkan, di buku ini dilukiskan dengan jelas. Gampang terlihat betapa cemburunya Ron pada Krum dan betapa kekinya Hermione karena Ron telat nyadar kalo dia cewek. #KeplakJidatDobby

Dan di buku ini juga muncul tokoh paling nyebelin sepanjang sejarah Harry Potter. Yep...siapa lagi kalo bukan Rita Skeeter. Ide Rowling pada pena kutip kilat itu dahsyat sekali. Buat yang bercita-cita jadi penulis skenario sinetron, pena itu pastilah jadi impian ya. Enak banget soalnya, bisa bikin cerita dramatis dengan plot paling simpel sekali pun.
“Remember, if the time should come when you have to make a choice between what is right and what is easy, remember what happened to a boy who was good, and kind, and brave, because he strayed across the path of Lord Voldemort. Remember Cedric Diggory.” -Albus Dumbledore-
Yang gak boleh ketinggalan untuk dibahas di Goblet of Fire adalah : Cedric Diggory!
Tenang, saya gak akan bahas soal kehidupan selanjutnya Cedric sebagai Edward Cullen. Sudah terlalu banyak review yang membahas itu.
Yang saya penasaran : kenapa ya Stephanie Meyer dulu setuju karakter Edward Cullen diperankan oleh Rob Pattinson? Tidakkah dia memperkirakan kalo penonton dan pembaca akan membuat korelasi antara Cedric Diggory & Edward Cullen?
Apa pentingnya pertanyaan ini? Gak ada sih, selain fakta saya udah mulai bosen liat meme RobPatz sebagai Cedric & Edward. Tidak cukupkah saya melihat wajah RobPatz hampir tiap hari di ruang kerja saya? Kenapa buka komputer juga harus liat muka dia? Kenapa? Kenapa? Kenapaaaaa? #DisumpelToa

Tapi ada satu hal yang gak saya mengerti dari Goblet of Fire sih. Kenapa ya Moody mesti capek-capet set up supaya Harry menang triwizard dan bisa bawa dia ke Voldemort? Kan portkey bisa membawa Harry kapan pun? Kenapa gak dari pertengahan cerita aja kasi portkey berbentuk gelas ke Harry? Ato apalah gitu yang simpel.

Untuk saya pribadi, Goblet of Fire ini semacam "tonggak" (lebaayyy).
Tonggak perubahan aura di serial ini yang sebelumnya lucu-polos-inosen-gimana-gitu menjadi lebih "dark".
Dan buku ini juga jadi semacam tonggak pribadi saya dalam hal fangirling.

Seperti yang pernah saya ceritain di review buku 1, awalnya saya fangirling sendirian (maklum...anak gak gaul). Lalu buku terjemahan Harry Potter 1 diterbitkan, fans Potter di Indo mulai bermunculan, fans underground yang selama ini gak punya teman pada keluar sarang, dan BOOM!...berkembanglah fandom Harry Potter.
Saya jadi punya banyak teman yang pengetahuannya tentang Potter bikin minder #HeyItsRhyme

Dan dari mereka ini, saya jadi dapat insight menarik tentang SPEW (Society for the Promotion of Elfish Welfare). Ada beberapa pihak yang berpendapat bahwa SPEW dan Hermione adalah sindiran JK Rowling terhadap Middle East dan USA.

Masih ingat dong ya kalo Hermione begitu ngotot memperjuangkan kemerdekaan para house-elf padahal mereka gak minta? Bahkan Harry dan Ron pun gak mendukung usaha Hermione. Nah ini dianggap sama dengan ngototnya USA(George W Bush sebenarnya) untuk ikut campur dalam urusan di Timur Tengah padahal gak ada yang minta dan gak didukung juga. Hermione dan USA gagal mengerti bahwa terkadang pertolongan itu perlu diminta dulu sebelum bisa diberikan.
Lalu salahkah usaha Hermione (dan USA)?

Saya gak mo bahas soal ini lebih jauh aahh(yeee....curang XD). Yang saya mo pertanyakan sih : benarkah JK Rowling emang berniat menyindir USA lewat Hermione dan SPEW?
And is it worth mentioning that US invasion to Iraq had happened in 2003 while this book was first published in 2000? Does Rowling really have an ability to look into the future? #makinngaco Or some people just read too much into this? What do you think? ;)


PS : Iya...sebenernya Middle East dalam post di atas mengacu kepada  Irak (seenggaknya diskusi-diskusi waktu itu membahas Irak). Saya menolak menyebut Irak dan memilih Middle East karena saya gak bisa melupakan fakta bahwa buku ini terbit 3 tahun sebelum invasi US ke Irak ;)

Monday, April 29, 2013

Pada Suatu Senja... (Hotter Potter April Meme)


Nyanyian camar di langit senja menarik perhatian saya yang sedari tadi khusyuk (taelah khusyuk!) memperhatikan candaan ombak. Dengan tatapan iri, saya melirik para camar yang terbang teratur ke ufuk Selatan berlatarbelakang mentari yang beranjak pelan.

Ah betapa irinya saya. Mentari dan para camar itu sudah bisa pulang dengan tenang ke sarang mereka. Saya? Masih saja termangu di pantai ini karena gagal menemukan solusi untuk masalah saya saat ini.

Ya...saya memang ke pantai ini untuk mencari jawab atas sebuah tanya yang bersarang di hati. Tanya yang harus terurai paling lambat akhir bulan ini. Dan seperti biasa, pantai adalah lokasi favorit untuk menyepi, merenung, berkontemplasi sekaligus mencari jodoh #eh.

Ada sesuatu yang magis dari suara debur ombak bercampur dengan kuakan camar yang bisa melesapkan resah. Aroma garam bercampur dengan amisnya ikan dan harumnya pohon kelapa (yakali!) selalu bisa merangsang otak untuk mencari jalan keluar dari setiap masalah yang saya bawa ke sini. Ya pantai memang punya caranya sendiri untuk memberi solusi.

"Kecuali hari ini..."
Sambil menghela napas, saya menatap pasrah para nelayan yang bersiap melaut, pertanda saya harus segera pulang. Secinta apapun pada pantai, saya tak bisa menghabiskan waktu lebih lama di sini. Pertama karena nyamuk Anopheles akan segera keluar saat senja memudar (dan saya lupa bawa Autan). Kedua (dan ini yang paling penting) stok cemilan yang kubawa sudah berkurang drastis (halah).

Saya mengambil sebungkus gorengan (satu-satunya stok cemilan yang tersisa) sebelum menghampiri laut. Saya berniat merendam kaki barang sejenak di bawah siraman mentari senja sambil...makan gorengan (penting abis!). Setelah berjalan hingga air laut mencapai ketinggian selutut, barulah saya sadar kalo ini ide  buruk. Soalnya saya lupa bawa celana panjang cadangan dan lupa keluarin handphone di saku celana. Yaa...air lautnya emang cuma selutut sih, tapi kalo ada ombak menyambar maka dadah deh sama si handphone.

Tengah berpikir sebaiknya kembali ke tepian untuk menyimpan handphone di tas ato memasrahkan aja nasib si gadget tercinta itu kepada takdir #tsah, tiba-tiba saya merasakan dorongan keras dari sebelah kiri. Berhubung refleks saya parah, maka jatoh deh si hp sayang ke laut (ya masak ke kuah soto). "JURIG! Itu handphone gw jatoh!" teriak saya kesal ke arah kiri.

Dari posisi berdiri bisa saya lihat ada kepala berambut cokelat sedang bersembunyi di balik batu karang besar. Jurig-sapapun-itu yang tadi menabrak saya pasti sedang ngumpet di sana setelah sukses menyenggol kaki saya waktu sedang berenang. Dengan dongkol saya menghampiri jurig-sapapun-itu sambil protes : "KOK NGUMPET SIH? Mending loe pikir gimana caranya ganti handphone gw ato gw bersumpah DEMI TU HAAANNN..." *bumi langsung gonjang ganjing, Everest memuntahkan laharnya, Arya Wiguna terjengkang, Zeus tersedak dan Anang terkapar* #KenapaAdaAnangLagi

Tapi teriakan saya terhenti disitu. Saya terpana saat melihat sosok jurig-siapapun-itu. Soalnya...emang dia mirip jurig sih (.___.) . Rambutnya acak-acakan dan yang lebih aneh lagi adalah wajahnya yang seperti perpaduan ikan dan manusia tapi ganteeengggg (nah lho...bingung kan? :p)
Saat jurig-siapapun-itu bergerak ke arah saya, barulah saya nyadar kalo ada sirip ikan besar di bagian bawah tubuhnya. Ternyata dia manusia duyung sodara-sodarah! Iyaa...makhluk setengah manusia setengah duyung itu.

Dan okeh...sekarang gantian saya yang jiper. Saya berusaha lari tapi apa daya,si manusia duyung lebih cepat. Dan dia langsung bersuara semacam "Eeeee..." sambil menunjuk plastik gorengan di tangan saya.
"Eh? Do you want this?' tanya saya sembari mengayunkan bungkus gorengan.

"eeeeeeee....."

Hah? Maksudnya apa sih? "Do you want this?" Dia hanya menatap saya. "Eng...ale mau ini makanankah?" Dan si manusia duyung pun mengangguk gembira. Duile...ternyata dia bisanya bahasa ambon toh.

Tapi berhubung saya males berdebat, saya bagilah gorengan itu (yaa enggak dooongg. Gak mungkin saya kasi semua gorengannya. Ntar saya makan apa? #penting). Berdua kami menikmati sebungkus gorengan sambil memandang sunset hingga gorengannya habis dan matahari sudah tenggelam setengahnya.

"Beta pulang dulu e."

"Eeeeee...." teriaknya masih dalam intonasi yang sama.

"Ale kenapakah? Su mo gelap ini. Beta harus pulang dolo."

"Ee..eee..E!" jawab dia sambil menarik tangan saya. Dengan rada bete, saya pun mengikuti dia. Hingga saya sadar dia menarik saya makin dalam ke arah laut.

"Eh nanti dolo. Ale mo kamanakah ini?" MD (disingkat gitu aja lah ya, panggil manusia duyung kepanjangan) menunjukkan tangannya ke arah matahari tenggelam, lalu menunjuk ke bawah.

"Laut? Ale mo ajak beta ke dalam laut?" MD mengangguk sementara saya terpana.

Dia kembali menarik baju saya dan berkata "Eee..eee.." dengan nada Shakira lagi nyanyi lagu Shamina-mina ee itu.
Eng...waduh kumaha ieu. Saya sih pengen banget ikut ke bawah laut. Bisa ketemu Poseidon, maen sama Flounder & Sebastian temennya Ariel the Mermaid itu, ikut nyanyi bareng para Siren dan bikin pelaut tersesat dan bisa pesta seafood sepuasnya (teteeup yang dipikir makanannya dulu). "Lalu bagaimana beta bisa bernapas dalam air?"

Secara ajaib, MD mengeluarkan segumpal tanaman berwarna hijau yang keliatan seperti ekor tikus bergumpal. Dia menyerahkan tanaman itu ke telapak tangan saya. "Oh....ini mah gillyweed, tanaman yang dipake Harry buat bernapas dalam air," gumam saya.


"Tapi beta bisa pulang kah nanti?" Saya masih ragu nih.

"Ee...yee..yeee...yeyeyeye," jawab MD lagi dengan nada lagu Cantik-nya Kahitna.

Hadoh...apa pula artinya itu? Saya udah nekat aja mo ikut, masalah pulang mah kumaha engke lah. Tapi...saya keingat cerita Urashima Taro. Gimana kalo saya kembali ke darat nanti ternyata waktu udah berlalu ratusan tahun? Artinya saya gak ketemu ibu saya selama itu juga dong. Trus saya juga gak tau siapa presiden pengganti SBY, gak bisa nonton endingnya Doraemon (if ever), gak kelar baca serialnya Game of Thrones, gak bisa menikmati buku kacrut lagi (eh..JNE delivery buku ampe ke bawah laut gak sih?) dan yang paling penting nih : "SAYA GAK TAU DONG KELANJUTAN KISAH ANANG-ASHANTY!" #pentingabis

"Ee-e-e-um-um-a-weh," katanya lagi dengan nada lagu The Lion Sleeps Tonight. Gestur dan ekspresinya memnta saya untuk bergegas.

"Beta seng bisa ikut ale. Tagal beta balom izin dengan beta pung Mama. Nanti angtoa cari Beta wa. Beta seng mau jadi anak durhaka. Nanti beta dikutuk jadi batu saparti Malin Kundang. Wah bahaya tuh. Beta seng bisa lai makan gorengan di pinggir pantai berdua Channing Tatum."(emang pernah?) Saya memberi alasan dengan ekspresi menyesal.

"Wimoweh, wimoweh, wimoweh, wimoweh,"jawabnya. Saya tetap menggelengkan kepala. Akhirnya dia pun melepaskan saya dan berenang ke arah Barat.
Saya menatap kepergiannya dengan rasa penyesalan. Seandainya aja saya ngerti maksud omongan dia tadi. Siapa tahu aja dia kasi tahu kalo saya bisa balik ke darat dan tidak akan berakhir seperti Urashima Taro. Bodoh banget kan jadinya saya karena menolak ajakannya. Tapi ya sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Mending ditambahin ayam dan cakwe aja biar enak (garing ya? iya).

Saya kembali ke pantai dan menatap tumpukan barang-barang yang belum saya beresi. Mata saya tertumbuk pada laptop yang masih menyala sedari tadi. Dan saya pun kembali diingatkan tentang pertanyaan yang membawa saya ke pantai ini.
 
"Hmmm...kayaknya saya udah tahu jawabannya sekarang." Dengan semangat baru, saya hampiri Raffelino (nama laptop saya) dan membuka window baru di browsernya. Saya mengetikkan satu alamat web tertentu dan...AHA! Saya temukan yang saya cari.
Saya pun kembali ke window browser yang pertama dan membaca pertanyaan yang terpampang di blog milik rekan saya Melisa @ Surgabukuku :

"Jika kamu berkesempatan mengunjungi toko buku Flourish and Blotts, buku apa yang akan kamu bawa pulang dari sana? Pilih 1 (satu) buku saja! Jangan lupa sertakan alasannya…"

Saya tersenyum puas. Kini saya tahu jawabannya.
Saya ingin buku ini : "Merpeople: A Comprehensive Guide to Their Language and Customs"


Yang di atas itu adult cover version. Kalo saya naksir yang kids cover version ini deh #yakali

 photo my_home_mermaid_by_edit_zps832eeb88.jpg

Agar ketika bertemu lagi dengan manusia duyung saya bisa berkomunikasi dengan baik. Tadi saya bahkan gak tahu nama dia, gak sopan banget ya. Itu satu kesalahan yang gak boleh saya ulang lagi. Baiklah....fighting untuk belajar bahasa Merpeople mulai sekarang! Booyah!


pic source for :
- sunset
- 1st mermaid, 2nd mermaid

Saturday, April 27, 2013

BBI 2nd Anniversary Giveaway Hop : Winner Announcement


Yay....kemeriahan Giveaway Hop-nya BBI selesai juga. Terima kasih untuk semua yang sudah berpartisipasi.

Tercatat ada 1222 entry yang dimasukkan dalam giveaway di blog ini, sayangnya saya masih mendeteksi kecurangan-kecurangan seperti mengaku follow akun @BBI_2011 padahal enggak, berusaha memasukkan dobel entry dengan cara curangin rafflecopternya, ngaku nge-tweet tentang giveaway padahal enggak.
Aduh....kok gak jujur gitu ya? Padahal kan udah dibilang kalo saya pasti hapus semua entry palsu dan ketahuan curang & 5x langsung didiskualifikasi (oiyaaa...tenang, sebelum hapus entry ato diskualifikasi, saya cek ape 3x kok, termasuk periksa timeline twitter kamu untuk cek apa kamu beneran ngetwit). Jadi memang ada beberapa akun yang didiskualifikasi.
Mudah-mudahan di giveaway berikutnya gak ada kecurangan kayak gini lagi ya.

Lalu pemenangnya adalah....

a Rafflecopter giveaway

 
 Selamat untuk Ma Ziyya yang memilih boxset Lord Of The Rings. Tunggu email/mention dari saya yaa :)

Buat yang lain, terima kasih untuk partisipasinya. Mudah-mudahan saya bisa adain giveaway lagi yaaa :).Stay tune terus di blog ini ;)